Skip to main content

Suku-suku pembentuk Suku Bangsa Aceh dan Melayu Riau

Etnis lebih ke budaya daripada genetika. Kajian genetika orang Aceh dan Riau menunjukkan kenyataan tersebut. Secara budaya, meskipun masih sama-sama tergolong rumpun Melayu, tetapi etnis Aceh dan etnis Melayu Riau dianggap etnis yang berbeda. Tetapi, kajian genetika menunjukkan bahwa etnis Riau dan Aceh berasal dari genetika yang sama. Genetika mereka justru berbeda dengan para tetangga terdekat mereka, walaupun secara budaya, para tetangga tersebut diklaim etnis yang sama.


Batasan Aceh dan Melayu Riau

Pertama-tama kita harus menjelaskan batasan Aceh dan Riau yang dimaksud di sini. Aceh yang dimaksud di sini adalah etnis Aceh yang mendiami sekitar Banda Aceh, atau ujung utara Sumatera. Sementara Melayu Riau yang dimaksud di sini adalah etnis Melayu yang mendiami kawasan Kepulauan Riau yang berdekatan dengan Singapura.

Kedua etnis merupakan pewaris kesultanan yang besar, yang kemudian berhasil meleburkan etnis-etnis yang berdekatan, sehingga secara budaya dianggap sebagai orang Aceh atau orang Melayu Riau. Padahal, secara genetika ternyata asal usul genetika berbeda.

Suku-suku Pembentuk

Sebenarnya, riwayat-riwayat dan hikayat tempo dulu telah menunjukkan asal usul suku-suku pembentuk etnis Aceh dan Melayu Riau. Para suku bangsa pembentuk tersebut dapat disinkronkan menurut hikayat dan kajian genetika sebagai berikut :


