Skip to main content

Pro Kontra Bukan Batak

"Bukan Batak" merupakan gerakan yang sekarang menggema-gema di kalangan etnis Mandailing, Karo dan Simalungun. Setiap gerakan tentu ada pro kontranya, termasuk gerakan bukan batak.

Pro Gerakan Bukan Batak

Mereka yang pro gerakan Bukan Batak, pada dasarnya dilandasi oleh semangat :
  1. Sejatinya mereka yang mendeklarasikan bukan batak memang bukan batak. Perumpunan Batak secara historis sama dengan perumpunan Dayak di Kalimantan yang lebih merupakan strategi kolonial dan zending. Perumpunan Batak dimaksudkan untuk tujuan pembentukan suatu rumpun suku bangsa yang besar untuk mengimbangi etnis Melayu di Pesisir, Aceh di Utara dan Minang di Selatan.Dengan perumpunan tersebut, hubungan antara orang Pakpak/Dairi dengan Singkil dan Alas, Karo dengan Melayu Langkat/Deli, Simalungun dengan Melayu Asahan/Serdang/Batubara, Mandailing dengan Melayu Natal/Rao/Pasaman/Rokan, Padang Bolak dengan Melayu Panai/Tambusai terputus.Batak dimaksudkan belum beragama, sehingga varian agama Hindu yang ada yakni Parmalim dan Pamena yang sejatinya sama dengan Kaharingan di Kalimantan dapat diabaikan.
  2. Perumpunan Batak mengabaikan hubungan darah, genetika dan sejarah orang-orang Karo, Pakpak, Simalungun dan Mandailing dengan etnis Melayu sekitarnya (Singkil, Langkat,Deli,Asahan,Batubara,Labuhan Batu,Tambusai,Rokan,Rao,Pasaman,Natal) yang sebenarnya sangat kuat
  3. Nasionalitas Batak digulirkan oleh kepentingan segolongan pemuda dari Tapanuli Selatan yakni Amir Syarifudin Harahap dan Sanusi Pane sebagai reaksi kegagalan mereka berperan di Yong Sumatera yang menurut mereka terlampau didominasi oleh orang-orang Minang yakni Mansur dari Asahan dan Muhammad Yamin dari Sawahlunto. Sebaliknya, dalam Yong yang baru ini mereka juga berlaku sama, yakni menguasai sendiri Yong tersebut.
  4. Dengan terbentuknya Indonesia, telah tercapai persatuan yang lebih tinggi lagi.Oleh karenanya, seharusnya lebih dikedepankan posisi sebagai sebuah suku dari Indonesia daripada sub suku dari suku bangsa Indonesia
  5. Keuntungan sosial, politis dan ekonomis dari persatuan Batak dinilai hanya dinikmati oleh sub etnis tertentu

Kontra Gerakan Bukan Batak

Mereka yang kontra Gerakan Bukan Batak, dilandasi oleh semangat :
  1. Adanya persamaan sistem kekeluargan patrilineal berbasis marga
  2. Adanya persamaan dalam sistem budaya Dalian Na Tolu / Rakut Si Telu
  3. Populasi sub-etnis sangat kecil jika berdiri sebagai suku mandiri, jangankan terhadap suku Jawa atau Sunda, bahkan terhadap etnis-etnis yang lebih kecil lagi
  4. Persatuan Batak memberikan keuntungan secara politis, ekonomis dan sosial terutama bagi kaum perantauan

Comments

Popular posts from this blog

Marga Sitorus

Marga Sitorus menelurkan orang-orang yang hebat di antaranya Dr. Raja Sutan D.L. Sitorus (pengusaha sekaligus pendiri Partai Peduli Rakyat Nasional) dan H. Khairuddinsyah Sitorus,SE (Bupati Labuhan Batu Utara). Secara etnografis, marga Sitorus merupakan marga Batak. Bagaimana riwayat Marga Sitorus ini?

Marga Pulungan

Pada prinsipnya ada empat marga di tanah Mandailing. Di antara keempat marga tersebut, marga Pulungan merupakan marga yang pertama mendiami tanah Mandailing, disusul Rangkuti, Lubis dan Nasution.Beberapa kelompok marga lain, yakni Batubara dan Rambe datang lebih belakangan.

Marga Siregar

Suku/marga Siregar merupakan marga yang mendominasi wilayah Angkola, Sipirok dan Padang Lawas. Siregar dipercaya adalah kula Batak varna Ksatria dari JATI CHANDRAWANGSA (Dinasti Bulan) gotra LONTUNG.

Antara Minangkabau dan Melayu

* Sebuah Hipotesis Etnografis * Masyarakat yang mendiami perbatasan Riau dengan Sumatera Barat memiliki budaya yang hampir sama dengan masyarakat Sumatera Barat. Bahasa yang digunakan sama-sama berujung ‘o, ek, eh dan sebagainya yang kalau diperbandingkan persamaan antara bahasa Melayu mereka dengan bahasa Melayu Riau/Johor lebih jauh dibandingkan persamaan dengan bahasa Minangkabau.

Share Like