Skip to main content

Sejarah Makna Melayu, Batak dan Minang

Melayu, Minang dan Batak adalah nama tiga etnis yang tinggal di bagian utara bagian barat Sumatera.Arti nama etnis ini bergeser-geser pada setiap zaman sehingga penggunaannya pun kemudian menimbulkan pro kontra.

Periode-periode makna Batak,Melayu dan Minang

Kata Batak, Melayu dan Minang diperkirakan telah berusia sangat lama, dan terbagi dalam periode-periode:
  1. Periode Prahindu
  2. Periode Hindu
  3. Periode Islam pra Kesultanan Pagaruyung
  4. Periode Islam Kesultanan Pagaruyung
  5. Periode Belanda

Periode Prahindu

Sebelum masuknya agama Hindu di Nusantara, masyarakat di Sumatera pada umumnya terbagi atas 3 kelompok :
  1. Kelompok Jawa
  2. Kelompok Batak
  3. Kelompok Lerca
Pada masa ini, Batak merupakan masyarakat Austronesia yang tinggal di pegunungan dengan kehidupan hanya pada pertanian, peternakan dan perburuan. Mereka umumnya tinggal di pegunungan-pegunungan atau perbukitan dan tidak mengenal budaya menangkap ikan dan pelayaran. Nenek moyang mereka tiba di pulau Sumatera, Nias dan sebagainya dengan rakit-rakit sederhana. Setelah itu mereka tidak pernah lagi menggunakannya.Dalam istilah sejarah yang dipakai mereka adalah kelompok Proto MelayuDi antaranya sisanya di Sumatera adalah etnis Nias.

Masyarakat Lerca/Leco adalah masyarakat Melanesia yang hidup di rawa-rawa dari mencari ikan, mengumpulkan kerang dan memakan daun-daunan. Mereka sudah mengenal pemanfaatan daun untuk pengobatan.Secara fisik tubuh mereka lebih pendek dan dari segi teknologi dan budaya mereka kalah.Orang-orang Lerca kemudian terintegasi dengan kelompok Jawa, sementara sisa-sisanya yang disebut orang Mantir, Leco dan sebagainya hampir-hampir tidak dijumpai lagi.

Kelompok Jawa adalah bagian dari masyarakat Austronesia yang berevolusi mengenal budaya perikanan. Tidak diketahui dengan pasti dari mana kelompok Jawa ini bermula.Tetapi dapat dikatakan dari segi makanan mereka adalah campuran dari pola makanan Austronesia dan Melanesia sehingga bisa jadi mereka berasal dari Nusantara sendiri yang mengalami kontak dengan kelompok Lerca, tetapi kelompok yang diidentifikasikan Deutro-Melayu ini dicatat buku sejarah resmi berasal dari Yunan Selatan.Sementara mitologi asli menyebut mereka berasal dari Ujung Tanah.

Kelompok Jawa adalah masyarakat yang mendiami pulau-pulau yang dulunya disebut dengan Jawa, yakni :
  1. Jawa Kecil/Java Leuser atau Pratama Java, yakni Pulau Sumatera
  2. Jawa Besar atau Groot Java, yakni Pulau Kalimantan
  3. Ujung Tanah yakni Semenanjung Malaka, Tanah Sari (tenggara Myanmar) dan Tanah Genting (Thailand Selatan), dulunya juga meliputi Teluk Bangkok (Teluk Siam) dan Delta Mekong
  4. Pulau Jawa yang konon menurut mitologi terpisah dari Jawa Kecil (Sumatera) dengan terbentuknya Selat Sunda
  5. Sunda Kecil, yakni Madura, Bali, Lombok dan Sumbawa yang konon berpisah dengan pulau Jawa akibat terbentuknya Selat-Selat Madura, Bali dan Lombok
Sumatera, Jawa dan Sunda Kecil konon pernah bersatu dalam satu pulau panjang yang disebut Jawa Kecil.

Perbedaan besar budaya Jawa dan Batak pada masa ini adalah dari segi bahasa. Bahasa yang digunakan kelompok Jawa ini adalah rumpun Sundic - Sulawesi yang secara umum merupakan Rumpun Melayu Sumbawa, yakni :
  1. Melayu - Champa : meliputi bahasa-bahasa Melayu, Minang, Banjar, Dayak Bukit, Dayak Iban, Champa dan Aceh
  2. Sunda
  3. Madura
  4. Bali, Sasak dan Sumbawa
Selain itu termasuk pula rumpun bahasa:
  1. Gayo, Karo dan Pakpak
  2. Simalungun, Toba Silindung, Humbang Samosir, Angkola, Mandailing
  3. Rejang Lebong
  4. Lampung Komering
  5. Jawa Kuno / Jawa Kawi
  6. Bahasa-bahasa Dayak yang bukan rumpun Sulawesi/Filipina
Asal Kata Jawa adalah tradisi pada kelompok ini yang menyebut diri Awa Ihi/Awa Iki, Awak Iko dan menyebut etnisnya Rang Awa/ Orang Awak/Orang Jawa, Orang Jao, Orang Jau dan kemudian oleh orang Hindu menjadi Yawaka, Javaka dan oleh orang Arab Zabag.

