Skip to main content

Asal Mula Tradisi Tabut Pariaman

Tabut adalah perayaan khusus yang dilaksanakan pada setiap tanggal 1 s/d 10 Muharam. Tabut yang berisi sesaji diarak-arak dan dibuang ke laut. Arak-arakan ini dikatakan untuk mengenang kamatian Husein bin Ali.

Benarkah Tradisi Syiah

Kata tabut konon berasal dari bahasa Arab yang berarti peti. Tabut dikatakan untuk mengenang potongan tubuh Husein yang diarak dan dimakamkan di Padang Karbala.

Tabut saat ini tinggal dilaksanakan di Pariaman dan di Bengkulu. Di Bengkulu konon dikembangkan oleh Syekh Burhanuddin, pemimpin penganut Syiah yang didatangkan Inggris dari Madras dan Bengali.Tetapi benarkah ada pengikut Syiah di Nusantara?

Syiah menurut sejarahwan

Keberadaan Syiah di Indonesia didasarkan oleh pendapat beberapa sejarahwan, di antaranya :
  1. Hurgronje, R.A. Kern, Stapel, H.J.Van den Bergh, H. Kroeskamp dan Rosihan Anwar berpendapat Islam masuk ke Indonesia dari Gujarat berdasarkan kesamaan dengan Islam di Pantai Malabar dan Koromandel, yang menurut mereka adalah penganut Syiah
  2. G.E. Morrison mengatakan Islam nusantara masuk dari Persia mengingat banyaknya pengaruh bahasa Persia. Catatan dari Yuan-Tchao menyebutkan ada 35 kapal Persia di Palembang pada tahun 99H/717 M. Namun demikian, tidak diketahui Islam Persia tersebut Syiah atau Sunni karena Syiah baru berkembang pesat di Persia pada masa Syah Ismali Syafawi abad 17 M.
  3. S. Qadarullah Fatimi yang berdasar pada laporan Tome Pires (1512-1515), berita-berita China, serta unsur tasawuf yang terdapat di Indonesia dan Malaysia. Menurut Fatimi, pendiri kerajaan Islam pertama di Aceh adalah Merah Silau yang berasal dari Benggala. Kesimpulan ini diambilnya dari catatan perjalanan Tome Pires yang mengabarkan bahwa raja-raja di Sumatra pada waktu itu telah beragama Islam. Petunjuk lainnya adalah, kebiasaan orang Nusantara memakai kain “sarung” yang dikatakan sama dengan kebiasaan orang Benggala.
  4. Karena Islam yang diamalkan di Nusantara bercorak Sunni-Syafi’i, maka ada kemungkinan asalnya dari negeri Mesir, karena negeri inilah yang terbanyak pengikut Syafi’i-nya, dan di sana pula Imam Syafi’i (w.204 H) tutup usia. Pendapat ini dilontarkan oleh S. Keyzer, profesor hukum ketimuran dari Belanda.
  5. Islam datang ke Nusantara melalui Muslim dari China. Sesuai dengan penuturan I-Tsing, seorang agamawan dan pengembara terkenal China yang pada tahun 51 H/671 M, dengan menumpang sebuah kapal milik orang Islam dari Kanton, singgah di pelabuhan muara sungai Bhoga atau Sriboga alias Sribuza, nama lain dari sungai Musi di Palembang yang menjadi pusat kerajaan Sriwijaya ketika itu. Pendapat ini dilontarkan oleh Slamet Muljana seorang pakar sejarah dan ahli filologi dari Universitas Indonesia, menurutnya Islam di Nusantara datang, bukan hanya menopoli dari wliayah India dan Timur Tengah tapi juga dari negeri China, tepatnya propinsi Yunan. Kedatangan Cheng Ho alias Zheng He alias H. Mahmud Syamsuddin (w.1433) dari Dinasti Ming dengan maksud mengamankan jalur lalu lintas laut dari China ke India, Arabia dan Afrika di samping mengadakan hubungan diplomatik pada kerajaan-kerajaan Nusantara sebagai bukti yang absah

