Skip to main content

Panai, Bisai dan Pandan

Panai dan Bisai merupakan kata yang tidak lazim di Indonesia. Padahal kata ini sangat berarti dalam hubungan Sumatera, Kalimantan dan Filipina.

Panai, Panay, Pane, Pannai

Kata Panai terkait dengan kata-kata Panay, Pane dan Pannai. Berikut keempat kata tersebut :
  1. Menurut KBBI, panai berarti nampan yang terbuat dari kayu.
  2. Di Filipina, panay berasal dari kata pan hay (Spanyol) yang berarti ada roti.
  3. Dalam bahasa Sanskerta, vahni yang merupakan asal kata panai merupakan sinonim dari agni/api.
  4. Dalam bahasa Tamil, pannai berarti bertani.


Pandan

Pandan merupakan kota yang terletak di propinsi Antik, Region Bisaya, Filipina Tengah. Kata Pandan merupakan kata yang asing di Filipina, tetapi lumrah di Indonesia. Menurut orang Filipina, pan dan berasal dari kata pan dalam bahasa Spanyol yang berarti roti dan dan dalam bahasa lokal yang berarti itu.

Menurut kisah, setelah jatuhnya Kerajaan Panai Silau (Simalungun) (oleh Aceh) yang dipertahankan gabungan pasukan Batak, Minangkabau, Indragiri, Brunei dan Sulu, salah satu klan menghilang, yakni Pandan.


Bisai

Bisai merupakan KBBI berarti bagus, elok dan dapat berarti pesolek, berpatutan (sesuai) benar.
Bisai dalam sejarah dan budaya sebagai berikut :
  1. Datuk Bisai merupakan salah satu gelar adat di Kuantan Sumatera
  2. Masyarakat Melayu Brunei merupakan turunan dari sebagian suku bangsa Bisaya yang memeluk agama Islam di bawah pimpinan Awang Alak Betatar yang memenangkan perlombaan perahu di antara 6 bersaudara laki-laki. Kata Bisaya berasal dari "Bisai Iya” yang bermakna seseorang lelaki atau wanita nampak tampan dan gagah serta cantik molek. Suku Bangsa Bisaya berasal dari satu keluarga yang hijrah ke Kalimantan, yang memiliki 6 (enam) anak laki-laki dan 1 (satu) orang perempuan. Keenam anak laki-laki tersebut adalah
    1. Patih Barbai/Peti Berambai atau Pati Berabai, raja Jawa
    2. Si Garampa, leluhur Bisaya Limbang.
    3. Peti Geramba, leluhur Bisaya Tutong.
    4. Patih Sangkuna/Peti Runa/Pati Bagunak, leluhur Bisaya Sungai Kinabatangan Sabah.
    5. Semaun/Simaun, leluhur Bisaya Sungai Birau.
    6. Alak Betatar, Sultan Brunei.
    7. Siti Duyah/Duri/Bunga Sunting, isteri Ong Sum Ping (Awang Sunting), leluhur Bisaya Gunung Kinabalu.
    Suku Bisaya merupakan suku yang mahir bertani, beternak, berburu, menangkap ikan dengan pukat dan bagang dan mahir kerajinan.
  3. Awang Semaun mengelilingi Kepulauan Kalimantan dengan sampan yang dipasangkan kain peraca (sapu tangan) di depannya. Kain tersebut koyak saat kembali si Sungai Klias, sehingga kemudian Pulau Kalimantan disebut mereka Pulau Peraca
  4. Panglima Awang Alapu atau Lapu-Lapu berhasil angkatan lanun Sulu yang menculik isteri ayahnya Sultan Awang Kokoh. Beliau mendirikan pangkalan di pulau yang kemudian dikenal Pulau Bisaya. Pada tahun 1521, Awang Alapu berhasil menumpas pasukan Spanyol yang dipimpin Ferdinand Magellan.

Comments

Popular posts from this blog

Marga Sitorus

Marga Sitorus menelurkan orang-orang yang hebat di antaranya Dr. Raja Sutan D.L. Sitorus (pengusaha sekaligus pendiri Partai Peduli Rakyat Nasional) dan H. Khairuddinsyah Sitorus,SE (Bupati Labuhan Batu Utara). Secara etnografis, marga Sitorus merupakan marga Batak. Bagaimana riwayat Marga Sitorus ini?

Marga Pulungan

Pada prinsipnya ada empat marga di tanah Mandailing. Di antara keempat marga tersebut, marga Pulungan merupakan marga yang pertama mendiami tanah Mandailing, disusul Rangkuti, Lubis dan Nasution.Beberapa kelompok marga lain, yakni Batubara dan Rambe datang lebih belakangan.

Share Like