Skip to main content

Sejarah Minang dan Etnis Terkait

Pro kontra klaim Minang Melayu pada beberapa etnis yang budayanya mirip, bagian terbesar adalah sejarah.


Periodesasi Sejarah Minang dan Etnis Terkait

Masyarakat Minang dan Melayu sekitarnya telah mengalami proses sejarah yang sangat panjang, yang pada prinsipnya dapat diperiodekan sebagai berikut :
  1. Periode Mahat
  2. Periode Barus
  3. Periode Melayu Tua
  4. Periode Melayu Muda
  5. Periode Panai Kadaram
  6. Periode Cola
  7. Periode Kebangkitan Melayu
  8. Periode Melayu Islam
  9. Periode Kesultanan Pagaruyung
  10. Periode Kesultanan Aceh
  11. Periode Karesidenan Sumatera
  12. Periode Pemisahan Sumatera Tengah

Ringkasan Riwayat Etnis Minang dan Melayu berdekatan

Orang Minang dan Melayu berdekatan pada dasarnya merupakan keturunan patrilineal dari leluhur Proto Indo-Eropa dan Asia Timur Raya yang telah mencapai benua Australia sekitar 50 ribu tahun yang lalu.Secara umum, pada orang Minang dan Melayu terdekat, diwariskan melalui 3 kelompok utama leluhur, yakni :
  1. Austrik (Austro Asiatik/Austronesia) yang merupakan unsur dominan 28 - 40 kya di SEA
  2. Sinitic Burmic 25 - 30 kya di SEA dan
  3. Sibiric estimated 35 kya di Siberia Timur
Unsur Sibirik yang diwarisi merupakan sepupu dari pendahulu Indo Eropa yang diperkirakan memecahkan diri di Asia Tengah (Uzbekistan, Kazakhstan, Siberia Selatan) yang kemudian memencar ke Romania, Scandinavia, Iran Bakhtiari dan Arab, Pakistan, Jordan, Filipina, India, Cina (Han, Uygur, Tibet, Biao, Ai Cham), Taiwan (Pyuma) dan Indonesia (Batak, Melayu, Minangkabau, Kaili, Alor) dan Melanesia. Austrik diperkirakan lahir di Asia Tenggara merupakan sepupu dari Uralic (Finno Ugric :--Baltic, Estonia, Levonia, Hungaria -- dan Samoyedic : --Nenets, Selkup ---). Sinitic Burmic adalah cabang terbesar yang memecahkan diri dari Austrik ke Asia Timur (Cina) dan Tibet kemudian turun kembali ke Asia Tenggara melalui Birma dan Vietnam.

Leluhur dari Minang, Melayu, Mandailing merupakan orang pegunungan yang tinggal di lembah Mahat, kemudian turun ke Daerah Aliran Batanghari dan Batang Barus (Solok Selatan, Pesisir Selatan) akibat majunya perdagangan wewangian di zaman Mesir Kuno. Perkembangan perdagangan menyebabkan terjadinya hubungan intensif antara Barus Tarusan dengan Kottar (tanjung India Selatan dan Sri Lanka) sehingga masuklah pengaruh Hindu ke daerah ini. Budaya Hindu menembus Mahat sehingga terbentuklah Melayu Tua di Muara Takus. Kerajaan ini kemudian berhasil menyatukan dua pusat Megalitikum Sumatera (Mahat Pagaralam) yang menguasai jalur gajah pesisir Timur Bukit Barisan dari Batanghari Utara (Solok, Dharmasyraya, Bangko, Sarulangun) dan Batanghari Selatan (Musi, Lematang, Komering). Di Pagar Alam kemudian berkembanglah Melayu Muda yang kemudian membangun pelabuhan Palembang dan mendirikan Medang di Jawa.

Konflik dengan turunan Kalingga di Jawa menyebabkan pisahnya Sumatera dan Semenanjung dengan tiga kerajaan utama Kadaram (pusat), Melayu Tua dan Pannai. Kerajaan-kerajaan ini kemudian ditaklukan oleh Cola. Setelah kemunduran Cola, digantikan oleh Tambralingga yang di bawah Candrabanyu berhasil menaklukkan Sri Lanka dan sebagian India Selatan hingga ditaklukkan Kerajaan Pandya.

Kebangkitan Melayu

Sampai timbulnya kebangkitan Melayu di Bukit Siguntang, orang-orang Sumatera dan Semenanjung masih menyebut dirinya Jawa, yang berasal dari konotatif panggilan diri Awa Ihi (Awak Iki, Awak Iko) sebelumnya masuknya kata Hindu hamba dan saya (sahaya). Dari Siguntang timbullah ide kebangkitan Melayu. Dari Bukit Siguntang kemudian turun ke Palembang.Dari Palembang kemudian berpecah tiga, yakni Pagaruyung, Singapura dan Tanjungpura.

