Skip to main content

Syekh Burhanuddin Ulakan

Orang Minang identik dengan Islam, dan Minangkabau identik dengan Kerajaan Pagaruyung.Tetapi menyatunya Islam dengan adat di Minangkabau baru terjadi pada tahun 1650 M, berkat upaya ulama legendaris Syekh Burhanuddin Ulakan. Siapa Syekh Burhanuddin.

Silsilah Keluarga Syekh Burhanuddin Ulakan

Ayah Beliau adalah Pampak Sati Karimun Merah, bersuku Koto, sementara ibunya Cukuik Bilang Pandai bersuku Dalimo. Orang tuanya tersebut merantau Guguak Sikaladi Pariangan Padang Panjang ke Ulakan Pariaman. Sebagaimana tradisi, Suku Dalimo menjadi Guci atau Piliang di Pariaman, maka berdasarkan anjuran Tuanku Datuk Katumanggungan dipakai Suku Guci.

Nagari Ulakan

Nagari Ulakan dibuka pada abad 12 M oleh suku Panyalai (Chaniago) dan suku Koto dari yang turun dari darek. Kemudian menyusul suku Sikumbang mengisi adat pada suku Koto dan Suku Jambak mengisi adat pada suku Koto, disusul Suku Guci yang mengisi adat pada suku Panyalai.

Ulayat Ulakan dikuasai Rajo Nan Sabaleh, yakni :
  1. 4 rajo bermahligai di Ulakan: 1. Rangkayo Rajo Amai said, 2.Rangkayo rajo Dihulu 3.Rangkayo rajo Sulaiman , 4. Rangkayo Rajo Mangkuto
  2. 5 rajo bermahligai di Tapakis: 5.Rangkayo rajo Tan Basa,6.Rangkayo Rajo Majo Basa , 7.Rangkayo Rajo malako , 8.Rangkayo Rajo Malakewi,hingga 9.Rangkayo Datuak Batuah
  3. 1 rajo bermahligai di Ketaping : 10.Rangkayo Rajo Sampono
  4. 1 rajo bermahligasi di Tanjung Medan: 11. Bijorajo Datuk Tamin Alam

Pengenalan Islam oleh Syekh Burhanuddin

Syekh Burhanuddin lahir tahun 1026 H atau 1607 M dengan nama Pono. Pada masa kecilnya, pernah berhadapan dengan harimau saat menggembala kerbau. Meski berhasil selamat berkat kepandaian beladirinya, tetapi berakibat kakinya pincang.

Pada waktu kecilnya, Pariaman dan Pagaruyung masih didominasi agama Hindu Budha.Tetapi Islam telah masuk ke Pakan Tuo Batang Bangkaweh. Pono yang berniat diajari berniaga oleh ayahnya, bertemu dengan seorang Gujarat di sini, yang disebut dengan Illapai, yang mempengaruhi minat Pono untuk belajar Islam. Illapai kemudian menceritakan bahwa di Tapakis ada ulama dari Mekah yang disebut Tuanku Madinah yang menimbulkan niat pada Pono untuk belajar dan diutarakannya kepada ayahnya. Mengingat semangat anaknya dan iba karena diperolok-olok karena kepincangannya, ayahnya mengabulkan. Keluarga Pono 6 rombongan menyelusuri hutan menghiliri batang air melewati Negeri Malalo Singkarak, turun gunung sampai Nagari Asam Pulau, mengiliri anak sungai Batang Anai sampai Nagari Sintuak Lubuk Alung. Di Sintuak dalam usia sebelas tahun keluarga ini hidup menggembala kerbau dengan padang penggembalaan melebar hingga ke Tapakis. Di sini berjumpa Idris dari Tanjung Medan yang kelak bergelar Khatib Majolelo. Dari Idris didapat keterangan tentang Tuanku Madinah alias Syekh Abdul Arif. Pono kemudian berhasil belajar dengan syekh ini.

Tuanku Madinah merujuk Pono untuk berguru ke Aceh pada Syekh Abdurrauf di Singkil. Mengingat keluarga Pampak mulai dimusuhi bahkan berniat membunuh Pono, Pono diizinkan berguru.Berangkatlah Pono menyusuri hutan rimba bukit barisan. Di perjalanan bertemu dengan Datuak maruhun Panjang dari Padang gantiang Batu Sangka, Sitarapang dari Kubuang Tigobaleh Solok, M. Nasir dari Koto Tangah Padang (Koto Panjang), Buyuang Mudo dari Bayang Salido Banda Sapuluah yang mengangkatnya sebagai pimpinan rombongan.Pono menyelesaikan pendidikannya pada Syekh Abdurrauf (Syekh Kuala) setelah mencapai ma'rifat dengan berkhalwat di selama 40 hari di hulu Sungai Aceh, di kaki Gunung Peusangan, selatan Bireun.

