Skip to main content

Dayak Laut

Selain Dayak Darat, komunitas pribumi Kalimantan terpenting lainnya adalah Dayak Laut. Berbeda dengan Dayak Darat yang terdiri dari dua rumpun bahasa Melayik dan Bidayuhik, Dayak Laut merupakan kesatuan bahasa, budaya dan asal usul, yakni Melayik Iban atau biasa pula disebut Ibanik.


Etimologi

Kata dayak berasal dari kata daya yang berarti kuat, tahan atau teguh.Kata-kata ini dipergunakan dalam dunia melayu untuk menyebutkan sebagian kaumnya yang teguh mempertahankan budaya lama / langkah lama. Demi mempertahankan tradisinya, mereka rela meninggalkan keramaian, tinggal di hulu-hulu sungai, hutan, pegunungan dengan fasilitas seadanya menghadapi tantangan yang lebih besar. Selain di Kalimantan, kata ini juga digunakan di Sumatera untuk Jelma Daya, yakni komunitas Komering yang pada masa lalu rela migrasi ke hulu untuk mempertahankan tradisi lama ketika Islam berkembang di aliran Komering.

Istilah Dayak pertama kali dipakai di Landak berlawanan dengan Melayu untuk membedakan masyarakat Darat yang mempertahankan tradisi lama dengan masyarakat Laut yang menerima Islam.

Ketika Inggris tiba di Serawak mereka menghadapi fakta adanya dua kelompok non-Melayu, yakni etnis darat yang disebut Bidayuh dan kelompok Dayak Laut. Belakangan ditemukan juga kelompok-kelompok etnis lainnya yang digolongkan Orang Ulu.

Genetika

Penelitian genetika terhadap Dayak Laut menunjukkan bahwa mereka memiliki keturunan yang sama dengan orang Champa, Riau dan Aceh. Ketiga etnis ini dan Dayak Laut merupakan etnis yang memiliki genetika parental dari tiga kelompok y-DNA Asia Tenggaranya, yakni :
  1. Sino – Malayoid. Mewarisi y-DNA Austronesia – Timur Cina Selatan (O1b1) dan Austro-Asiatik/ Mon-Khmer (O1a) serta Cina Utara/Sino Tibetik (O2). Y-DNA Cina Utara (O2) dan Austronesia (O1b1) merupakan y-dna tertinggi yang kadarnya berimbang sementara y-dna Kemarau/Khmer (O1a) menempati urutan keempat. 
  2. Viet Australo-Melanesoid. Mewarisi Viet Australo-Melanesoid (K2a) yang menempati urutan ketiga. 
  3. Veddoid Mongoloid. Mewarisi SEA Mongoloid (C1b2a) di urutan keempat, dan SEA Veddoid (F4) di urutan kelima. 
*Mon Khmer menurut Iban (Kamuja / Kemarau).*

Penelitian autosomal menunjukkan orang Dayak Laut memiliki kedekatan dengan Orang Asli semenanjung dan Orang Laut Andaman.

Bahasa

Orang Dayak Laut menggunakan bahasa Melayik yang paling dekat dengan bahasa Orang Laut dibandingkan bahasa-bahasa Melayik lainnya. Bahasa-bahasa tersebut adalah Iban, Sebaru, Seberuang, Desa, Demam, Bugau, Ketungau, Mualang, Kantu, Kantormai dan Inggar-Inggar. Peneliti bahasa Kalimantan Barat merilis beberapa bahasa tersebut masuk dalam 15 dialek bahasa Melayik Kalimantan Barat bersama dialek-dialek Melayu dan Kanayan.

Persebaran

Kisah tutur menyebutkan bahwa Dayak Laut menyebar dari Tampun Juah di hulu Sungai Sekayam Kabupaten Sanggau Kalimantan Barat menuju empat arah, yakni :
  1. Kelompok Batang Lupar/Iban, dari Sungai Sai ke muara Sungai Ketungau sampai ke Batang Lupar Kapuas Hulu. Mereka mengembara hingga ke Serawak Malaysia dikenali sebagai Iban Kantuk, Undup, Gaat, Saribas, Sebuyau, Sebaruk dan Skrang. 
  2. Kelompok Ketungau, dari Sungai Sai masuk ke Sungai Ketungau dan menetap di sana, dikenali sebagai Ketungau, Bugau, Banyur dan Tabun. 
  3. Kelompok Mualang, dari Sungai Sai masuk ke Sungai Ketungau dan memasuki anak sungai Ketungau yang kemudian diberi nama Sungai Mualang. Dari Mualang kemudian pindah ke Tanah Tabo. Dari Tanah Tabo kemudian menyebar ke Sekadau, Belitang dan Sepauk Sintang. 