Periode Hindu

Pada masa Hindu, masyarakat masih dikategorikan dua yakni Jawa dan Batak. Jawa untuk masyarakat yang menerima budaya Hindu, Batak untuk yang melestarikan budaya tradisional, di antaranya masih melanjutkan tradisi pengayauan.Di daerah kepulauan yang tidak ada Proto Austronesia, Batak dialihkan untuk sisa-sisa kelompok Leco/Mantir yang masih bertelanjang dan tinggal di gua-gua seperti di Gua Kotabatak Bintan.

Periode Islam awal sebelum Kesultanan Pagaruyung

Pada awalnya orang-orang Islam masih mengakui mereka orang Jawa dengan istilah yang diArabkan Jawi. Perubahan terjadi ketika Kesultanan Malaka yang dikuasai dinasti Melayu masuk Islam. Pada saat itu seluruh yang masuk Islam diakui Melayu (kaum raja) sehingga di sini ada 3 kelompok etnis : Jawa - Hindu, Melayu Islam, Batak non Hindu/Islam (diantaranya Batak Pulau Palawan). Di Pulau Sumatera, pasca peristiwa Minangkabau, Melayu digunakan untuk Islam, Minang untuk Hindu Pagaruyung, Batak untuk non Islam/non Minang.Karena periode ini orang-orang Sumatera, Kepulauan dan Semenanjung umumnya sudah Melayu, Jawa mulai dikhususkan untuk Jawa Majapahit yang masih Hindu.

Periode Islam kesultanan Pagaruyung

Pada masa ini orang Minang telah memeluk agama Islam, sehingga istilah Melayu dan Minang dapat dipakai bersamaan untuk rakyat Pagaruyung dan Batak untuk kumpulan etnis non Islam Sumatera.Penggunaan istilah Batak dan Melayu terutama di daerah Barus, orang Pedalaman yang masuk Islam disebut Melayu sementara orang Pesisir yang kembali Hindu disebut Batak.

Periode Belanda

Belanda dan Inggris yang memasuki Tapanuli tidak mengikuti pola agama seperti yang digunakan masyarakat pesisir Tapanuli. Karena umumnya masyarakat Melayu memang menggunakan bahasa Melayu dan adat istiadat yang cenderung matrilineal, orang Eropa mengklasifikan penduduk Sumatera Melayu dan Batak dari segi etnografis. Pada akhirnya, diketahui etnis Rejang dan Lampung ternyata bahasanya berbeda dengan orang Melayu, Minang, begitu pula Mandailing dan Aceh. Hal sebaliknya dengan masyarakat yang dikategorikan Batak, orang Nias, Enggano dan Mentawai ternyata memiliki perbedaan yang signifikan dengan orang pedalaman Tapanuli.

Pada mulanya Belanda ingin menggabungkan Nias, Tapanuli, Angkola Mandailing dalam Karesidenan Batak, tetapi setelah ditentang masyarakat, digunakan istilah Karesidenan Tapanuli. Sementara Bataklanden tanah Batak khusus untuk Tapanuli Utara yang menerima istilah itu, berhubung daerah-daerah ini merupakan kumpulan daerah yang bersaing dan hampir tidak pernah bersatu, terutama persaingan antara kelompok Humbang dan Samosir dengan Silindung dan Toba. Nama Batak dapat diterima karena secara umum secara berabad-abad nama tersebut telah digunakan oleh masyarakat Pesisir, Angkola dan Mandailing terhadap mereka.

Comments

Popular posts from this blog

Marga Sitorus

Marga Sitorus menelurkan orang-orang yang hebat di antaranya Dr. Raja Sutan D.L. Sitorus (pengusaha sekaligus pendiri Partai Peduli Rakyat Nasional) dan H. Khairuddinsyah Sitorus,SE (Bupati Labuhan Batu Utara). Secara etnografis, marga Sitorus merupakan marga Batak. Bagaimana riwayat Marga Sitorus ini?

Marga Pulungan

Pada prinsipnya ada empat marga di tanah Mandailing. Di antara keempat marga tersebut, marga Pulungan merupakan marga yang pertama mendiami tanah Mandailing, disusul Rangkuti, Lubis dan Nasution.Beberapa kelompok marga lain, yakni Batubara dan Rambe datang lebih belakangan.

Marga Siregar

Suku/marga Siregar merupakan marga yang mendominasi wilayah Angkola, Sipirok dan Padang Lawas. Siregar dipercaya adalah kula Batak varna Ksatria dari JATI CHANDRAWANGSA (Dinasti Bulan) gotra LONTUNG.

Share Like