Dakwah Syekh Burhanuddin di Pariaman

Pada tahun 1686 M, Syekh Burhanuddin dilepas pulang ke Pariaman oleh Syekh Abdurrauf dengan sebuah taufah dan perahu berpengawal 70 orang dipimpin Panglima Katib Sangko dari Mudik Padang Tandikek. Saat rombongan sampai di Pulau Angso, ditolak oleh masyarakat yang konon merupakan asal nama Ulakan (penulakan).Terjadi perkelahian yang menimbulkan korban kedua belah pihak yang beritanya kemudian sampai ke Basa Nan Barampek di Tandikek Tujuh Koto.Upaya Basa Nan Barampek yang ingin menangkap Katib Sangko ternyata berbuah kematian tiga dari empat Basa Nan Barampek yakni Gagak Tangah Padang, Sihujan Paneh, dan si Wama, tinggal Kalik-Kalik Jantan yang kebal.Pada akhirnya, Syekh Burhanuddin mengirim Katib Sangko ke Syekh Abdurrauf yang mengajarkan pemunah ilmu kebal.Katib Sangko yang tiba dengan tambahan bantuan yang menguasai ilmu pemunah kebal berhasil mendesak Kalik-kalik Jantan ke hulu Batang Mangau di tepi hutan Tandikek Tujuh Koto dan tewas di tempat pertahanan yang disebut Koto Nan Alah.Pengikutnya di seluruh Pariaman kemudian menyerah dan Katib Sangko menjadi mufti Pariaman.

Pesantren di Pariaman

Idris Majolelo kemudian menjemput Syekh Burhanuddin yang kemudian mendirikan surau di Tanjung Medan, dengan murid pertama keluarga Syekh Burhanuddin sendiri dan keluarga Idris Majolelo.

Pagaruyung menjadi Kesultanan

Perkembangan Surau Syekh Burhanuddin sampai ke istana Pagaruyung dan menggoncangkan tanah Minang.Salah satu yang menguntungkan, teman seperguruannya Datuk Maruhum Basa diangkat Raja Pagaruyung sebagai Tuan Kadhi di Padang Ganting.

Syekh Burhanuddin kemudian diiringi Idris Majolelo menemui Raja Ulakan, Mangkuto Alam.Niat Syekh Burhanuddin berdakwah diterima oleh Mangkuto Alam setelah bermusyawarah dengan Urang Nan Sabaleh Ulakan.Akhirnya Syekh Burhanuddin, Idris Majolelo, Mangkuto Alama, Urang Nan Sabaleh diiringi hulubalang menghadap Daulat Yang Dipertuan Raja Pagaruyung. Pertama dijumpai adalah Datuk Bandaro Sungai Tarab, yang kemudian mengadakan sidang di Bukit Marapalam.

Perjanjian Marapalam pertama ini menegaskan bahwa adat dan sarak adalah norma hukum yang saling isi mengisi.

Comments

Popular posts from this blog

Marga Sitorus

Marga Sitorus menelurkan orang-orang yang hebat di antaranya Dr. Raja Sutan D.L. Sitorus (pengusaha sekaligus pendiri Partai Peduli Rakyat Nasional) dan H. Khairuddinsyah Sitorus,SE (Bupati Labuhan Batu Utara). Secara etnografis, marga Sitorus merupakan marga Batak. Bagaimana riwayat Marga Sitorus ini?

Marga Siregar

Suku/marga Siregar merupakan marga yang mendominasi wilayah Angkola, Sipirok dan Padang Lawas. Siregar dipercaya adalah kula Batak varna Ksatria dari JATI CHANDRAWANGSA (Dinasti Bulan) gotra LONTUNG.

Marga Pulungan

Pada prinsipnya ada empat marga di tanah Mandailing. Di antara keempat marga tersebut, marga Pulungan merupakan marga yang pertama mendiami tanah Mandailing, disusul Rangkuti, Lubis dan Nasution.Beberapa kelompok marga lain, yakni Batubara dan Rambe datang lebih belakangan.

Kerajaan Batas

Pada saat Portugis menguasai Malaka, ada dua kerajaan yang beribukota Pane, yakni Aru dan Batas. Kerajaan Batas tidak pernah terpublikasi, keduanya selalu dikaitkan dengan Aru.

Share Like