Skip to main content

Marga Tungkal Ulu

Tungkal Ulu adalah suatu marga yang terletak di Kabupaten Tanjung Jabung Barat Propinsi Jambi.Marga Tungkal Ulu berpusat di Merlung yang saat ini meliputi Kecamatan Merlung, Kecamatan Ranah Mendalau dan Kecamatan Muara Papalik.

Asal Usul Nama Tungkal

Nama Tungkal berasal dari bengkal, yakni kayu yang puntungnya hanyut di muara Batang Pengabuan pada saat Raja Johor sampai di sana.

Penghuni Awal Marga Tungkal Ulu

Sebelum abad ke-17 M, Marga Tungkal Ulu telah didiami oleh manusia yang bertempat di Merlung, Tanjung Paku dan Suban yang dipimpin oleh Demong.

Datuk Andiko ke Marga Tungkal Ulu

Pada abad 17 M, 199 orang dari Pariangan Padang Panjang, dipimpin Datuk Andiko dari Suku Chaniago turun ke Durian Ditakuk Rajo (perbatasan Riau Jambi) terus ke Sialang Balantak Besi (Singkut Sarolangun) terus ke Bukit Ambunan Tulang (perbatasan Tanah Tungkal dan Tungkal Pengabuang dengan Tanah Mesumai Tebo) lanjut ke Bumbun Sarang Berai (ulu Batang Pengabuan) lalu ke Tunggul Nan Belepat (air terjun Labing Batu Betingkap) menghilir alur-alur air di sela-sela batu sampai ke Temulun menghilir ke Sungai Sangkilan (anak Batang Pengabuan). Di sini berpencar 2, 100 orang menunggu di Sangkilan, 99 orang dipimpin Datuk Andiko menghiliri batang sungai.

Rombongan yang menghiliri sungai berhenti di desa Penyabungan, yang diberi nama karena di sini untuk mengisi waktu istirahat diadakan hiburan sabung ayam. Rombongan menghilir lagi hingga tiba di Pulau Ringan, Merlung yang saat itu dipimpin Demong Nato, kemudian menghilir sungai lagi dan berhenti di Sungai Kebanyakan, yang diberi nama karena di sini didirikan kemah-kemah (dalam bahasa Johor kubu-kubuan atau bagan). Rombongan Datuk Andiko ternyata terlalu lama menghilir, sehingga dianggap mungkir janji. Ketika Datuk Andiko dan rombongan kembali ke ulu, 100 orang yang menunggu tadi ternyata sudah berangkat dan ketika disahut memberi tanda tidak boleh diikuti.

Batas wilayah Marga Tungkal

Pada masa Johor, batas wilayah Marga Tungkal adalah dari Bumbun Sarang Murai mengarah ke Labing Batu Bertingkap sampai ke Air Alas Alang Tigo Pulau Berhalo , Pulau Kijang dan Bukit Cundung Retih Riau.

Pemerintah Johor di Marga Tungkal Ulu

Perahu layar utusan Raja Talun, raja Johor, ketika sampai ke Ujung Beting hingga Tanjung Babu melihat suak besar yaitu Kuala Batang Pengabuan dan memutuskan untuk memudikinya. Di muara mereka menemukan puntung kayu hanyut di muara Batang Tungkal, yakni kayu bengkal.Di perbatasan Kuala Dasal, sebelah ulu Pelabuhan Dagang sekarang mereka menemukan rombongan Datuk Andiko yang berhasil ditangkap, tetapi Datuk Andikonya sendiri telah keluar dari rombongan, setelah dikejar barulah tertangkap di Sungai Pesapoan (sungai di desa Kampung Baru).Datuk Andiko kemudian bersedia tunduk kepada Johor dan kemudian diangkat menjadi Penghulu. Para Demong mulanya tidak bersedia tunduk kepada Datuk Andiko, tetapi dengan kelihaian Datuk Andiko, berhasil ditundukkan.