  1. Orang Laut, Orang Laut merupakan etnis pertama yang mendiami Banda Aceh dan Riau. Baik Sejarah Melayu maupun hikayat-hikayat Aceh mengakui hal tersebut. Orang Laut diperkirakan telah mendiami wilayah tersebut sejak masa mesolithik, sehingga adalah turunan dari manusia penghuni gua Kampung Batak di Bintan, dan gua-gua kerang di Laut Tawar. Orang Laut sebenarnya campuran dari etnik, yakni Orang Batak/Bati/Ati merupakan etnis yang mengumpulkan kerang di rawa-rawa atau pesisir pantai yang secara hipotesis diperkirakan pewaris y-DNA C1b2a (Oseanik Melanesia) dan Orang Karak/Karang/Kari merupakan etnis yang telah memulai berburu sotong dengan tombak yang terbuat dari batu tajam di perairan-perairan dangkal yang diperkiran pewaris y-DNA DE. Namun demikian, siapa sebenarnya pewaris kedua etnis awal ini tidak jelas, karena etnolog memperkirakan mereka adalah Negrito, padahal dalam kenyataannya etnis Negrito Batak di Palawan dan Negrito di Semenanjung berasal dari keturunan yang beragam, di antaranya keturunan Mun Khmer.  Tetapi, kedua-duanya orang Aceh dan Riau, memiliki warisan DE dan C1b2a dengan kadar yang hampir sama, yakni DE sekitar 2% dan C1b2a sekitar 5%. DE adalah y-DNA yang di Indonesia hampir-hampir hanya diwarisi oleh kedua etnis ini, sementara C1b2a adalah y-DNA yang hampir merata di Indonesia, terutama di Indonesia Timur, terkecuali etnis Minang, Batak, Nias dan Semende.
  2. Orang Muara, Lautan Sunda Indonesia merupakan tempat dari basal F*, yang mendiami muara sungai-sungai di pesisir Laut/Selat yang bermuara di Selat Lombok, yakni Selat Lombok sendiri, Laut Jawa, Selat Sunda, Selat Karimata, Laut Cina Selatan dan Selat Malaka. Di antara sungai-sungai tersebut di antaranya Bengawan Solo dan Citarum (Jawa), Sungai Jangkok (Lombok), Sungai Musi (Sumatera), Sungai Johor (Semenanjung) dan sebagainya. Mereka merupakan Orang Weda,  yang menurut Teori Out of Africa merupakan penurun dari orang-orang Amerika, Eropa, Asia, Afrika Utara, Tanduk Afrika dan Afrika Timur. Berbeda dengan Orang Bati dan Kari, Orang Pesisir ini telah mengenal penangkapan ikan dengan tuba dan penjeratan burung dengan getah. Kadar y-DNA F* pada Orang Aceh dan Orang Riau 2 (dua) kali lipat dari gabungan Orang Laut, yakni 14%.
  3. Orang Pulau, Australia telah dihuni 40.000 atau 60.000 tahun yang lalu oleh mereka yang turun dari muara Sungai Mali/Irawaddy yang dibawa oleh arus Palung Sunda (Palung di sebelah barat Andaman, Sumatera, Jawa) hingga tiba di Australia Barat. Populasi ini kemudian terpecah antara mereka yang memilih tinggal di gurun Australia dan yang kemudian beradaptasi ke pesisir pantai Australia Timur. Orang pesisir kemudian mendominasi tepian Selat Torres (tenggara Papua Nugini dan timur Australia), Sahul (Maluku Selatan), pesisir Papua Barat, Flores kemudian bergerak ke Sulawesi hingga tiba di perairan Riau dan perairan Aceh. Keturunan ini ditandai dengan y-DNA S dengan kadar 4% pada orang Aceh dan Riau.
  4. Orang Buru. Selain orang Weda dengan y-DNA F*, Indonesia juga merupakan tempat asal kaum pemburu yang mendominasi Amerika, Oseania dan bagian utara Eropa dan Asia dengan pusat penyebaran Asia Tengah dan Asia Tenggara. Di Indonesia, mereka terpecah menjadi K2* (Australia), K2a (Mekong),K2b (Mali/Irawaddy), K2c (Bali), K2d (Jawa) dan K2e (Srilanka). Orang Riau dan Aceh mewarisi K2(?) dengan kadar 4%.
  5. Orang Bandar. Sejarah Asia Selatan dan Tenggara mengalami perubahan setelah invasi Yunani yang dipimpin Alexander ke Asia. India kemudian terbagi dua kekuasaan besar, yakni Yunani di utara dan Dinasti yang didirikan Candra Gupta dan cendekiawan Jain Chanakya di selatan. Cucu Candra Gupta yang beralih dari Jain ke Budha yakni Ashoka, berhasil mengajak penguasa Yunani Kashmir untuk memeluk agama tersebut yang kemudian mengembangkannya ke Asia Tengah hingga mencapai Tibet dan dari Tibet kemudian mencapai Mun yang pada puncaknya menguasai Asia Tenggara dari Munda (India), Mun (Myanmar) dan Khmer (Indocina). Orang campuran Yunani Kashmir dan Mun kemudian  mendirikan pelabuhan-pelabuhan di pemukiman Orang Laut/Muara, yakni Lamuri, Kedah dan Singapura. Orang Aceh dan Riau mewarisi y-DNA Yunani/Kasmir dengan kadar 7% dan Sinitic/Tibetic/Burmic y-DNA O2 28% dan O2a2b1 sekitar 2%.
  6. Orang Minang.Mahat merupakan salah satu tempat tertua di Sumatera yang telah didatangi leluhur orang Minang, Mandailing sekitar 30.000 tahun yang lalu yang diperkirakan tiba dari Muara Sungai Mali (Irawaddy) melalui palung Sunda hingga mencapai perairan Pasaman. Mereka pada akhirnya berintegrasi dengan orang Austronesia yang datang belakangan. Perkembangan pelabuhan Barus menjadi kontak dengan India Selatan dan mulailah orang Minang mendapat pengaruh dari orang-orang Tamil terutama dari pantai Kerala. Tetapi, invasi Sang Sapurba dari Palembang menyebabkan orang-orang keturunan Tamil menyingkir ke Danau Toba menyebabkan orang Minang hampir-hampir tidak memiliki y-DNA R2 yang diwarisi orang Batak Toba, walaupun masih sama-sama berbagi y-DNA P1.  Perkembangan Kesultanan Aceh menyebabkan terjadi migrasi besar-besaran orang Minang, terutama ke pantai barat Aceh, demikian pula perkembangan Kesultanan Malaka, Johor menyebabkan migrasi orang Minang ke Riau. y-DNA Minang P1 pada orang Aceh dan Riau sekitar 4%.
  7. Austrik.Masyarakat Asia Tenggara pada dasarnya memiliki leluhur yang sama yakni Austrik yang kemudian terbagi Austro Asiatik dan Austronesia, kedua-duanya dengan y-DNA O1a, yang pada orang Aceh dan Riau memiliki kadar 17 % (Aceh), 16% (Riau).

Comments

Popular posts from this blog

Marga Sitorus

Marga Sitorus menelurkan orang-orang yang hebat di antaranya Dr. Raja Sutan D.L. Sitorus (pengusaha sekaligus pendiri Partai Peduli Rakyat Nasional) dan H. Khairuddinsyah Sitorus,SE (Bupati Labuhan Batu Utara). Secara etnografis, marga Sitorus merupakan marga Batak. Bagaimana riwayat Marga Sitorus ini?

Marga Pulungan

Pada prinsipnya ada empat marga di tanah Mandailing. Di antara keempat marga tersebut, marga Pulungan merupakan marga yang pertama mendiami tanah Mandailing, disusul Rangkuti, Lubis dan Nasution.Beberapa kelompok marga lain, yakni Batubara dan Rambe datang lebih belakangan.

Marga Siregar

Suku/marga Siregar merupakan marga yang mendominasi wilayah Angkola, Sipirok dan Padang Lawas. Siregar dipercaya adalah kula Batak varna Ksatria dari JATI CHANDRAWANGSA (Dinasti Bulan) gotra LONTUNG.

Share Like