Skip to main content

Suku Tombak dan Suku Dasopang

Kerajaan Kotapinang didirikan oleh Batara Sinomba yang berhasil mendamaikan perselesihan antara kaum Suku Tombak dan Suku Dasopang.Apa itu suku tombak dan Suku Dasopang?

Marga Tamba dan Marga Dasopang

Kota Pinang saat ini termasuk Provinsi Sumatera Utara, provinsi yang identik dengan orang Batak. Oleh karenanya, sangat wajar kalau kedua suku ini dikaitkan dengan marga-marga Batak.

Menurut orang Batak:
  1. Marga Tamba merupakan turunan dari Tamba Tua, anak dari Siambaton alias Suli Raja anak dari Tuan Sorba Dijulu anak dari Tuan Sorimangaja dan Nai Ambaton
  2. Marga Dasopang merupakan turunan dari Raja Inaina anak dari Hutagalung anak dari Guru Mangaloksa anak dari Raja Hasibuan anak dari Tuan Sorba Dibanua anak dari Tuan Sorimangaja dan Nai Suanon

Etimologi dan Asal Usul Nama Suku Tombak dan Suku Dasopang

Nama Suku Tombak dan Suku Dasopang berasal dari kata-kata dalam bahasa Melayu Kuno "tombak" dan "sopang".Kata tombak dalam bahasa Melayu Kuno berarti hutan/hutan larangan. Sementara sopang dari kata sepang yaitu kayu yang disebut juga kayu secang atau sappanwood atau brazilwood yang merupakan salah satu produk andalan nusantara di samping kapur barus.Lihat Kerajaan Lamuri.

Kayu sopang diyakini memiliki khasiat untuk menangkal racun.Kulit kayu dan kayunya dimanfaatkan untuk pewarna dan rempah serta bahan obat-obatan untuk mengatasi batuk darah, diare dan disentri, penyembuhan luka dalam, antiseptic, antibakteri dan berbagai khasiat lainnya.

Awalan "da" dalam bahasa Melayu Kuno berarti keramat atau bertuah. Jadi dasopang dapat diartikan kayu sopang bertuah.

Suku Tombak dan Suku Dasopang adalah kaum Melayu Kuno Haru Raya

Untuk membahas apa dan siapa suku Tombak dan Suku Dasopang Kotapinang perlu dikaji secara kirologi fakta-fakta berikut:
  1. Kawasan Rao, Kampar,Rokan,Barumun, Mandailing, Padang Lawas, Angkola dan Uluan sebelum penaklukan oleh Empire Chola merupakan wilayah yang dikuasai oleh KERAJAAN MELAYU KUNA yang berpusat di MAHAT dan kemudian menjelang penyerangan Chola pindah ke MUARA TAKUS dengan meninggalkan serangkaian candi Budha di Kampar, Rokan, Rao, Padang Lawas
  2. Rao, Aru dan Haru berasal dari kata yang sama yakni ARU yang bermakna sungai karena negeri ini dililit sungai-sungai besar dengan beratus-ratus cabangnya, semisal Barumun sendiri yang bercabang hingga perbatasan Mandailing Rao ke kiri dan Sipirok ke kanan
  3. Daerah-daerah di sebelah utara dan timur Pagaruyung ini kemudian berpecah menjadi tiga kesatuan wilayah yakni Kampar, Rao dan Simalungun. Perpecahan ini terjadi karena orientasi perdagangan yakni terbentuknya Pelabuhan Perlak di Utara sehingga orang-orang Simalungun mengambil jalur perdagangan baru yakni Simalungun ke Wampu ke Perlak berubah dari yang sebelumnya Simalungun ke Samosir ke Uluan ke pelabuhan Panai. Sebaliknya Kampar mengubah arah perdagangan ke Singapura.
  4. Pada saat Islam masuk di abad 13 M, Haru masih merupakan salah satu kota perdagangan di tepian Selat Malaka bersama-sama Samudera Pasai yang menggantikan kedudukan Perlak dan Malaka yang menggantikan Singapura
  5. Haru gagal mengganti komoditi andalan ke lada, tetap mengandalkan kayu secang dan produk-produk hutan yang mulai surut nilainya. Pada akhirnya Haru hanya menjadi pengekspor budak yang terutama didatangkan dari Toba Samosir dan Arcat (menurut beberapa orang Rantau Prapat lama) menjadi pelabuhan budak utama
  6. Keredupan Haru menjadi-jadi dengan pindahnya Rokan ke Melaka dan kemudian ke Pagaruyung serta mandirinya Mandailing yang kemudian disusul terbentuknya pelabuhan-pelabuhan di pantai barat di antaranya Air Bangis, Batahan, Natal dan Barus Tapanuli
  7. Kekuatan maritim Haru hancur setelah pertempuran dengan Malaka
  8. Dinasti Haru dari Muara Patontang akhirnya putus setelah penyerangan oleh Aceh. Setelah kematian wakil Aceh dalam penyerbuan Portugis ke Malaka, Aceh tidak lagi memperhatikan Haru yang secara ekonomis tidak potensial membiarkan Haru tanpa raja, yang menimbulkan anarkisme antara Suku Tombak dan Suku Dasopang
  9. Batara Sinomba merupakan tokoh Pagaruyung diperkirakan dari Suku Piliang dan atau marga Nasution yang sakti (karena menaiki Gunung Talamau yang keramat) yang melanggar adat yakni melakukan perkawinan sesuku (bukan sesaudara).Isterinya tersebut kemudian masuk ke Suku Tombak dengan legenda isterinya ditemukan di dalam hutan (tombak).

