Skip to main content

Suku Tanjung dan Marga Tanjung

Orang Minang punya Suku Tanjung. Orang Batak punya marga Tanjung. Adakah hubungan antara keduanya?

Kisah Jenderal Faisal Tanjung

Jenderal Faisal Tanjung lahir di Tarutung, 17 Juni 1939. Beliau merupakan anak kelima dari pasangan Amin Husin Abdul Mun'im Tanjung dan Siti Rawani Hutagalung. Nama keluarga Tanjung bukanlah nama keluarga sejak kecil, tetapi disematkan pada waktu sekolah. Ayahnya adalah seorang pedagang yang merupakan tokoh Muhammadiyah asal Sibolga.

Akbar Tanjung dan Chairul Tanjung

Tokoh lain yang diperdebatkan antara Minang dan Batak adalah Akbar Tanjung dan Chairul Tanjung. Akbar Tanjung yang nama aslinya Janji Akbar Zahiruddin Tanjung, lahir di Sorkam, 14 Agustus 1945.Zahiruddin Tanjung adalah seorang getah, rempah-rempah dan kain yang bukan hanya sukses di Tapanuli, tetapi juga hingga ke Medan dengan perusahaannya Morison. Beliau juga pengurus Muhammadiyah di Sorkam.

Chairul Tanjung lahir di Jakarta, 16 Juni 1962 dari ayah Abdul Ghafar Tanjung yang berasal dari Sibolga.

Tanjung Pariaman

Orang-orang Pariaman saat ini sudah mulai biasa menuliskan nama sukunya sebagai nama belakang, di antaranya suku Tanjung. Dengan adanya kebiasaan ini, maka akan semakin banyak pertanyaan itu Tanjung suku Minang atau Tanjung marga Batak.

Marga Tanjung di Tapanuli

Marga Tanjung merupakan salah satu marga di daerah Tapanuli dengan agama mayoritas Islam mencapai 98 %.Marga ini secara umum ditemukan di daerah pesisir barat yakni Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah dan Tapanuli Utara terutama di pusat-pusat perdagangan.

Masyarakat Batak mengakuisi marga ini ke dalam kelompok Borbor bersama-sama dengan marga Harahap, Pasaribu, Rangkuti, Pulungan dan marga-marga lainnya yang memiliki kedekatan dengan etnis Melayu Pesisir, Minang dan Mandailing. Marga Tanjung dikatakan keturunan Datu Dalu atau Sahang Maima.

Akuisisi ini saat ini menjadi pro kontra.Sebagian dari marga-marga tersebut terutama dari etnis Mandailing menganggap, akuisisi tersebut adalah klaim sepihak.Penolakan terhadap silsilah tersebut terutama dipicu adanya tokoh Raja Batak dalam pohon silsilah.

Suku Tanjung di Minang

Suku Tanjung di Negeri Minang merupakan salah satu yang tergolong Melayu IX Induk atau kelompok Suku Koto Piliang atau Suku Sembilan. Ada beberapa hipotesis tentang Suku Tanjung, yakni suku tanjung terbentuk di negeri Batipuh yang semula hanya memiliki tujuh suku : Panyalai, Sikumbang, Malayu, Guci, Koto, Pisang dan Jambak.Suku Tanjung merupakan suku tambahan yang terbentuk bersama-sama suku Bodi dan Simabur. Dinamakan Tanjung karena terletak di ujung bukit (Tanjung).

Pendapat lain mengatakan bahwa suku Tanjung merupakan pasangan suku Sikumbang (sejenis lebah) diambil dari nama Bunga yakni Bunga Tanjung.

Penyebaran Suku Tanjung di Tapanuli

Suku Tanjung telah mulai turun dari Darek ke pesisir pada abad 15 M. Menurut Tambo Padang, suku pertama yang tiba adalah Suku Tanjung di bawah pimpinan Datuk Sangguno Dirajo, baru kemudian disusul Suku Melayu pimpinan Datuk Patah Karsani, Suku Chaniago pimpinan Datuk Maharajo Basa dan Suku Jambak pimpinan Datuk Panduko Rajo.

Di negeri Bayang, pada abad ke 16, Datuk Bakupiah Ameh (pamuncak) dari Suku Tanjung diutus oleh Bagindo Yang Dipertuan Raja Koto Anau bersama-sama Datuk Nan Keramat (Melayu Kinari) dan Datuk Bagajabiang (Caniago Koto Anau) membawa laskar dan pendekar untuk mengusir Portugis dari pertambangan emas Salido. Setelah Bayang agak aman, berdatanganlah penduduk dari Gunung Talang ke Bayang Salido.

Raja Guguk Bagindo Sutan Basa mengutus rombongan membantu rakyat Bandar Sapuluh Lamo mengusir Portugis, tetapi kewalahan sehingga mendirikan perkampungan di hulu sungai Batang Barus.

Ada beberapa suku Tanjung di Bayang, di antaranya Tanjung Godang, Tanjung Koto, Tanjung Kocik /Guci dan Tanjung Sikumbang. Mereka turun bersama-sama turunnya moyang suku lain dari Muaro Paneh, Kinari dan Koto Anau Kubung Tigo Baleh.

Perkembangan Kesultanan Indrapura

Wilayah Pesisir Selatan termasuk wilayah Kesultanan Indrapura dengan raja legendarisnya Cindur Mato yang mendirikan beberapa pelabuhan di pesisir barat Sumatera, di selatan sampai Bengkulu di utara sampai Meulaboh. Di antaranya pelabuhan Singkil. Banyak masyarakat Pesisir Selatan mengisi pelabuhan-pelabuhan baru tersebut, termasuk Suku Tanjung.