Saat ini Dayak Laut tersebar di Indonesia, Serawak dan Brunei. Di Indonesia menempati 7 (tujuh) kabupaten yakni Kapuas Hulu, Bengkayang, Sambas, Sintang, Melawi, Sanggau dan Sekadau. Di Sarawak mereka mendiami daerah dari Lundu di Barat hingga Limbang di Timur Laut dengan daerah terbanyak Kota Samarahan, Sri Aman, Sarikei, Sibu, Kapit, Bintulu dan Miri. Mereka menempati lembah-lembah Sungai Saribas, Sungai Krang, Sungai Batang Lupar dan Sungai Rajang. Kelompok-kelompok Dayak Laut di Serawak :
  1. Sebuyau, mendiami Lundu dan Samarahan. 
  2. Remun, mendiami Serian, dipercaya yang pertama migrasi ke Serawak.
  3. Balau, dari Sri Aman. 
  4. Saribas, dari Betung, Saratuk dan sebagian Sarikei. 
  5. Iban Ulu Ai/Iban Batang Ai, dari Lubuk Antu. 
  6. Iban Undup, dari Undup dialeknya antara Ulu Ai dan Balau.
  7. Iban Bilak Sedik, dari Sungai Rajang, Sibu, Kapit, Belaga, Kanowit, Song, Sarikei, Bintangor, Bintulu dan Miri. Dialeknya sama dengan Ulu Ai.

Kesultanan Terkait Dayak Laut

Orang Dayak Laut menyebut orang Islam sebagai Senganan. Kesultanan-kesultanan Islam wujud terutama dari rumpun Mualang sebagai berikut :
  1. Sintang, didirikan keturunan Putong Kempat yang menikah dengan Aji Melayu. Putong Kempat adalah anak dari Ambun Menurun dan Putong Mengawan.
  2. Sekadau, didirikan Pangeran Engkong, keturunan Mualang Belitang. 
  3. Belitang, didirikan Pangeran Senarong, putra Pangeran Engkong.

Perselisihan

Dayak Laut di Serawak terkenal dengan perselisihannya terhadap Bidayuh, dengan catatan sebagai berikut :
  1. Orang Iban Sungai Saribas menyerang Bidayuh Singai pada tahun 1600 M. Orang Bidayuh bertahan di Gunung Singai sekitar 1 (satu) abad dan baru turun ke kaki gunung setelah diamankan Brooke. 
  2. Orang Iban Sungai Sadong menyerang Bidayuh yang akhirnya bertahan di Gunung Serembu.
  3. Orang Iban menyerang orang Malayu Sarawak di Lidah Tanah yang akhirnya mengungsi ke Gunung Santubong.

Comments

Popular posts from this blog

Marga Sitorus

Marga Sitorus menelurkan orang-orang yang hebat di antaranya Dr. Raja Sutan D.L. Sitorus (pengusaha sekaligus pendiri Partai Peduli Rakyat Nasional) dan H. Khairuddinsyah Sitorus,SE (Bupati Labuhan Batu Utara). Secara etnografis, marga Sitorus merupakan marga Batak. Bagaimana riwayat Marga Sitorus ini?

Marga Pulungan

Pada prinsipnya ada empat marga di tanah Mandailing. Di antara keempat marga tersebut, marga Pulungan merupakan marga yang pertama mendiami tanah Mandailing, disusul Rangkuti, Lubis dan Nasution.Beberapa kelompok marga lain, yakni Batubara dan Rambe datang lebih belakangan.

Marga Rangkuti

Marga Rangkuti termasuk marga Mandailing yang lebih sedikit dibandingkan marga-marga Mandailing lainnya seperti Lubis dan Nasution. Padahal, mereka bersama-sama marga Pulungan lebih dulu satu abad daripada Marga Lubis dan dua abada daripada Marga Nasution.Bersama-sama Marga Pulungan, merekalah pendiri kerajaan pertama di Tanah Mandailing.

Marga Harahap

Marga Harahapmerupakan salah satu dari empat marga terbesar di eks kabupaten Tapanuli Selatan. Ada spekulasi bahwa Siregar adalah murni eksodus Batak, sementara 3 marga besar dan sejumlah marga kecil lainnya berasal dari suku asli, yakni Lubis dari suku Lubu, Harahap dari suku Ulu dan Nasution dari campuran orang-orang pesisir berbahasa Minangkabau dialek pesisir. Sementara pendapat lain, Harahap adalah kula Batak Kasta Ksatria dari Jati CHANDRAWANGSA (Dinasti Bulan) dari gotra BORBOR.  Bagaimana riwayat penyebaran etnografis Marga Harahap?.

Share Like