Sanggahan Syiah oleh sejarahwan

  1. G.E. Morrison menyatakan teori Gujarat keliru dan janggal sebab Marco Polo menceritakan Cambay pada tahun 1293 sebagai kota Hindu, sementara Gujarat baru jatuh ke tangan Islam pada tahun 1297 M. Selain itu di Gujarat mazhab syafi’i tidak dominan dan cerita-cerita rakyat Aceh lebih diwarnai rasa Tamil daripada Hindi
  2. G.W.J Drewes yang menuding bahwa Keyser tidak tahu jika orang Arab yang datang ke Nusantara mayoritas dari Hadramaut, Yamman, dimana mazhab mereka adalah Syafi’i, andai dia tahu, niscaya akan berpendapat bahwa Islam datang ke Nusantara via Yamman
  3. api pendapat Muljana di atas dipertanyakan oleh Dr Syamsuddin Arif karena sumber pendapatnya diambil dari buku sejarah yang tidak resmi seperti “Babad Tanah Jawa” dan “Serat Kenda” yang ditulis pada zaman kerajaan Mataram abad ke-17 yang perlu dipertanyakan keotentikannya karena kitab tersebut bercampur baur antara fiksi dan fakta serta tidak ditopang dengan bukti-bukti keras semacan prasasti. Hal ini juga dibantah oleh sejarahwan Prof Ahmad Mansur Suryanegara, dari Universitas Padjadjaran Bandung, menurutnya, kesimpulan Muljana sukar diterima
  4. Diyakini bahwa tersebarnya agama Islam di Nusantara berkat usaha para mubalig dari jazirah Arabia secara sistematis dan kontinuitas. Meski tidak dapat dipastikan waktunya, kapan pertama kali mereka datang berdakwah. Namun banyaknya informasi tentang hubungan sudah berjalin selama berabad-abad antara jazirah Arabia dan Nusantara semenjak pra-Islam menjadikan pendapat ini lebih valid. Dokumen-dokumen kerajaan China Dinasti T’ang (618-907) menyebut tentang kunjungan orang Arab pada zaman Khalifah Utsman bin Affan. Dan tak kala muncul kerajaan Sriwijaya di Sumatra, perairan Nusantara semakin kerap dilalui oleh kapal-kapal dagang dari Arabia dan Persia dalam pelayarannya via India ke China. Teori ini diamini oleh Sir John Crawfurd, Thomas Arnold, dan Al-Attas. Alasannya, karena orang Arab yang pertama kali mengajarkan Islam ke Nusantara pastilah bermaszhab Syafi’i yang berada pada kawasan pesisir Arabia tempat mereka mengangkat sauh. Dan memang iya, buktinya penganut Islam yang ada di Nusantara adalah umumnya bermazhab Syafi’i.

Islam Nusantara adalah Syafi'iyah dari Hadramaut

Islam Nusantara berasal dari Hadramaut dengan alasan :
  1. Para habib keturunan Husain bin Ali dari Hadramaut merupakan penyebar utama Islam di Indonesia, mereka adalah penganut Syafi'i. Leluhur mereka yang berhasil membersihkan aliran Syiah dan Khawarij di Hadramaut digantikan oleh Syafi'i
  2. Hubungan Indonesia dengan India terjalin melalui Tamil, yakni kerajaan-kerajaan Cola, Kerala dan Pandya. Di sini, para Habib keturunan Husin bin ALi memulai menyebarkan ajaran Syafi'i dan menikahi wanita tempatan yang kemudian disebut kaum Mappila dimulai dari Malabar hingga ke pesisir pantai India Selatan kemudian ke Sumatera. Pantai India Selatan dan Indonesia sama-sama Syafi'i
  3. Sarung merupakan pakaian tradisional masyarakat Indonesia sebelum Islam masuk, sarung tidak hanya digunakan muslim Indonesia dan muslim Benggala, tetapi juga kaum Budha Thailand

Tabut adalah islamisasi tradisi Hindu

Sebelum Islam masuk, masyarakat Indonesia telah mengenal arak-arakan untuk menghormati Dewi Lautan sebagai dewi kemakmuran. Tradisi ini telah berkembang di kerajaan-kerajaan Hindu Indonesia di antaranya Tanjungpura (Kalimantan Selatan) dan Pagaruyung. Sebuah arca yang terbuat dari emas dibuang ke laut. Pada masyarakat Pagaruyung, Pariaman merupakan pelabuhan tempat pembuangan arca tersebut.

Setelah Islam masuk, tradisi ini diganti dengan historis yang memiliki kesamaan, yakni peristiwa Hasan Husin. Meskipun para Habib, Sayyid, Sidi dan sebagainya bukanlah Syiah, tetapi mereka adalah keturunan Husin bin Ali. Dan Husin adalah cucu nabi yang dihormati oleh seluruh umat Islam.

Kearifan lokal seperti ini juga ada di Jawa yakni upacara persembahan hasil bumi.

Comments

Popular posts from this blog

Marga Sitorus

Marga Sitorus menelurkan orang-orang yang hebat di antaranya Dr. Raja Sutan D.L. Sitorus (pengusaha sekaligus pendiri Partai Peduli Rakyat Nasional) dan H. Khairuddinsyah Sitorus,SE (Bupati Labuhan Batu Utara). Secara etnografis, marga Sitorus merupakan marga Batak. Bagaimana riwayat Marga Sitorus ini?

Marga Pulungan

Pada prinsipnya ada empat marga di tanah Mandailing. Di antara keempat marga tersebut, marga Pulungan merupakan marga yang pertama mendiami tanah Mandailing, disusul Rangkuti, Lubis dan Nasution.Beberapa kelompok marga lain, yakni Batubara dan Rambe datang lebih belakangan.

Marga Siregar

Suku/marga Siregar merupakan marga yang mendominasi wilayah Angkola, Sipirok dan Padang Lawas. Siregar dipercaya adalah kula Batak varna Ksatria dari JATI CHANDRAWANGSA (Dinasti Bulan) gotra LONTUNG.

Share Like