Skip to main content

Dayak Darat

Dayak Darat merupakan populasi terbesar ketiga di bagian barat Kalimantan (Kalimantan Barat dan Serawak) setelah Melayu dan Dayak Laut. Rumpun Dayak Darat merupakan penutur dua rumpun bahasa, yakni Bahasa Melayik Kanayan dan Rumpun Bahasa Bidayuh.


Asal Usul

Masyarakat Dayak Darat mempercayai bahwa leluhur mereka turun di Gunung Bawang yang terletak di Kabupaten Bengkayang Kalimantan Barat. Dari Gunung Bawang, orang Dayak Darat menyebar ke berbagai tempat di Kalimantan Barat.

Istilah Dayak Darat timbul setelah masuknya agama Islam ke wilayah etnis Kanayan. Pada saat itu, timbul pembagian wilayah antara orang Islam (Melayu) yang menguasai LAUT dan orang HINDU KERIMAUWAN (Dayak) yang menguasai darat yang ditandai dengan penenggalaman batu janji yang disertai sumpah.

Orang Kanayan merupakan penduduk dasar dari masyarakat Melayu dari Kesultanan :
  1. Landak merupakan Kesultanan Islam pertama di Kalimantan Barat, berkembang karena produksi intannya. Kerajaan didirikan oleh Sang Nata Pulang Pali yang menikahi putri Kanayan : Putri Dara Itam. Islam pertama dianut oleh putra mereka Ismahaya gelar Adipati Karang Tanjung Tua gelar Abdul Kahar. 
  2. Mempawah merupakan penerus dari Kerajaan Sidiniang yang didirikan oleh Raja Kudung pada tahun 1610 M yang memindahkan ibukota dari Sidiniang, pegunungan Mempawah Hulu ke Pekana. Islam dipeluk oleh Panembahan Senggauk yang menikahi Puteri Cermin, puteri Raja Qahar dari Kerajaan Baturijal Indragiri.
  3. Kubu didirikan oleh Syarif Idrus al-Idrus, menantu Panembahan Mempawah, di muara Sungai Terentang.
  4. Sambas didirikan oleh ayah Ratu Timbang Paseban dari suku Kanayan/Selako, yang menurunkan Mas Ayu binti Ratu Sapudak yang dinikahi oleh Sultan Sambas pertama Sulaiman bin Sultan Tengah Brunei.


Penggolongan

Etnis Dayak Darat dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok besar berdasarkan bahasa, yakni:
  1. Kanayan
  2. Bidayuh
Orang Kanayan tinggal di Bengkayang, Mempawah, Landak dan Kubu. Sementara kelompok terdekatnya, Selakau tinggal di Serawak. Kelompok Bidayuh terbagi atas tiga kelompok bahasa, yakni:
  1. Bakatik, terdiri dari empat dialek bahasa, yakni :Moro Betung (Menyuke Pontianak), Ambawang Satu (Kubu Raya), Sahan (Sanggau Ledo, Bengkayang) dan Rodaya (Ledo dan Bani Amas, Bengkayang). Bahasa Banyadu hanyalah salah satu dialek dari bahasa Bakatik, demikian pula bahasa Rara dan Lara. Pusat pemukiman penutur bahasa ini adalah Kabupaten Bengkayang, tersebar di Kecamatan Ledo, Sanggau Ledo, Subah, Tariak dan Bengkayang. Selain itu juga terdapat di Sambas, Landak dan Kubu Raya di sekitar Kecamatan Ambawang.
  2. Galik, tinggal di Kabupaten Sanggau, dengan empat dialek : Mandong /Dayak Peruan (Tayan Hulu), Engkahan / Dayak Karamai (Sekayam), Kasromego / Galik (Beduai) dan Tanap (Kembayan).
  3. Ribun, tinggal di Sanggau meliputi suku-suku Dayak Ribun (Parindu), Jangkang, Bisomu (Semongan Noyan), Muduk (Empodis dan Bonti), Mayau (Upe Bonti) dan Tebuas (Semirau Jangkang). Bahasa Ribun memiliki lima dialek, yakni Tanggung (suku Jangkang dan Tebuas),Empodis (suku Muduk), Upe (suku Mayau), Semongan (Bisomu) dan Gunam (suku Ribun).

Bidayuh di Sarawak

Bidayuh di Sarawak diketahui terdiri dari 4 (empat) kelompok linguistik, yakni :
  1. Biatah, dituturkan di Siburan
  2. Singai-Jagoi, terdiri dari 7 dialek, yakni 1)Jagoi dituturkan di Lundu, 2) Bratak dituturkan di kampung sekitar Bung/Gunung Bratak,3) Singai dituturkan di kampung sekitar Gunung Singai, 4) Biroih, dituturkan kampung-kampung yang berasal dari Gunung Podam 5) Krokuang/Krokong diturukan di Bau, Serawak 6) Gumbang di kawasan Gumbang dan 7)Tringgus di kampung Tringgus
  3. Bukar-Sadong,dituturkan oleh Bidayuh sekeliling Serian seperti Tebakang, Mongkos dan Tanjung Amo di batas Indonesia menuturkan Sadong, beberapa kampung di Serian menuturkan Bukar. Bukar Sadong menurut Mc. Ginn adalah salah satu dialek dari bahasa Rejang Lebong Bengkulu
  4. Salako/Lara,dituturkan di Lundu, sebenarnya merupakan kelompok Malayik, bagian dari etnis Kanayan - Salako.

Comments

Popular posts from this blog

Marga Sitorus

Marga Sitorus menelurkan orang-orang yang hebat di antaranya Dr. Raja Sutan D.L. Sitorus (pengusaha sekaligus pendiri Partai Peduli Rakyat Nasional) dan H. Khairuddinsyah Sitorus,SE (Bupati Labuhan Batu Utara). Secara etnografis, marga Sitorus merupakan marga Batak. Bagaimana riwayat Marga Sitorus ini?

Marga Pulungan

Pada prinsipnya ada empat marga di tanah Mandailing. Di antara keempat marga tersebut, marga Pulungan merupakan marga yang pertama mendiami tanah Mandailing, disusul Rangkuti, Lubis dan Nasution.Beberapa kelompok marga lain, yakni Batubara dan Rambe datang lebih belakangan.

Marga Siregar

Suku/marga Siregar merupakan marga yang mendominasi wilayah Angkola, Sipirok dan Padang Lawas. Siregar dipercaya adalah kula Batak varna Ksatria dari JATI CHANDRAWANGSA (Dinasti Bulan) gotra LONTUNG.

Share Like