Skip to main content

Simbol Islam dalam Luhak Minangkabau

Sangat menarik sekali tulisan dari Saiful Guci dalam Para Lareh terakhir tahun 1905-1914, di Sumatera Barat dulunya bahwa nama-nama luhak dan pembagian administrasi merupakan simbolisasi Islam. Menurut tulisannya, nama-nama Luhak sebagai berikut :
  1. Luhak Lima Puluh mencerminkan peristiwa Isra' Mi'raj, dimana rakaat Shalat yang semula disuruh 50 kali berkurang 45 kali sehingga menjadi 5 waktu
  2. Luhak Agam Tuo, muncul setelah disepakati agama yang boleh hidup hanya Islam. Biaro-biaro Hindu dirobohkan, ditimbun dengan tanah-tanah yang diambil dari Bukik Batabuh melalui Pasanehan
  3. Luhak Tanah Datar, muncul dengan simbolisasi bahwa manusia nantinya akan dikumpulkan di Padang yang Datar yakni Padang Mahsyar. Biaro Hindu yang lama kemudian ditimbun sehingga tinggal nama.
  4. Luhak Kubung Tigobaleh berasal dari Kabuang XIII yakni 13 orang yang datang dari Solok Salayo belajar agama dan menyalin Al Quran kepada Tuanku Luhuang di lereng Merapi Singgalang yang disebut Luhuang XIII dengan cara membagi 13 bagian.

Simbolisasi Islam dalam Jumlah Wilayah Luhak Lima Puluh Koto

Lima waktu sholat menjadi 5 wilayah di Luhak Lima Puluh Koto :
  1. Luhak
  2. Lareh
  3. Ranah
  4. Hulu
  5. Sandi
Tiga belas Rukun Shalat menjadi 13 kelarasan :
  1. Kelarasan Koto Nan Ampek
  2. Kelarasan Koto Nan Gadang
  3. Kelarasan Payo Basuang
  4. Kelarasan Halaban
  5. Kelarasan Limbukan
  6. Kelarasan Situjuh
  7. Kelarasan Batu Hampar
  8. Kelarasan Guguk
  9. Kelarasan Mungkar
  10. Kelarasan Lubuk Bertingkap
  11. Kelarasan Sungai Beringin
  12. Kelarasan Sarilamak
  13. Kelarasan Taram

Simbolisasi Islam dalam Jumlah Wilayah Luhak Agam

Sifat 20 yang harus dimengerti anak negeri yang Islam menjadi jumlah 20 kelarasan :
  1. Kelarasan Koto Nan Ampek
  2. Kelarasan Banuampu
  3. Kelarasan Ampek Angkek
  4. Kelarasan Kapau
  5. Kelarasan Salo
  6. Kelarasan Sungai Puar
  7. Kelarasan Candung
  8. Kelarasan Tilatang
  9. Kelarasan Kamang
  10. Kelarasan Basa
  11. Kelarasan IV Koto Agam
  12. Kelarasan Megat
  13. Kelarasan IV Koto Maninjau
  14. Kelarasan VI Koto Maninjau
  15. Kelarasan Matur
  16. Kelarasan Andalas Maninjau
  17. Kelarasan Kotaraja Lubuk Sikaping
  18. Kelarasan Lubuk Sikaping
  19. Kelarasan Pasaman
  20. Kelarasan Sundatar

Simbolisasi Islam dalam Jumlah Wilayah Luhak Tanah Datar

Jumlah zikir yang harus dibaca agar selamat di Padang Pasar yakni Tasbih, Tahmid dan Takbir yang 33, menjadi 33 kelarasan, yakni :
  1. Kelarasan Lima Kaum
  2. Kelarasan Padang Genting
  3. Kelarasan Pagaruyung
  4. Kelarasan Saruaso
  5. Kelarasan Salimpaung
  6. Kelarasan Rao-rao
  7. Kelarasan Sungai Tarab
  8. Kelarasan Gurun
  9. Kelarasan Sungai Jambu
  10. Kelarasan Pariangan
  11. Kelarasan Sumanik
  12. Kelarasan Tanjung
  13. Kelarasan Batipuh
  14. Kelarasan Bunga Tanjung
  15. Kelarasan Sumpur
  16. Kelarasan Simawang
  17. Kelarasan VI Koto Pandai Sikat
  18. Kelarasan IV Koto
  19. Kelarasan Tanjung Balik
  20. Kelarasan Saning Bakar
  21. Kelarasan Singkarak
  22. Kelarasan Sulit Air
  23. Kelarasan Lintau
  24. Kelarasan Buo
  25. Kelarasan Kumanis
  26. Kelarasan Sumpur Kudus
  27. Kelarasan Silungkang
  28. Kelarasan Padang Sibusuk
  29. Kelarasan Talawi
  30. Kelarasan Sijunjung
  31. Kelarasan Kotabaru Sijunjung
  32. Kelarasan Kota Tujuh
  33. Kelarasan Lubuk Tarab

Comments

Popular posts from this blog

Marga Sitorus

Marga Sitorus menelurkan orang-orang yang hebat di antaranya Dr. Raja Sutan D.L. Sitorus (pengusaha sekaligus pendiri Partai Peduli Rakyat Nasional) dan H. Khairuddinsyah Sitorus,SE (Bupati Labuhan Batu Utara). Secara etnografis, marga Sitorus merupakan marga Batak. Bagaimana riwayat Marga Sitorus ini?

Marga Pulungan

Pada prinsipnya ada empat marga di tanah Mandailing. Di antara keempat marga tersebut, marga Pulungan merupakan marga yang pertama mendiami tanah Mandailing, disusul Rangkuti, Lubis dan Nasution.Beberapa kelompok marga lain, yakni Batubara dan Rambe datang lebih belakangan.

Marga Siregar

Suku/marga Siregar merupakan marga yang mendominasi wilayah Angkola, Sipirok dan Padang Lawas. Siregar dipercaya adalah kula Batak varna Ksatria dari JATI CHANDRAWANGSA (Dinasti Bulan) gotra LONTUNG.

Antara Minangkabau dan Melayu

* Sebuah Hipotesis Etnografis * Masyarakat yang mendiami perbatasan Riau dengan Sumatera Barat memiliki budaya yang hampir sama dengan masyarakat Sumatera Barat. Bahasa yang digunakan sama-sama berujung ‘o, ek, eh dan sebagainya yang kalau diperbandingkan persamaan antara bahasa Melayu mereka dengan bahasa Melayu Riau/Johor lebih jauh dibandingkan persamaan dengan bahasa Minangkabau.

Share Like