Islam masuk ke Barus dan Haru. Barus menguasai pelabuhan daerah pesisir selatan dan pesisir utara, keluar dari Pagaruyung.Wilayah Pagaruyung di pantai barat tinggal Pariaman hingga ke Tiku. Haru menguasai Barumun, Rokan dan Kampar. Pagaruyung kemudian mengeksplorasi Batang Kuantan dan Batang Hari.Berdiri Kuantan, Tungkal/Keritang, Kampar (Hilir),Siak, Jambi dan Palembang.

Tanjungpura kemudian jatuh ke Majapahit. Singapura pindah ke Malaka. Jambi dan Palembang jatuh ke Majapahit. Pagaruyung berhasil menahan serangan Majapahit dan semenjak itulah timbul etnis Minangkabau. Malaka kemudian masuk Islam dan memproklamirkan hilangnya persukuan/kasta bagi pemeluk Islam. Siapa pun yang masuk Islam adalah Malayu, sementara di Pagaruyung Malayu hanyalah bagi keturunan raja.Rokan masuk ke Malaka. Indragiri, Kampar (Hilir) dan Siak kemudian juga jatuh ke Malaka, dan berlaku aturan Malaka, setiap yang masuk Islam menjadi Melayu.Sebelumnya mereka disebut Jawi.

Pada masa kesultanan Aceh, dengan dakwah Syekh Burhanuddin, Islam diterima Raja Pagaruyung. Sejumlah wilayah yang lepas (yang lebih dulu masuk Islam) sebagian kembali mengakui Pagaruyung, di antaranya Sungai Pagu, Indrapura, Rokan, Kuantan, Dharmasyraya.Namun, mereka tetap mengaku Melayu, bukan Minang. Sebaliknya, muslim Pariaman juga mengaku Melayu.

Pariaman kemudian dikuasai Aceh. Wilayah real Pagaruyung kembali menyempit hingga tinggal tiga luhak, yakni Tanah Datar, Agam dan Limapuluh.

Jawa/Jawi, Minang dan Melayu

Orang Melayu dan Minang pada mulanya disebut Jawa yang berasal dari sebutan para pendatang karena kebiasaan menghaluskan diri dengan kata-kata Awa Ihi.Orang Hindu kemudian menyebutnya dengan Javaka, sementara orang Arab kemudian menyebut Jabag, Zabag dan Jawi.Malayu pada awalnya adalah kasta dari kaum raja-raja Pagaruyung, Singapura dan Tanjungpura yang bangkit dari Bukit Siguntang Palembang. Malaka kemudian meluaskan etnis ini kepada semua muslim. Minang muncul setelah peristiwa adu kerbau dan sapi yang sangat termasyhur. Tetapi setelah Islam masuk, Pagaruyung mengadopsi pemelayuan ini dengan jalan yang sedikit berbeda dengan Malaka, Suku Malayu merupakan lareh yang panjang meliputi Lareh Koto Piliang dan Lareh Bodi Caniago, dan seluruh suku-suku di Minang secara prinsip juga Melayu karena memecah dari suku induk Melayu.

Akibat pemisahan Sumatera Tengah, etnis yang semula mengaku Melayu di propinsi Sumatera Barat, yakni orang Indrapura (Pesisir Selatan), Dharmasyraya, Hulu Kampar (Lima Puluh Koto), Rao dan Air Bangis (Pasaman) mulai disebut minang.

Comments

Popular posts from this blog

Marga Sitorus

Marga Sitorus menelurkan orang-orang yang hebat di antaranya Dr. Raja Sutan D.L. Sitorus (pengusaha sekaligus pendiri Partai Peduli Rakyat Nasional) dan H. Khairuddinsyah Sitorus,SE (Bupati Labuhan Batu Utara). Secara etnografis, marga Sitorus merupakan marga Batak. Bagaimana riwayat Marga Sitorus ini?

Marga Pulungan

Pada prinsipnya ada empat marga di tanah Mandailing. Di antara keempat marga tersebut, marga Pulungan merupakan marga yang pertama mendiami tanah Mandailing, disusul Rangkuti, Lubis dan Nasution.Beberapa kelompok marga lain, yakni Batubara dan Rambe datang lebih belakangan.

Marga Siregar

Suku/marga Siregar merupakan marga yang mendominasi wilayah Angkola, Sipirok dan Padang Lawas. Siregar dipercaya adalah kula Batak varna Ksatria dari JATI CHANDRAWANGSA (Dinasti Bulan) gotra LONTUNG.

Antara Minangkabau dan Melayu

* Sebuah Hipotesis Etnografis * Masyarakat yang mendiami perbatasan Riau dengan Sumatera Barat memiliki budaya yang hampir sama dengan masyarakat Sumatera Barat. Bahasa yang digunakan sama-sama berujung ‘o, ek, eh dan sebagainya yang kalau diperbandingkan persamaan antara bahasa Melayu mereka dengan bahasa Melayu Riau/Johor lebih jauh dibandingkan persamaan dengan bahasa Minangkabau.

Share Like