Skip to main content

Singapura dan Tanjungpura Jawa

Dalam memahami sejarah Nusantara, terutama seputar masuknya Islam di tanah Jawa, perlu diketahui bahwa pada masa Majapahit di pulau Jawa ada negeri khusus yakni Tanjungpura dan Singapura.


Pararaton dan Prasasti

Singapura dan Tanjungpura disebutkan dalam kitab dan prasasti sebagai berikut :
  1. Dalam Pararaton : Bhre Paguhan beristrikan seorang wanita bangsawan mempunyai putra Bhre Singapura diperistiri oleh Bhre Pandan Salas.
  2. Dalam Prasasti Waringinpitu yang dikeluarkan oleh Sri maharaja Wijaya Parakrama wardhana dyah Kertawijaya, Rabu Manis, 15 Pebruari 1447 M, Majapahit memiliki 14 negeri bawahan di bawah gelar Batara/Bhre yakni:
    1. Bhre Daha : Paduka Bhattara ring Daha Sri Bhattara Jayawardhani Dyah Jayeswari.
    2. Bhre Jagaraga : Paduka Bhattara ring Jagaraga Sri Bhattara Wijaya Indudewi Dyah Wijaya Duhita
    3. Bhre Kahuripan :Paduka Bhattara ring Kahuripan Rajasa Wardhana Dyah Wijaya Kumara.
    4. Bhre Tanjungpura : Paduka Bhattara ring Tanjungpura Manggala Wardhani Dyah Suragarini.
    5. Bhre Pajang : Paduka Bhattara ring Pajang Dyah Sureswari.
    6. Bhre Kembang Jenar : Paduka Bhattara ring Kembang Jenar Rajananda Iswari Dyah Sudarmini.
    7. Bhre Wengker : Paduka Bhattara ring Wengker Girisa Wardhana Dyah Surya Wikrama.
    8. Bhre Kabalan : Paduka Bhattara ring Kabalan Mahamahisi Dyah Sawitri.
    9. Bhre Tumapel : Paduka Bhattara ring Tumapel Singa Wikrama Wardhana Dyah Sura Prabawa.
    10. Bhre Singhapura : Paduka Bhattara ring Singapura Rajasa Wardhana Dewi Dyah Seripura.
    11. Bhre Matahun : Paduka Bhattara ring Matahun Wijaya Parakrama Dyah Samara wijaya.
    12. Bhre Wirabumi : Paduka Bhattara ring Wirabhumi Rajasa Wardhana Indudewi Dyah Pureswari.
    13. Bhre Keling : Paduka Bhattara ring Keling Girindra Wardhana Dyah Wijaya Karana.
    14. Bhre Kalinggapura : Paduka Bhattara ring Kalinggapura Kamala Warnnadewi Dyah Sudayita.

Singhapura Jawa

1409 M Seluruh negeri-negeri tersebut terutama Daha, Kahuripan, Pajang, Tumapel merupakaan negeri-negeri yang sangat dikenal dan dimaklumi lokasinya hari ini di Jawa. Tetapi, jarang diekspos adalah Singhapura dan Tanjungpura.
Singapura dan Tanjungpura adalah dua pelabuhan utama di Jawa Barat yang memiliki peranan penting pada masa awal perkembangan Islam di Jawa dan seterusnya Kalimantan. Singapura adalah pelabuhan yang terletak di Muara Jati Cirebon yang pada tahun 1409 M dipimpin oleh Ki Gedeng Tapa yang menyambut kedatangan Syekh Hasanuddin bin Syekh Yusuf Sidik guru dari Nyai Subang Larang isteri Prabu Siliwangi.
Ki Gedeng Tapa atau Ki Gedeng Jumajan Jati adalah putra bungsu Prabu Wastu Kancana. Beliau menjadi Batara Singhapura yang sekaligus syahbandar pelabuhan di Cirebon Larang yang merupakan pintu masuk daerah Martasinga, Pasambangan dan Jayapura ini menggantikan Ki Gedeng SIndangkasih.
Karena dakwah Islam tidak disukai oleh Prabu Wastu Kancana atau Prabu Angga Larang, Syekh Hasanuddin kembali ke Malaka dengan ikut membawa putri Ki Gedeng Tapa, yakni Nyai Subang Larang.

Tanjungpura Jawa

1418 M Sebagaimana halnya Singhapura, Tanjungpura juga merupakan pelabuhan utama di pantai utara Jawa Barat. Tanjungpura terletak di muara Sungai Citarum, Karawang. Pada tahun 1418 M, Syekh Hasanuddin kembali ke Jawa Barat bersama murid-muridnya dan diterima oleh Batara Tanjungpura di Pura Dalam / Pelabuhan Karawang. Mereka diizinkan mendirikan musholla dan kemudian sukses membangun pesantren.
Berita kembalinya Syekh Hasanudin ini didengar oleh Prabu Angga Larang yang mengirim putra mahkota Raden Pamanah Rasa. Namun, sang putra mahkota tertambat hati oleh suara merdu Nyai Subang Larang yang mengumandangkan al Qur'an. Raden Pamana Rasa membatalkan penutupan pesantren, bahkan kemudian mengabulkan pemenuhan mas kawin dari Nyai Subang Larang yang berupa "Bintang Saketi" yang ada di Negeri Makkah. Raden Pamana Rasa dikenal sebagai Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi.
Syekh Hasanuddin kemudian dimakamkan di Dusun Pulobata Desa Pulokalapa Kecamatan Lemahabang. Di Dusun ini juga terdapat makam Syekh Bentong atau Syekh Darugem salah seorang santri utama Syekh Quro.
Perkawinan Siliwangi dengan Subang Larang kemudian melahirkan Raden Walangsungsang yang setelah remaja bersama adiknya Raden Rara Santang meninggalkan istana Pakuan Pajajaran berguru kepada Syekh Dzatul Kahfi di Peguron Islam Cirebon. Sepulang naik haji, Walangsungsang memimpin Caruban Larang dengan gelar Pangeran Cakrabuana. Sedangkan Rara Santang diperisteri di Makkah oleh Sultan Mesir Syarif Abdullah.Adik bungsu mereka, Raden Sengara alias Pangeran Kian Santang menjadi penyebar islam di Garut.

Comments

Popular posts from this blog

Marga Sitorus

Marga Sitorus menelurkan orang-orang yang hebat di antaranya Dr. Raja Sutan D.L. Sitorus (pengusaha sekaligus pendiri Partai Peduli Rakyat Nasional) dan H. Khairuddinsyah Sitorus,SE (Bupati Labuhan Batu Utara). Secara etnografis, marga Sitorus merupakan marga Batak. Bagaimana riwayat Marga Sitorus ini?

Marga Pulungan

Pada prinsipnya ada empat marga di tanah Mandailing. Di antara keempat marga tersebut, marga Pulungan merupakan marga yang pertama mendiami tanah Mandailing, disusul Rangkuti, Lubis dan Nasution.Beberapa kelompok marga lain, yakni Batubara dan Rambe datang lebih belakangan.

Marga Siregar

Suku/marga Siregar merupakan marga yang mendominasi wilayah Angkola, Sipirok dan Padang Lawas. Siregar dipercaya adalah kula Batak varna Ksatria dari JATI CHANDRAWANGSA (Dinasti Bulan) gotra LONTUNG.

Share Like