Skip to main content

Perantau Minang di Sumatera Timur

Tanah Minangkabau merupakan salah satu wilayah yang padat karena kesuburan daerahnya yang ditunjang fasilitas pertanian serta pertambangan yang didukung kekayaan mineralnya. Tetapi kesuburan dan kekayaan tersebut menjadi meredup pada saat masuknya Islam ke pesisir Sumatera Timur, karena produk yang dihasilkan negeri ini bukan lagi merupakan produk unggulan perdagangan masa itu, yakni merica atau lada.


Tanah Datar

Salah satu negeri yang paling banyak mengirim perantaunya pada sekitar abad 17 M adalah Tanah Datar. Tanah Datar merupakan pusat negeri Minangkabau karena di sinilah istana Pagaruyung terletak.Sebagai penduduk pusat kerajaan, warga Tanah Datar memiliki peluang paling besar untuk bermigrasi mengikuti perpindahan orang-orang besar Pagaruyung.

Wilayah Tanah Datar merupakan daerah aliran cabang-cabang sungai  Batang Kuantan dan wilayah terdekat dengan aliran Batang Hari, dua sungai yang sangat penting artinya bagi dua pusat perdagangan di timur saat itu yakni Palembang dan Singapura/Malaka.

Lima Puluh

Lima Puluh terletak di aliran Batang Sinamar, salah satu cabang Batang Kuantan. Batang Sinamar merupakan muara dari Batang Agam. Persamaan asal kedatangan ini menyebabkan orang-orang Agam hilir juga diidentifasi sebagai Lima Puluh dan sebagian lagi dengan Tanah Datar sementara dari aliran Batang Tiku sebagai orang Pesisir.

Pesisir

Daerah pesisir telah lama menerima agama Islam, terutama wilayah Indrapura dan daerah sekitar muara Batang Barus. Orang-orang yang datang mengikuti aliran-aliran sungai ini seperti hulu Batang Hari, hulu Batang Barus yakni Kubung Tiga Belas kemudian juga digabungkan dengan orang Pesisir.

Kuantan dan Batang Hari

Kuantan dan Batang Hari adalah tempat bermula perantau Minang menapak. Orang-orang Tanah Datar dan Lima Puluh melalui Sinamar memasuki Silukah di hulu Kuantan dan kemudian menyusuri sungai ini dan membuka perkampungan di sepanjang sungai. Sebagian juga kemudian mencapai Batang Hari terutama negeri-negeri yang dekat dengan Muara Sinamar, muara Ombilin dan Palangki.Kuantan dan Batang Hari merupakan batas akhir dari negeri-negeri yang menjadi vasal dari Pagaruyung, karena negeri-negeri lainnya di Sumatera Timur yang dekat dengan pesisir pantai umumnya lebih menghargai Johor daripada Pagaruyung.

Kampar

Kampar merupakan negeri yang termasuk produktif mengirimkan perantau. Selain itu, daerah ini juga merupakan pintu keluar bagi sebagian orang Rao melalui hulu Kampar dan orang Agam serta Lima Puluh melalui Mahat. Singingi dan Kampar Kiri ternyata juga telah dirintis sebagai jalan masuk ke Tanah Datar melalui hulu Singingi dan hulu Kuantan Silukah untuk kemudian memasuki batang Sinamar.

Jambi

Dari Batang Hari, para perantau Minang kemudian banyak menetap ke Jambi.Jambi merupakan pelabuhan antara tanah Minang dan Palembang melalui Batang Hari. Jambi juga merupakan muara dari banyak sungai-sungai yang berhulu ke tanah Kerinci dan Rejang. 

Palembang

Sejak abad 13M, Palembang dapat dikatakan satu napas dengan Jambi. Palembang yang terletak pada sebuah pulau di hilir sungai Musi telah menjadi pusat perantauan orang Minang yang menjadikan Palembang dan daerah sekitarnya dihuni penutur bahasa yang seakan-akan memisahkan penutur bahasa Melayu Palembang Hulu (Melayu Tengah) dengan penutur bahasa Melayu Kepulauan/Semenanjung.

Bersama-sama Jambi, Palembang akhirnya dikuasai oleh kerajaan Jawa.

Tungkal, Reteh, Indragiri

Tungkal telah berkembang menjadi pemukiman oleh para perantau Minang menjadi alternatif pelabuhan yang menjadi pintasan Batang Hari dari Tebo dan Batang Kuantan dari Cenaku/Gangsal. Dengan aneksasi oleh Malaka, dilanjutkan dengan Johor, hubungan daerah ini dengan Pagaruyung akhirnya terputus meskipun mengakui asal usul puyangnya.

Siak dan Pelalawan

Jika menyebut Kampar sebagai sebuah pelabuhan, maka yang dimaksud adalah suatu pelabuhan yang bersambung-sambung yang berakhir di Pelalawan. Tetangganya adalah Gasib yang kemudian disebut Siak. Daerah yang dikembangkan para perantau Minang ini, pada akhirnya tunduk ke Malaka.