Marga Tungkal dibagi menjadi 4 pesukuan, yakni :
  1. Suku Kedusunan Benaluh dipimpin Paduko.
  2. Suku Lingkis dipimpin Rio Singokarti.
  3. Suku Runai Air Talun dipimpin Rio Manaleko Eleng.
  4. Suku Dusun Baru di Balik Bukit dipimpin Rio Manaleko Panai (Lubuk Bernai).
Kedemongan Merlung berubah menjadi Demong Singodilago.

Setelah Lamsasati, anak angkat Datuk Andiko yang ditemukannya saat pulang dari Johor dewasa, pemerintahan Marga Tungkal disusun ulang menjadi Biduando Nan Empat, yakni :
  1. Lubuk Petai dipimpin Kepala Pesukuan bergelar Rajo Orang Kayo Rajo Laksamana dengan wilayah Rantau Badak, Tanjung Paku,Merlung dan Pekan (Taman Raja).
  2. Suku Teberau dipimpin Orang Kayo Depati meliputi Pulau Pauh, Penyabungan dan Lubuk Terap.
  3. Suku Sungai Landul di Badang, pesukuan Mandah Orang Kayo dipimpin Orang Kayo Lamsasati yang kemudian diganti gelar Orang Kayo Alamsyah meliputi Tanjung Bojo sampai Tebing Tinggi, termasuk Senyerang, Teluk Ketapang dan sebagian Sungai Kayu Aro.
  4. Suku Bulan dipimpin Datuk Bendar, meliputi Pelabuhan Dagang, Pematang Pauh dan sebagian Teluk Bengkah Tebing Tinggi.
Suku-suku Biduandolah yang berhak menjadi Datuk Orang Kayo atau Pesirah, tidak diperkenankan suku nan tigo seperti Rio termasuk Demong.

Penghulu Datuk Andiko kemudian pulang ke Pariangan Padang Panjang. 


Pemerintahan Jambi di Marga Tungkal Ulu

Pada tahun 1841-1845, Tungkal dan Merlung di bawah pemerintahan Pangeran Baiuzzaman dari Kesultanan Jambi di Rantau Benar. Pada awalnya disambut baik Orang Kayo Ario Santiko dan Datuk Bandar Dayah, tetapi kemudian berselisih sehingga kedua orang tersebut beserta keluarga besar lari ke hilir dan menetap di Sungai Baung di hilir Teluk Nilau. Perselisihan diselesaikan Pangeran Adi yang diutus Sultan Jambi dengan kesepakatan pembagian Marga Tungkal menjadi dua, yakni:
  1. Daerah Lumahan ke Ulu di bawah pimpinan Badiuzzaman.
  2. Daerah Lumahan ke Ilir Laut yang pemimpinnya disayembarakan, berupa sayembara sejarah Pulau Berhala, yang dimenangkan oleh Orang Kayo Ario Santiko yang sebenarnya adalah Said Idrus, keturunan Arab dari Aceh yang kemudian diberi gelar Pangeran Wiro Kesumo.

Pemerintahan Belanda di Marga Tungkal Ulu

Belanda menempatkan Controlir untuk Tungkal Ulu dan Merlung di Pematang Pauh. Terjadi perlawanan oleh Raden Usman, putra Pangeran Badiuzzaman yang kemudian wafat dan dimakamkan di Pelabuhan Dagang.

Orang Kayo Usman Lubuk Petai membentuk kerajaan Lubuk Petai. H. Muhammad Dahlan menjadi Orang Kayo pertama yang menyusun pemerintahan yang diserang dan ditembak di rumahnya oleh rombongan dari Jambi hingga patah hingga digelar Pasirah Patah.

