Skip to main content

Silsilah Sailendra dan Pandya

Asal usul Sailendra dipertanyakan, ada yang menduga dari India, dari Kamboja dan dari Sumatera asli. Pendapat dari nusantara asli karena dalam prasasti-prasastinya menggunakan campuran bahasa Melayu Kuno, Jawa Kuno dan Sanskerta.

Alasan Bahasa sangat Lemah

Alasan bahasa tersebut tentu saja sangat lemah. Bagaimana pun, Sailendra tentu harus membuat prasasti yang dimengerti oleh pembacanya. Untuk apa dibuat prasasti di tanah Jawa dalam bahasa Hindu yang hanya dikuasai segelintir elit.

Sailendra dan Sailaraja

Dinasti Sailaraja adalah dinasti Funan, kerajaan yang berpusat di seputar Delta Mekong.Kedua kerajaannya ini terkait dengan Kerajaan Kalinga dari Dinasti Sailobavha dan Pandya. Ketika, pasukan Funan mengundurkan diri dari Pugama atau Pugamadavara pada tahun pada tahun 225 M, pasukan Funan dan Mun mengambil alihnya yang kemudian dinamakan Pandya-Pura.Sekarang disebut Panthwa.

Indrawangsa di Sailendra dan Pandya

Arjuna adalah keturunan Pandawa. Pandawa merupakan keturunan Santanu.Santanu adalah putra dari Pratipa. Pratipa adalah Chandrawangsa. Tetapi Arjuna sendiri dikatakan adalah putra Indra. Arjuna adalah Indrawangsa. Menurut beberapa versi Mahabrata, Arjuna menikahi putri Pandya.

Pada abad 7 M, Pandya memiliki lambang tambahan yakni petir dan guntur.

Sailendra berasal dari kata Saila yang berarti gunung dan Indra yang berarti Tuan atau raja dan dapat dialamatkan ke Devendra (Dewa Indra) itu sendiri.

Tanda kerajaan Perak adalah Chap Halilintar. Petir dan Guntur melambangkan Dewa Indra. Dalam ciri (mantra Sanskerta) perak, penguasa disebutkan Maharaja Indra Chandra Bhupati, artinya Perak adalah Chandra Wangsa sekaligus Indra Wangsa.

Siak bernama Siak Sri Indrapura, artinya Siak Kota Indra.

Sailendra dan Pandya sama-sama Chandrawangsa

Dapunta Selendra dikatakan adalah putra Santanu dan Bhadrawati. Artinya Sailendra adalah Chandrawangsa. Pada prasasti Nalanda, 860 M, Balaputra Dewa, raja Suwarnabumi adalah putra Samaragriwa dari ibu Tara putra Dharmasetu dari Candrawangsa.

Menurut tradisi Hindu, selama banjir besar Manu putra Surya diselamatkan oleh  Wisnu dalam bentuk Matsya avatar (ikan). Manu kemudian memiliki 10 anak dan keturunannya disebut manusia. Keturunan putranya Iswaku, membentuk garis keturunan Suryawangsa. Sementara putrinya Illa, dinikahi oleh Chandra, putra Budha membentuk garis keturunan Chandrawangsa. Chola adalah Suryawangsa,Pandya Chandrawangsa. 



Sailendra dan Pandya berawal pengikut Siwa

Raja-raja Pandya mengatakan dirinya Minankita Sailendra, artinya Tuan dengan lambang ikan, (khususnya ikan mas ganda) yang berarti terkait dengan Siwa, dewa Pandya.Pandya disebut dengan beberapa istilah :
  1. Malayan (Penguasa Bukit/Gunung) karena kerajaan aslinya pegunungan, yang disebut Kumari yang terdiri dari rangkaian pulau bergunung. Gunung Meru asli katanya di sana.
  2. Thennavan (dari selatan)
  3. Panchavan (Lima Orang) yakni diperintah 5 raja dengan 1 raja utama.
Penyembahan Resi Agastya tidak populer di India Utara. Agastya adalah kulaguru (pendeta keluarga) dari raja-raja Pandya. Agastya dibawa dari Tamil ke Indonesia pada abad ke 7 M. Agastya di Indonesia dikenal sebagai Batara Guru. Batara Guru dikatakan adalah Siwa itu sendiri.Sailendri merujuk kepada Dewi Parwati, oleh karenanya suaminya Siwa juga bisa disebut Sailendra.

Menurut prasasti Raja Sankhara, raja tersebut berpindah menjadi penganut Budha dari sebelumnya agama Siwa, karena agama tersebut ditakuti orang.

Comments

Popular posts from this blog

Marga Sitorus

Marga Sitorus menelurkan orang-orang yang hebat di antaranya Dr. Raja Sutan D.L. Sitorus (pengusaha sekaligus pendiri Partai Peduli Rakyat Nasional) dan H. Khairuddinsyah Sitorus,SE (Bupati Labuhan Batu Utara). Secara etnografis, marga Sitorus merupakan marga Batak. Bagaimana riwayat Marga Sitorus ini?

Marga Pulungan

Pada prinsipnya ada empat marga di tanah Mandailing. Di antara keempat marga tersebut, marga Pulungan merupakan marga yang pertama mendiami tanah Mandailing, disusul Rangkuti, Lubis dan Nasution.Beberapa kelompok marga lain, yakni Batubara dan Rambe datang lebih belakangan.

Gotra dan Saudara

Sebelum masuknya Islam di Indonesia, masyarakat Sumatera merupakan penganut Hindu yang taat. Salah satu ajaran Hindu yang mengakar yang hari ini masih dilestarikan melalaui suku atau marga. Pernikahan sagotra yang ditabukan agama Hindu, masih dilestarikan dalam bentuk larangan kawin sesuku atau kawin semarga.

Antara Minangkabau dan Melayu

* Sebuah Hipotesis Etnografis * Masyarakat yang mendiami perbatasan Riau dengan Sumatera Barat memiliki budaya yang hampir sama dengan masyarakat Sumatera Barat. Bahasa yang digunakan sama-sama berujung ‘o, ek, eh dan sebagainya yang kalau diperbandingkan persamaan antara bahasa Melayu mereka dengan bahasa Melayu Riau/Johor lebih jauh dibandingkan persamaan dengan bahasa Minangkabau.

Marga Siregar

Suku/marga Siregar merupakan marga yang mendominasi wilayah Angkola, Sipirok dan Padang Lawas. Siregar dipercaya adalah kula Batak varna Ksatria dari JATI CHANDRAWANGSA (Dinasti Bulan) gotra LONTUNG.

Share Like