Skip to main content

Bahasa Krama

Salah satu keunikan bahasa di Jawa adalah penggunaan Bahasa Krama. Bahasa Krama menjadi bahasa yang wajib digunakan oleh penutur bahasa Jawa untuk keperluan penghormatan / langgam halus.

Sejarah Bahasa Krama

Salah satu pengaruh budaya Hindu yang masuk ke Indonesia adalah kebahasaan. Pada masyarakat Hindu, digunakan minimal dua bahasa, yakni Prakerta yakni bahasa alami atau bahasa rakyat dan Sanskerta yang berarti bahasa yang sempurna.Bahasa Sanskerta merupakan bahasa Indo Eropa tua serupa dengan bahasa Heti, bahasa Latin dan bahasa Yunani Myceanean. Bahasa Sanskerta merupakan bahasa suci bangsa Hindu yang digunakan dalam penulisan Weda. Bahasa Sanskerta merupakan bahasa suci bagi penganut Hindu, Budha dan Jaina.
Sejalan dengan penyebaran budaya Hindu, bahasa Sanskerta juga menjadi bahasa suci di luar Tanah Hindu, yakni Asia Tengah, Asia Tenggara dan Asia Timur.
Di Jawa, bahasa Sanskerta pun menjadi bahasa suci hingga berakhirnya Kerajaan Majapahit. Setelah runtuhnya Majapahit, sisa-sisa bahasa Sanskerta hanya dikenal di Bali dan Mataram dengan istilah Krama. Dengan masuknya Islam, beberapa kosa kata Sanskerta kemudian digantikan oleh kosa kata Arab. Pelestarian kembali bahasa Krama dimulai kembali oleh Sultan Agung yang menyebarkan bahasa ini ke tanah Pasundan, Banjar dan Palembang.

Dialek-dialek Bahasa Krama

Beberapa dialek bahasa Krama yang diketahui adalah
  1. Dialek Krama Jawa, dialek yang masih dituturkan oleh masyarakat Jawa Mataraman (Solo,Yogya,Semarang,Kedu, Pati ),Pekalongan (Batang, Pekalongan, Pemalang), Wonosobo, Surabaya, Malang, Jombang dan Jember
  2. Dialek Krama Bali, dialek yang dituturkan masyarakat Bali
  3. Dialek Krama Sunda, dialek yang dituturkan masyarakat Sunda di luar Propinsi Banten
  4. Dialek Krama Banjarmasin, dialek yang pernah dituturkan di Kraton Banjarmasin, dikenal juga Banjar Alus
  5. Dialek Krama Palembang, dialek yang pernah dituturkan di Kraton Palembang, dikenal sebagai Palembang Alus

Kosa Kata Sanskerta

Beberapa kosa kata Sanskerta yang masih dapat ditelusuri adalah :
  1. dasa : sepuluh
  2. putra : anak
  3. artha : harta/uang
  4. mergi / marga : jalan
  5. griya : rumah
  6. rahayu : bahagia
  7. kersa/karsa : hendak/mau
  8. trisno/tresna : cinta
  9. dasa : sepuluh

Kosa Kata Arab

Beberapa kosa kata Arab yang masih dapat ditelusuri adalah :
  1. asmo/asma : nama

Comments

Popular posts from this blog

Marga Sitorus

Marga Sitorus menelurkan orang-orang yang hebat di antaranya Dr. Raja Sutan D.L. Sitorus (pengusaha sekaligus pendiri Partai Peduli Rakyat Nasional) dan H. Khairuddinsyah Sitorus,SE (Bupati Labuhan Batu Utara). Secara etnografis, marga Sitorus merupakan marga Batak. Bagaimana riwayat Marga Sitorus ini?

Marga Siregar

Suku/marga Siregar merupakan marga yang mendominasi wilayah Angkola, Sipirok dan Padang Lawas. Siregar dipercaya adalah kula Batak varna Ksatria dari JATI CHANDRAWANGSA (Dinasti Bulan) gotra LONTUNG.

Marga Pulungan

Pada prinsipnya ada empat marga di tanah Mandailing. Di antara keempat marga tersebut, marga Pulungan merupakan marga yang pertama mendiami tanah Mandailing, disusul Rangkuti, Lubis dan Nasution.Beberapa kelompok marga lain, yakni Batubara dan Rambe datang lebih belakangan.

Marga Harahap

Marga Harahapmerupakan salah satu dari empat marga terbesar di eks kabupaten Tapanuli Selatan. Ada spekulasi bahwa Siregar adalah murni eksodus Batak, sementara 3 marga besar dan sejumlah marga kecil lainnya berasal dari suku asli, yakni Lubis dari suku Lubu, Harahap dari suku Ulu dan Nasution dari campuran orang-orang pesisir berbahasa Minangkabau dialek pesisir. Sementara pendapat lain, Harahap adalah kula Batak Kasta Ksatria dari Jati CHANDRAWANGSA (Dinasti Bulan) dari gotra BORBOR.  Bagaimana riwayat penyebaran etnografis Marga Harahap?.

Share Like