Dusun-dusun pada masa pemerintahan Pasirah Patah :
  1. Dusun Lubuk Kambing berasal dari Benaluh dan Lingkis.
  2. Dusun Sungai Rotan berasal dari Dusun Timong Dalam.
  3. Dusun Rantau Benar berasal dari Riak Runai dan Air Talun.
  4. Dusun Pulau Pauh berasal dari Kampung Jelmu Pulau Embacang.
  5. Dusun Penyabungan dan Lubuk Terap berasal dari Suku Teberau.
  6. Dusun Merlung berasal dari Suku Pulau Ringan, terbagi suku-suku Pulau Ringan, Kebon Tengah, Langkat, Aur Duri, Kuburan Panjang, Gemuruh dan Teluk yang tunduk kepada Demong.
  7. Dusun Tanjung Paku berasal dari Tangga Larik.
  8. Dusun Rantau Badak berasal dari dusun Lubuk Lalang dan Tanjung Kemang.
  9. Dusun Mudo berasal dari Talang Tungkal dan Lubuk Petai.
  10. Dusun Kuala Dasal yang sekarang menjadi dusun Pecang Belango.
  11. Dusun Badang berasal dari Badang Lepang di dalam. 
  12. Dusun Tanjung Tayas berasal dari Bumbung.
  13. Dusun Pematang Pauh.
  14. Dusun Batu Ampar yang sekarang menjadi Pelabuhan Dagang.
  15. Dusun Taman Raja berasal dari Pekan atau pasar dari kerajaan Lubuk Petai, disebut Taman Raja karena dulunya merupakan tempat pertemuan dan musyawarah raja Lubuk Petai dan Raja Gagak.
  16. Dusun Suban berasal dari Suban Dalam.
  17. Dusun Lubuk Bernai berasal dari Tanjung Getting dan Lubuk Lawas.
  18. Dusun Kampung Baru.
  19. Dusun Tanjung Bojo.
  20. Dusun Kebun.
  21. Dusun Tebing Tinggi.
  22. Dusun Teluk Ketapang.
  23. Dusun Senyerang    Kayo  

Zaman Pesirah Marga Tungkal Ulu

Orang Kayo H. Muhammad Dahlan memerintah hingga tahun 1949. Pada tahun 1951, gelar Orang Kayo berubah menjadi Pasirah. Tungkal menjadi dua Marga :

Pesirah Marga Tungkal Ulu :
  1. Pesirah MT. Fahruddin (1951-1953).
  2. Pesirah Daeng Ahmad anak dari H. Dahlan (1953-1959)
  3. Pesirah Zikwan Tayeb (1959-1967).
  4. 1969 masa transisi perubahan Marga.
  5. Syafei Manturidi (1969-1973).
  6. Adnan Makruf (1974-1982). 
Pesirah Marga Tungkal Ilir :
  1. Raden Syamsuddin (Pamaraf).
  2. M. Jamin.
  3. Pesirah H.Berahim.
  4. Pesirah Ahmad .
  5. Pesirah Asmuni.
  6. Pesirah H.M.Taher.

Comments

Popular posts from this blog

Marga Sitorus

Marga Sitorus menelurkan orang-orang yang hebat di antaranya Dr. Raja Sutan D.L. Sitorus (pengusaha sekaligus pendiri Partai Peduli Rakyat Nasional) dan H. Khairuddinsyah Sitorus,SE (Bupati Labuhan Batu Utara). Secara etnografis, marga Sitorus merupakan marga Batak. Bagaimana riwayat Marga Sitorus ini?

Marga Pulungan

Pada prinsipnya ada empat marga di tanah Mandailing. Di antara keempat marga tersebut, marga Pulungan merupakan marga yang pertama mendiami tanah Mandailing, disusul Rangkuti, Lubis dan Nasution.Beberapa kelompok marga lain, yakni Batubara dan Rambe datang lebih belakangan.

Marga Siregar

Suku/marga Siregar merupakan marga yang mendominasi wilayah Angkola, Sipirok dan Padang Lawas. Siregar dipercaya adalah kula Batak varna Ksatria dari JATI CHANDRAWANGSA (Dinasti Bulan) gotra LONTUNG.

Antara Minangkabau dan Melayu

* Sebuah Hipotesis Etnografis * Masyarakat yang mendiami perbatasan Riau dengan Sumatera Barat memiliki budaya yang hampir sama dengan masyarakat Sumatera Barat. Bahasa yang digunakan sama-sama berujung ‘o, ek, eh dan sebagainya yang kalau diperbandingkan persamaan antara bahasa Melayu mereka dengan bahasa Melayu Riau/Johor lebih jauh dibandingkan persamaan dengan bahasa Minangkabau.

Share Like