Batubara

Daerah lain yang didominasi perantau Minang adalah Batubara yang telah menjadi pusat perdagangan di kawasan Silau dan Asahan.  Para perantau Minang kemudian berhasil mendirikan perkampungan dengan bekerja sama dengan penguasa di hulunya, yakni para penguasa Simalungun.

Kampai, Langkat dan Tamiang

Daerah lain di Sumatera Timur yang menjadi pusat perantau Minang adalah Kampai,sebuah pulau kecil yang strategis di Teluk Aru. Para perantau Minang berhasil mengembangkan negeri di wilayah ini dengan bantuan dan kerja sama dengan para pemuka Karo.

Panai dan Rokan

Panai dan Rokan merupakan muara dari sungai-sungai yang di hulunya dihuni oleh penduduk yang cukup banyak, yakni orang-orang Mandailing dan Rao. Daerah ini merupakan daerah penghasil beras dan kayu sepang.

Rokan telah lama bergabung dengan Melaka, yakni dengan pernikahan Sultan Malaka dengan putri Rokan, sementara Panai bergabung dengan Johor setelah bantuan Johor kepada Ratu Aru dalam menahan serbuan Aceh. Pada akhirnya, penguasa lokal kedua daerah ini, putus generasi dan dengan banyaknya para perantau dari tanah Minang menjadi alasan untuk merajut hubungan kembali dengan Pagaruyung.

Politik daerah perantauan Minang

Secara umum daerah-daerah perantauan Minang di Sumatera Timur tersebut secara politis terbagi atas lima wilayah:
  1. Wilayah Utara yakni dari Tamiang hingga Pelalawan menjadi klaim Siak yang diakui sebagai anak asuhan Raja Pagaruyung.
  2. Indragiri merupakan wilayah yang berkonflik dengan Pagaruyung meskipun Pagaruyung mengklaim kalau Indragiri adalah vasalnya.
  3. Tungkal kemudian dikuasai Jambi, kerajaan yang diklaim didirikan Puteri Pinang Masak asal Pagaruyung. Kerajaan ini memiliki kerja sama yang erat dengan Kesultanan Indrapura di barat, yang juga kadang-kadang juga disebut Kesultanan Pagaruyung.
  4. Palembang merupakan wilayah yang dikuasai Jawa dan kemudian mengklaim asal usulnya seasal dengan Johor karena bantuan yang diberikan Johor kepada pendiri Kesultanan Palembang.
  5. Terjadi pro kontra di Lampung di antara yang mengakui asal usul dari Sekala Brak - Rejang - Kesultanan Pagaruyung Indrapura dengan asal usul dari Banten dan Palembang.

Comments

Popular posts from this blog

Marga Sitorus

Marga Sitorus menelurkan orang-orang yang hebat di antaranya Dr. Raja Sutan D.L. Sitorus (pengusaha sekaligus pendiri Partai Peduli Rakyat Nasional) dan H. Khairuddinsyah Sitorus,SE (Bupati Labuhan Batu Utara). Secara etnografis, marga Sitorus merupakan marga Batak. Bagaimana riwayat Marga Sitorus ini?

Marga Pulungan

Pada prinsipnya ada empat marga di tanah Mandailing. Di antara keempat marga tersebut, marga Pulungan merupakan marga yang pertama mendiami tanah Mandailing, disusul Rangkuti, Lubis dan Nasution.Beberapa kelompok marga lain, yakni Batubara dan Rambe datang lebih belakangan.

Gotra dan Saudara

Sebelum masuknya Islam di Indonesia, masyarakat Sumatera merupakan penganut Hindu yang taat. Salah satu ajaran Hindu yang mengakar yang hari ini masih dilestarikan melalaui suku atau marga. Pernikahan sagotra yang ditabukan agama Hindu, masih dilestarikan dalam bentuk larangan kawin sesuku atau kawin semarga.

Antara Minangkabau dan Melayu

* Sebuah Hipotesis Etnografis * Masyarakat yang mendiami perbatasan Riau dengan Sumatera Barat memiliki budaya yang hampir sama dengan masyarakat Sumatera Barat. Bahasa yang digunakan sama-sama berujung ‘o, ek, eh dan sebagainya yang kalau diperbandingkan persamaan antara bahasa Melayu mereka dengan bahasa Melayu Riau/Johor lebih jauh dibandingkan persamaan dengan bahasa Minangkabau.

Marga Siregar

Suku/marga Siregar merupakan marga yang mendominasi wilayah Angkola, Sipirok dan Padang Lawas. Siregar dipercaya adalah kula Batak varna Ksatria dari JATI CHANDRAWANGSA (Dinasti Bulan) gotra LONTUNG.

Share Like