Skip to main content

Gotra dan Saudara

Sebelum masuknya Islam di Indonesia, masyarakat Sumatera merupakan penganut Hindu yang taat. Salah satu ajaran Hindu yang mengakar yang hari ini masih dilestarikan melalaui suku atau marga. Pernikahan sagotra yang ditabukan agama Hindu, masih dilestarikan dalam bentuk larangan kawin sesuku atau kawin semarga.


Gotra Brahmana : Tujuh Resi (Saptarishi) Putra Brahma

Gotra pertama kali dimulai oleh kasta brahmana. Kaum Brahmana melacak leluhur mereka kepada tujuh orang bijak/ resi yang dipercaya merupakan putra Brahma, yaitu :
  1. Gautama
  2. Bharadwaja
  3. Vishvamitra
  4. Jamadagni
  5. Vashista
  6. Kashyapa
  7. Atri
Belakangan ditambahkan Agastya sebagai resi kedelapan. Delapan resi ini disebut gotrakarin. 49 gotra berkembang dari gotrakarin, semisal gotra Atras dan Gavisthiras yang dimitoskan turunan Atri.

Arti Gotra

Istilah gotra secara sederhana berarti kandang sapi atau kawanan sapi. Makna gotra sebagai keluarga atau garis keturunan keluarga diperkirakan baru muncul pada pertengahan abad pertama Masehi.

Saudara atau Saudari

Kata saudara atau saudari berasal dari kata saha udara yang berarti lahir dari rahim yang sama.

Sagotra

Sagotra berasal dari kata sa dan gotra yang berarti gotra yang sama. Pada orang Hindu, sebelum pernikahan ditanyakan dulu kula-gotra, apabila kedua pengantin sagotra, maka pernikahan dibatalkan, karena sagotra dianggap saudara kandung.


Pernikahan sajaati

Jaati berarti kelahiran. Sebagai istilah berarti sekelompok gothra atau kaum. Jati atau kasta terkait dengan profesi atau keyakinan. Sebagai contoh jati Gandhi adalah penjual parfum, Dhobi = tukang cuci, Srivastava = juru tulis militer. Pernikahan sajati dianjurkan dalam agama Hindu.

Varna

Varna berarti warna yakni warna ketika suatu jati dilahirkan.Ada empat varna dalam agama Hindu, yakni:
  1. Brahmin (pendeta) berwarna putih.
  2. Ksatria (pahlawan) berwarna merah.
  3. Vaisha (pedagang) berwarna kuning.
  4. Sudra (pelayan) berwarna hitam.
Orang-orang Dalit dianggap tidak memiliki warna (avarna).

Kula

Kula adalah sekumpulan orang yang mengikuti ritual budaya yang sama, sering memuja dewa yang sama.Kula tidak berhubungan dengan keturunan dan jati.

Gotra Ksatria

Kaum ksatri kemudian juga mengadopsi sistem gotra. Pada awalnya dikenal dua gotra, yakni Suryawangsa dan Candrawangsa, kemudian muncul gotra lain yakni Indrawangsa, Agniwangsa/Agnikula, Ganggawangsa dan Nagawangsa.

Gotra Waisya

Ada beberapa jati(subcaste) dari Waisya, di antaranya Agrahari,Agrawal,Barnwals,Gahois , Kasuadhans , Khandelwals , Lohanas , Maheshwaris , Oswals , Arya Vaishyas , Vaishya Vanis dari Konkan dan Goa, dan Modh di barat.

Agrahari mengklaim bahwa mereka adalah keturunan dari raja legendaris Agrasena, maharaja dari Agroha, kota dagang. Maharaja Agrasena mendirikan 18 gotra untuk masing-masing dari 18 putranya berdasarkan nama-nama Guru mereka dan membagi kekaisaran di antara mereka.

Jati Agarwal mengklaim Raja Agrasena menikahi Madhavi, putri Raja Kumud dari Nagaloka (Kerajaan Ular). Jadi Agrawal adalah keturunan dari Madhavi dan itulah mengapa mereka menyembah Naga (ular) dan menganggap mereka sebagai paman dari pihak ibu mereka.

Maharaja Agrasena berhasil membentuk 17,5 gotras untuk 18 putranya dengan melakukan 18 mahayajnas yang 17 berhasil dan satu hanya berhasil setengah. Tujuh belas dan setengah agrawal tersebut adalah :
  1. Garg
  2. Goyal
  3. Bindal
  4. Bhandal
  5. Dharan (clan)
  6. Airan
  7. Bansal
  8. Goyan (half gotra)
  9. Jindal
  10. Singhal (also known as Singla)
  11. Kansal
  12. Kucchal
  13. Madhukul
  14. Mangal
  15. Mittal
  16. Nangal
  17. Tayal
  18. Tingle


Comments

Popular posts from this blog

Marga Sitorus

Marga Sitorus menelurkan orang-orang yang hebat di antaranya Dr. Raja Sutan D.L. Sitorus (pengusaha sekaligus pendiri Partai Peduli Rakyat Nasional) dan H. Khairuddinsyah Sitorus,SE (Bupati Labuhan Batu Utara). Secara etnografis, marga Sitorus merupakan marga Batak. Bagaimana riwayat Marga Sitorus ini?

Marga Pulungan

Pada prinsipnya ada empat marga di tanah Mandailing. Di antara keempat marga tersebut, marga Pulungan merupakan marga yang pertama mendiami tanah Mandailing, disusul Rangkuti, Lubis dan Nasution.Beberapa kelompok marga lain, yakni Batubara dan Rambe datang lebih belakangan.

Marga Siregar

Suku/marga Siregar merupakan marga yang mendominasi wilayah Angkola, Sipirok dan Padang Lawas. Siregar dipercaya adalah kula Batak varna Ksatria dari JATI CHANDRAWANGSA (Dinasti Bulan) gotra LONTUNG.

Antara Minangkabau dan Melayu

* Sebuah Hipotesis Etnografis * Masyarakat yang mendiami perbatasan Riau dengan Sumatera Barat memiliki budaya yang hampir sama dengan masyarakat Sumatera Barat. Bahasa yang digunakan sama-sama berujung ‘o, ek, eh dan sebagainya yang kalau diperbandingkan persamaan antara bahasa Melayu mereka dengan bahasa Melayu Riau/Johor lebih jauh dibandingkan persamaan dengan bahasa Minangkabau.

Share Like