Penyebaran ke selatan dan utara semakin semarak setelah Portugis menguasai beberapa daerah di Pesisir Selatan seperti Salido. Terbentuk negeri-negeri baru, di antaranya Air Bangis dan Barus Tapanuli.

Masa Penguasaan Aceh

Pada akhirnya Kesultanan Indrapura kembali bergabung setelah Pagaruyung berubah menjadi Kesultanan. Portugis pada akhirnya dapat dikalahkan, tetapi akibat salah paham antara Sultan Pagaruyung dengan permaisurinya yang berasal dari Aceh yang kemudian dinikahi oleh Sultan Natal, Pagaruyung akhirnya menyerahkan daerah pesisir kepada Aceh. Aceh menguasai pesisir barat dengan dua gubernur, yakni di Barus Tapanuli dan di Pariaman.

Pada masa ini, migrasi orang-orang Minang termasuk Suku Tanjung ke pesisir Tapanuli dan pesisir barat Aceh memuncak.

Ke Humbang dan Silindung

Hubungan dagang antara Silindung, Humbang dan Bakkara telah terjadi intensif semenjak dibukanya Kesultanan Barus oleh orang-orang Indrapura. Pesisir Tapanuli memasok kebutuhan garam, kain dan barang ekspor ke pedalaman sebaliknya mengimpor kuda, kayu manis dan berbagai produk pedalaman ke Barus. Pada saat inilah, para pedagang dari pesisir memasuki tanah pedalaman Tapanuli.

Kesultanan Sorkam

Hubungan Suku Tanjung dengan penguasa Barus pada akhirnya kurang harmoni. Hal ini terkait dengan kedudukan Sorkam yang mengancam pelabuhan Barus itu sendiri. Sementara itu, suku Tanjung memelihara hubungan baik dengan Sisingamangaraja selaku mitra dagang utama pesisir.

Pada tahun 1757 M, Datuk Bungkuk Tanjung dari Sipultak Humbang, mendeklarasikan kemerdekaan Sorkam dan menjadi raja dengan gelar Raja Junjungan. Sejak saat itu berdirilah Kesultanan Sorkam. Beberapa raja Sorkam yang tercatat adalah :
  • Raja Junjungan Tanjung (1758-1778)
  • Raja Maiput Tanjung Gelar Datuk Tukang (1778-1792)
  • Raja Jangko Alam Tanjung Gelar Datuk Rajo Amat (1792-1806)
  • Abdul Hakim Datuk Naturihon Tanjung Gelar Rajo Amat I (1806-1841) anak pertama dari no. 3.
  • Raja Parang Tua Tanjung Gelar Datuk Amat II (1841-1853) Sejak saat ini kekuasan Sorkam terbagi lima ke masing-masing anak Raja Parang Tua, diantaranya adalah:
  • Raja Dusun Derak Alam Tanjung gelar Sultan Maharaja Lela (1853-1872)
  • Raja Muhammad Amin Tanjung gelar Sultan Hidayat (1872-1915)
  • Raja Muhammad Hussin Tanjung, gelar Sultan Rahmat Alam (1916-1942)

Tanjung dalam Perang Padri dan Perang Sisingamangaraja

Hubungan baik antara Tanjung dengan Sisingamangaraja terpelihara baik.Dalam masa perang Padri 1818 - 1820 M, Sisingamangaraja mempercayakan klan Tanjung sebagai panglima pengaman di Dairi, yakni Jenderal Syarif Tanjung.

Agama Suku Tanjung dan Marga Tanjung

Suku Tanjung sebagaimana orang Minang dan Melayu Pesisir adalah 100% Islam, sementara Marga Tanjung ada beberapa yang non-muslim, tetapi secara umum Marga Tanjung dipercaya 98% Islam.

Comments

Popular posts from this blog

Marga Sitorus

Marga Sitorus menelurkan orang-orang yang hebat di antaranya Dr. Raja Sutan D.L. Sitorus (pengusaha sekaligus pendiri Partai Peduli Rakyat Nasional) dan H. Khairuddinsyah Sitorus,SE (Bupati Labuhan Batu Utara). Secara etnografis, marga Sitorus merupakan marga Batak. Bagaimana riwayat Marga Sitorus ini?

Marga Pulungan

Pada prinsipnya ada empat marga di tanah Mandailing. Di antara keempat marga tersebut, marga Pulungan merupakan marga yang pertama mendiami tanah Mandailing, disusul Rangkuti, Lubis dan Nasution.Beberapa kelompok marga lain, yakni Batubara dan Rambe datang lebih belakangan.

Marga Siregar

Suku/marga Siregar merupakan marga yang mendominasi wilayah Angkola, Sipirok dan Padang Lawas. Siregar dipercaya adalah kula Batak varna Ksatria dari JATI CHANDRAWANGSA (Dinasti Bulan) gotra LONTUNG.

Antara Minangkabau dan Melayu

* Sebuah Hipotesis Etnografis * Masyarakat yang mendiami perbatasan Riau dengan Sumatera Barat memiliki budaya yang hampir sama dengan masyarakat Sumatera Barat. Bahasa yang digunakan sama-sama berujung ‘o, ek, eh dan sebagainya yang kalau diperbandingkan persamaan antara bahasa Melayu mereka dengan bahasa Melayu Riau/Johor lebih jauh dibandingkan persamaan dengan bahasa Minangkabau.

Share Like