Skip to main content

Suku Kutai, Benua dan Tunjung

Dayak Tunjung, Dayak Benua (Benuaq) dan Kutai merupatkan etnis yang terdapat di Propinsi Kalimantan Timur. Ketiga suku ini berasal dari leluhur yang sama tetapi kemudian terpisah karena perbedaan adat.

Berbeda Cara Bermukim

Menurut cerita lokal, orang Tunjung, Benua dan Kutai merupakan keturunan dari Aji Tulur Jejangkat dan Mook Manar Bulan. Mereka menerapkan adat matrilineal dan hidup di rumah panjang. Tetapi akibat perkembangan, cara bermukim kemudian terbagi tiga :
  1. Keturunan Nara Guna tinggal di perkampungan atau Benua yang kemudian disebut sebagai Suku Benua
  2. Keturunan Puncan Karna tinggal di Kuta (perbentengan kemudian berubah makna Tuan Rumah) yang kemudian disebut Suku Kutaq atau suku Kutei atau Kutai
  3. Keturunan Sualas Guna tinggal di Daya (hulu Mahakam) kemudian disebut suku Tunjung (suku yang mudik)

Perbedaan Agama

Pada masa Aji Raja Mahkota Mulia Alam gelar Aji di Makam, Kerajaan Kutai Kartanegara ing Martadipura yang beribukota di Muara Kaman menerima agama Islam yang dibawa oleh Tuan Tunggang Parangan. Agama Islam diterima oleh mayoritas masyarakat Kuta tetapi kurang diterima oleh masyarakat Benua karena dianggap bertentangan dengan nilai adat istiadat. Oleh karenanya, orang Kuta kemudian disebut haloq (meninggalkan adat istiadat). Sejak itu, masyarakat di Kutai terbagi dua :
  1. Suku Melayu / Melani Kutai masyarakat Haloq.
  2. Suku Daya/Tunjung dan Benua, masyarakat

Kaitan dengan Sumatera

Kalimantan telah dihuni 40.000 tahun oleh masyarakat yang genetikanya diturunkan pada orang-orang Dusun di Brunei. Kemudian, dihuni oleh sekitar 5.000 tahun yang lalu oleh masyarakat maritim penghuni gua di Bulungan yang diperkirakan rumpun Melanesia yang genetikanya diwarisi oleh hampir seluruh etnis di Kalimantan. Pada abad 2 SM, Kalimantan dihuni masyarakat Funan (Pnom/Gunung/Melayu) yang menguasai Laut Cina Selatan, Selat Malaka, Selat Sunda, Laut Jawa hingga Selat Lombok. Tetapi, hancurnya Kerajaan ini oleh masyarakat Mun Khmer, Siam dan Burma serta pendatang dari Tamil seperti Kalingga menyebabkan masyarakat Funan terpisah sehingga berdiri Kerajaan-kerajaan Kutai, Taruma dan sebagainya.
Pada abad 8, Jayanaga kembali mempersatukan Sumatera dan Kalimantan melalui muhibah dari Palembang ke Tanjungpuri (Kalsel).Kemudian pada abad ke-13 kembali dipersatukan kembali oleh trio Sang Sapurba, Sang Utama dan Sang Menaka. Pada kedatangan Marco Polo, masyarakat Kalimantan masih menyatu dalam satu kerajaan, tetapi jatuhnya Singapura oleh Kediri menyebabkan penduduk Kalimantan menjadi entitas-entitas yang terpisah oleh masing-masing satuan sungai.
Agama Islam kemudian juga membagi masyarakat Kalimantan menjadi 2. Masyarakat hilir menjadi Melayu sementara hulu menjadi Dayak. Terjadilah orang Banjar (Bandar) vs Bukit. Kutai (Kuta) vs Banua dan sebagainya.

Comments

Popular posts from this blog

Marga Sitorus

Marga Sitorus menelurkan orang-orang yang hebat di antaranya Dr. Raja Sutan D.L. Sitorus (pengusaha sekaligus pendiri Partai Peduli Rakyat Nasional) dan H. Khairuddinsyah Sitorus,SE (Bupati Labuhan Batu Utara). Secara etnografis, marga Sitorus merupakan marga Batak. Bagaimana riwayat Marga Sitorus ini?

Marga Siregar

Suku/marga Siregar merupakan marga yang mendominasi wilayah Angkola, Sipirok dan Padang Lawas. Siregar dipercaya adalah kula Batak varna Ksatria dari JATI CHANDRAWANGSA (Dinasti Bulan) gotra LONTUNG.

Marga Pulungan

Pada prinsipnya ada empat marga di tanah Mandailing. Di antara keempat marga tersebut, marga Pulungan merupakan marga yang pertama mendiami tanah Mandailing, disusul Rangkuti, Lubis dan Nasution.Beberapa kelompok marga lain, yakni Batubara dan Rambe datang lebih belakangan.

Antara Minangkabau dan Melayu

* Sebuah Hipotesis Etnografis * Masyarakat yang mendiami perbatasan Riau dengan Sumatera Barat memiliki budaya yang hampir sama dengan masyarakat Sumatera Barat. Bahasa yang digunakan sama-sama berujung ‘o, ek, eh dan sebagainya yang kalau diperbandingkan persamaan antara bahasa Melayu mereka dengan bahasa Melayu Riau/Johor lebih jauh dibandingkan persamaan dengan bahasa Minangkabau.

Share Like