Skip to main content

Suku-Suku di Minang dan Negeri Terkait

Di Sumatera ada dua suku bangsa yang khas karena memiliki system clan, yakni Batak dengan marganya dan Minang dengan sukunya. Selain persamaan tersebut, etnis yang bersuku memiliki bahasa yang bermiripan, demikian pula dengan etnis yang bermarga. Oleh karenanya, seluruh etnis bersuku diklaim Minang dan seluruh etnis bermarga diklaim Batak. Ada pro kontra di balik itu.


Pro Kontra Klaim Minang

Jika pada etnis bermarga ada pro kontra klasifikasi Batak pada etnis Mandailing, Karo dan Simalungun, hal demikian juga terjadi pada etnis bersuku, yakni pro kontra pada masyarakat Kuantan, Rao dan Kampar. Sebagian penulis Minang mengklaim Kuantan, Rao dan Kampar sebagai bagian dari etnis Minang. Warga etnis ada yang mendukung, tetapi banyak pula yang menolak dengan segala argumennya.

Di antara penolakan tersebut, berdasarkan :
  1. Sistem Persukuan
  2. Bahasa
  3. Sejarah
  4. Adat Istiadat


Bahasa

Salah satu unsur yang dijadikan penolakan oleh masyarakat adalah bahasa. Menurut etnis yang menolak disebut Minang, bahasa mereka tergolong sub bagian dari bahasa Melayu, sama halnya dengan bahasa Minang sendiri. Oleh karenanya, sepantasnyalah disebut Bahasa Melayu Minang, Bahasa Melayu Kampar, Bahasa Melayu Rao atau Bahasa Melayu Kuantan. Jika bahasa Minang ingin berdiri sendiri, maka hal itu tidak secara otomatis menyebabkan Bahasa Melayu Kampar, Bahasa Melayu Rao atau Bahasa Melayu Kuantan menjadi Bahasa Minang Kampar, Bahasa Minang Rao, atau Bahasa Minang Kuantan. Seharusnya, bahasa Minang menjadi bagian dari rumpun bahasa yang menaungi bahasa Minang, bahasa Kampar, bahasa Kuantan dan bahasa Rao.

Bahasa-bahasa tersebut memang dapat diklasifikan ke dalam satu rumpun bahasa. Secara umum, bahasa Melayu dapat dikategorikan dua, yakni :

  1. Bahasa Melayu Kuna, meliputi Rumpun Simalungun, Toba, Angkola, Mandailing dan Rumpun Lampung, Komering.
  2. Bahasa Melayu Muda, meliputi Rumpun Sumatera Tengah (Minang, Kampar, Indrapura, Rao,Rokan), Rumpun Basemah Johor (Ogan, Melayu Johor) dan Rumpun Kalimantan (Banjar, Brunei).
Secara nyata perbedaan ketiga rumpun Bahasa Melayu Muda tersebut adalah pada akhir kata, yakni a' untuk Kalimantan, o untuk Sumatera Tengah dan e untuk Basemah Johor. Ketiga bahasa Melayu Muda tersebut dapat diuraikan hubungannya melalui bahasa Melayu Johor Riau yang disebut bahasa Melayu Tinggi sebagai standar dari bahasa Melayu Muda.

Ketiga bahasa tersebut berasal dari Bahasa Melayu Muda yang berkembang di Pagar Alam dan mengalami perbedaan akibat sejarah politik yakni Basemah Johor (Kerajaan Singapura), Sumatera Tengah (Malayapura) dan Kalimantan (Tanjungpura).

Sementara bahasa Melayu Kuna bermula dari Mahat, dan mengalami perpecahan akibat pecahnya Kerajaan Medang (Merapi Jawa Tengah), aneksasi Cola, keruntuhan Kadaram /Tamralingga hingga kemudian terbentukanya tiga kerajaan Siguntang (Singapura, Malayapura/Pagaruyung dan Tanjungpura).

Unsur persukuan ----> berikutnya.

Comments

Popular posts from this blog

Marga Sitorus

Marga Sitorus menelurkan orang-orang yang hebat di antaranya Dr. Raja Sutan D.L. Sitorus (pengusaha sekaligus pendiri Partai Peduli Rakyat Nasional) dan H. Khairuddinsyah Sitorus,SE (Bupati Labuhan Batu Utara). Secara etnografis, marga Sitorus merupakan marga Batak. Bagaimana riwayat Marga Sitorus ini?

Marga Pulungan

Pada prinsipnya ada empat marga di tanah Mandailing. Di antara keempat marga tersebut, marga Pulungan merupakan marga yang pertama mendiami tanah Mandailing, disusul Rangkuti, Lubis dan Nasution.Beberapa kelompok marga lain, yakni Batubara dan Rambe datang lebih belakangan.

Marga Siregar

Suku/marga Siregar merupakan marga yang mendominasi wilayah Angkola, Sipirok dan Padang Lawas. Siregar dipercaya adalah kula Batak varna Ksatria dari JATI CHANDRAWANGSA (Dinasti Bulan) gotra LONTUNG.

Share Like