Skip to main content

Peran Kesultanan Aceh dalam Penyebaran Islam

Penetapan titik nol peradaban Islam di Nusantara di Barus oleh Presiden Jokowi mendapat respon negatif dari masyarakat Aceh, mulai dari BEM Ar Raniry, Rektor Universitas Islam Prof.Dr.Farid Wajdi Ibrahim MA, mantan rekton UIN Hidayatullah Jakarta Prof.Dr. Azyumardi Azra MA CBE, sejarahwan Aceh Dr. Husaini Ibrahim MA, keturunan raja Aceh Tuanku Warul Waliddin bin Tuanku Raja Yusuf bin Tuanku Raja Ibrahim bin Sultan Alaiddin Muhammad Daudsyah dan novelis Gayo Putra Gaya.


Alasan Penolakan Barus sebagai Titik Nol Islam Nusantara

Argumen yang diajukan oleh para tokoh tersebut sebagai berikut :


  • Barus bersama Tiku dan Pariaman adalah pelabuhan Pagaruyung. Barus dikuasai Aceh pada tahun 1524. Di bawah kekuasan Acehlah, penyembah berhala di Barus berubah menjadi muslim
  • Menurut Azyumardi Azra, tempat pertama masuk Islam adalah Pasai. Menurut Farid Wajdi Peurelak dan menurut Dr. Husaini Ibrahim Lamuri


  • Peran Kesultanan Aceh dalam penyebaran Islam

    Kesultanan Aceh memang berperan dalam penyebaran Islam di Sumatera. Di antaranya :
    1. Pagaruyung masuk Islam menjelang penguasaan Aceh. Pagaruyung pada mulanya merupakan kerajaan Hindu yang tersisa di Sumatera Barat dengan pelabuhannya Tiku dan Pariaman, sementara Tarusan dan sekitarnya telah Islam. Akibat pergaulan dengan pedagang Muslim asal Indonesia yang bermukim di Tarusan, Burhanuddin dari Ulakan menjadi mualaf dan kemudian belajar Islam di Aceh. Syekh Burhanuddin berhasil mengajak istana Pagaruyung memeluk agama Islam.
    2. Pelabuhan-pelabuhan di daerah Pasaman dan Tapanuli di antaranya Air Bangis, Natal dan Barus masuk islam yang dibawah oleh masyarakat Pesisir Selatan.Pada waktu pelabuhan-pelabuhan terbentuk, Aceh berhasil menguasai pelabuhan-pelabuhan tersebu.
    3. Aceh berhasil mengislamkan etnis Gayo dan Alas
    4. Aceh berhasil mengislamkan Asahan, dan sebagian Simalungun.

    Islam sebelum Aceh

    Kerajaan Aceh baru berdiri pada abad 16 bersamaan dengan penguasaan Malaka oleh Portugis. Aceh berhasilkan meyakinkan para penguasa lokal yang sudah mulai puram kekuasaannya di antaranya Pidie sebagai penerus Lamuri, mengalahkan Pasai yang mulai diintervensi Portugis

    Sebelum kedatangan bangsa Champa di Aceh, di Aceh telah ada beberapa kesultanan Islam, yakni :
    1. Pedir pengganti Lamuui
    2. Daya berkembang di eks wilayah Lamuri
    3. Pasai yang bersekongkol dengan Portugis

    Aceh betul penyebar Islam, tetapi bukan yang pertama

    Catatan manuskrip, termasuk yang di Aceh sendiri menunjukkan bahwa kseultanan Aceh berperan dalam penyebaran Islam, tetapi Islam di nusantara sendiri telah berkembang jauh sebelum kedatangan bangsa Champa di Aceh.

    Comments

    Popular posts from this blog

    Marga Sitorus

    Marga Sitorus menelurkan orang-orang yang hebat di antaranya Dr. Raja Sutan D.L. Sitorus (pengusaha sekaligus pendiri Partai Peduli Rakyat Nasional) dan H. Khairuddinsyah Sitorus,SE (Bupati Labuhan Batu Utara). Secara etnografis, marga Sitorus merupakan marga Batak. Bagaimana riwayat Marga Sitorus ini?

    Marga Pulungan

    Pada prinsipnya ada empat marga di tanah Mandailing. Di antara keempat marga tersebut, marga Pulungan merupakan marga yang pertama mendiami tanah Mandailing, disusul Rangkuti, Lubis dan Nasution.Beberapa kelompok marga lain, yakni Batubara dan Rambe datang lebih belakangan.

    Marga Siregar

    Suku/marga Siregar merupakan marga yang mendominasi wilayah Angkola, Sipirok dan Padang Lawas. Siregar dipercaya adalah kula Batak varna Ksatria dari JATI CHANDRAWANGSA (Dinasti Bulan) gotra LONTUNG.

    Antara Minangkabau dan Melayu

    * Sebuah Hipotesis Etnografis * Masyarakat yang mendiami perbatasan Riau dengan Sumatera Barat memiliki budaya yang hampir sama dengan masyarakat Sumatera Barat. Bahasa yang digunakan sama-sama berujung ‘o, ek, eh dan sebagainya yang kalau diperbandingkan persamaan antara bahasa Melayu mereka dengan bahasa Melayu Riau/Johor lebih jauh dibandingkan persamaan dengan bahasa Minangkabau.

    Share Like