Skip to main content

Daerah Istimewa Kalimantan Barat

Provinsi Kalimantan Barat merupakan provinsi terluas ketiga setelah Papua dan Kalimantan Tengah dengan luas 147.307 km2. Kalimantan Barat merupakan provinsi yang terbentuk dari beragam satuan wilayah yang disatukan oleh Belanda Residentie Westerafdeeling van Borneo. Pada tahun 1946, swapraja-swapraja dalam wilayah ini bergabung menjadi Daerah Istimewa Kalimantan Barat yang dipimpin Sultan Hamid Pontianak.


Swapraja

Berdasarkan keputusan gabungan kerajaan-kerajaan Borneo Barat pada tanggal 22 Oktober 1946 Nomor 20L, 12 Swapraja dan 3 Neo-Swapraja yang ada sepakat untuk membentuk Daerah Istimewa Kalimantan Barat. 12 swapraja tersebut adalah:

  1. Sambas
  2. Pontianak
  3. Mempawah
  4. Landak
  5. Kubu
  6. Matan
  7. Sukadana
  8. Simpang
  9. Sanggau
  10. Sekadau
  11. Tayan
  12. dan Sintang
Neo Swapraja :

  1. Meliau
  2. Nanga Pinoh
  3. dan Kapuas Hulu.


Tumpang Tindih Daerah Istimewa Kalimantan Barat

Pada tanggal 7 Mei 1950, Dewan Kalimantan Barat mengeluarkan Keputusan Nomor 234/R dan 235 yang menyerahkan kewenangan BPH dan Penjabat Kepala Daerah DIKB kepada Pemerintah Pusat RIS yang diwakili Residen. Pada tahun 1951, keluarlah Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri RI Tanggal 8 September 1951 No Pem 20/6/10 yang menyatakan, bahwa yang mencakup segala ketentuan pem bagian secara administrative Daerah Kalimantan Barat atau DIKB, yang dahulu dikenal dengan “Residentie Westerafdeling van Berneo” dan menjadi Daerah Kalimantan Barat dibagi menjadi 6 enam Daerah Kabupaten administrative, yakni 1 Kabupaten Pontianak, 2 Kab Ketapang, 3, Kab Sambas, 4 Kabupaten Sintang, 5 Kabupaten Sanggau, 6 Kabupaten Kapuas Hulu dan sebuah daerah Kota Administratif Pontianak.

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri No Des 52/10/56 tanggal 12 Desember 1956 ditetapkan UU tersebut yang mulai berlaku pada 1 Januari 1957, Kalimantan Barat menjadi daerah otonom setingkat provinsi.

Sejak penyerahan wewenang oleh Dewan Kalimantan Barat secara defakto, pemerintahan di Kalimantan Barat dijalankan oleh pemerintah, namun secara dejure, DIKB sendiri belum pernah dibubarkan.

Comments

Popular posts from this blog

Marga Sitorus

Marga Sitorus menelurkan orang-orang yang hebat di antaranya Dr. Raja Sutan D.L. Sitorus (pengusaha sekaligus pendiri Partai Peduli Rakyat Nasional) dan H. Khairuddinsyah Sitorus,SE (Bupati Labuhan Batu Utara). Secara etnografis, marga Sitorus merupakan marga Batak. Bagaimana riwayat Marga Sitorus ini?

Marga Siregar

Suku/marga Siregar merupakan marga yang mendominasi wilayah Angkola, Sipirok dan Padang Lawas. Siregar dipercaya adalah kula Batak varna Ksatria dari JATI CHANDRAWANGSA (Dinasti Bulan) gotra LONTUNG.

Marga Pulungan

Pada prinsipnya ada empat marga di tanah Mandailing. Di antara keempat marga tersebut, marga Pulungan merupakan marga yang pertama mendiami tanah Mandailing, disusul Rangkuti, Lubis dan Nasution.Beberapa kelompok marga lain, yakni Batubara dan Rambe datang lebih belakangan.

Leluhur Orang Palembang

Suku Palembang merupakan salah satu suku yang unik di Indonesia. Secara fisik, banyak orang Palembang memiliki ciri-ciri yang mirip dengan orang Cina. Secara bahasa, bahasa Palembang merupakan bahasa Melayu berlanggam 'o, berbeda dengan bahasa Melayu hulu Musi yang berlanggam 'e dengan banyak kosa kata yang sama dengan bahasa Jawa. Dengan keunikan tersebut, banyak hipotesis tentang asal usul dan leluhur orang Palembang.

Share Like