Raja Kotapinang Dasopang /Nasution, isterinya Tombak

Dengan masuknya permaisurinya ke Suku Tombak, Batara Sinomba kemudian berafiliasi ke Dasopang. Oleh karenanya, sangat maklum kemudian Tuanku Kotapinang di dalam perang Padri disebut-sebut bermarga Dasopang. Sebaliknya, saudara Batara Sinomba yakni Batara Pinayungan merupakan pendiri Marga Nasution di Mandailing, oleh karenanya wajar juga kemudian keturunan Batara Sinomba juga memakai Marga Nasution.

Comments

Popular posts from this blog

Marga Sitorus

Marga Sitorus menelurkan orang-orang yang hebat di antaranya Dr. Raja Sutan D.L. Sitorus (pengusaha sekaligus pendiri Partai Peduli Rakyat Nasional) dan H. Khairuddinsyah Sitorus,SE (Bupati Labuhan Batu Utara). Secara etnografis, marga Sitorus merupakan marga Batak. Bagaimana riwayat Marga Sitorus ini?

Marga Pulungan

Pada prinsipnya ada empat marga di tanah Mandailing. Di antara keempat marga tersebut, marga Pulungan merupakan marga yang pertama mendiami tanah Mandailing, disusul Rangkuti, Lubis dan Nasution.Beberapa kelompok marga lain, yakni Batubara dan Rambe datang lebih belakangan.

Marga Siregar

Suku/marga Siregar merupakan marga yang mendominasi wilayah Angkola, Sipirok dan Padang Lawas. Siregar dipercaya adalah kula Batak varna Ksatria dari JATI CHANDRAWANGSA (Dinasti Bulan) gotra LONTUNG.

Antara Minangkabau dan Melayu

* Sebuah Hipotesis Etnografis * Masyarakat yang mendiami perbatasan Riau dengan Sumatera Barat memiliki budaya yang hampir sama dengan masyarakat Sumatera Barat. Bahasa yang digunakan sama-sama berujung ‘o, ek, eh dan sebagainya yang kalau diperbandingkan persamaan antara bahasa Melayu mereka dengan bahasa Melayu Riau/Johor lebih jauh dibandingkan persamaan dengan bahasa Minangkabau.

Share Like