Skip to main content

Suku Melayu Riau

Riau dikibar-kibarkan sebagai pusat budaya Melayu Nusantara, tetapi di sebalik itu ada yang mengklaim bahwa Melayu Riau sebenarnya Minang. Bagaimana sebenarnya Melayu Riau tersebut?

Bahasa Melayu di Riau

Masyarakat Melayu di Riau sebenarnya terdiri dari aneka ragam kelompok. Pembagian yang paling jelas adalah berdasarkan bahasa. Berdasarkan bahasa, masyarakat Riau terbagi atas dua kelompok, yakni :
  1. Kelompok Bahasa Melayu Sumatera Tengah atau dideskripsikan secara nasional sebagai Bahasa Minang
  2. Kelompok Bahasa Melayu Kepulauan atau dideskripsikan secara nasional sebagai Bahasa Melayu
Kelompok penutur bahasa yang terbanyak adalah bahasa Melayu Sumatera Tengah (Minang?) dengan dialek sebagai berikut :
  1. Dialek Rokan, dituturkan di Kabupaten Rokan Hulu dan Kabupaten Rokan Hilir
  2. Dialek Kampar, dituturkan di Kabupaten Kampar, Pelalawan, Kota Pekanbaru, Kuantan Singingi, Rokan Hulu, Rokan Hilir dan Indragiri Hulu
  3. Dialek Indragiri dituturkan di Indragiri Hulu, Indragiri Hilir dan Rokan Hulu
  4. Dialek Kuantan dituturkan di Kuantan Singingi
  5. Dialek Basilam dituturkan di Rokan Hilir
Sementara itu bahasa Melayu (Kepulauan) sendiri hanya dituturkan di Meranti, Siak, Bengkalis dan Dumai.

Geohistoris Melayu Riau

Secara geografis dan historis masyarakat Melayu di Riau dapat dikelompokkan secara garis besar sebagai berikut :
  1. Melayu Kuantan Indragiri
  2. Melayu Kampar Siak
  3. Melayu Rokan
  4. Melayu Bengkalis

Rincian Kelompok Melayu Riau

Dengan membandingkan bahasa dan sejarah, maka masyarakat Melayu Riau dapat digolongkan dari utara ke selatan sebagai berikut :
  • Melayu Reteh, yakni masyarakat Melayu yang tinggal di Kecamatan Reteh Indragiri Hilir, memiliki bahasa dan budaya yang mirip dengan Melayu Tungkal. Masyarakat Melayu ini hampir tenggelam secara populasi oleh etnis Bugis
  • Melayu Mandah, yakni masyarakat Melayu yang tinggal di daerah Kecamatan Mandah dan sekitarnya. Secara populasi telah dikalahkan oleh etnis Banjar
  • Melayu Tuo/Talang Mamak, mendiami kawasan selatan Riau sekitar Bukit Tigapuluh meliputi Batang Gangsal, Batang Cenaku, Tigo Balai Kelayang. Merupakan Melayu asal Kerinci Jambi yang mendirikan Kerajaan Tebo yang dihancurkan Majapahit kemudian mengungsi ke Bukit Tigapuluh mendirikan Kerajaan Batupapan di Batang Cenaku, kemudian diorganisir oleh Kerajaan Pagaruyung melalui lembaga kedatukan Patih dan Ketemanggungan Tigo Balai Kelayang yang kemudian terpecah setelah masuknya Kesultanan Indragiri, yang masuk Islam kemudian disebut Melayu Tuo, yang mempertahankan Hindu disebut Talang Mamak
  • Melayu Rengat merupakan masyarakat Melayu di pusat Kesultanan Indragiri meliputi Rengat dan Pasir Penyu,dengan dialek bahasa yang khas yakni belakang 'e seperti bahasa Melayu Kepulauan tetapi di depan 'o seperti bahasa Melayu Sumatera Tengah
  • Melayu Peranap (Tigalorong,Tigarantau, Pucuk Rantau) adalah masyarakat Melayu yang dulunya berafiliasi dengan Kerajaan Padang Lawas, Sitiung dan Siguntur Batang Hari (sering diasumsikan Jambi padahal Dharmasyraya Sumatera Barat), tetapi kemudian berafiliasi dengan Kesultanan Indragiri, terutama setelah kegagalan aneksasi Pagaruyung pada abad 18 - 19 M.
  • Melayu Kuantan adalah masyarakat Melayu yang merupakan perantauan dari Tanah Datar, Limapuluh Koto (Batang Sinamar) dan Solok Sijunjung. Secara bahasa dan budaya, merupakan kelompok Melayu Riau yang paling dekat dengan Minangkabau. Daerah ini merupakan tempat pelarian bangsawan Pagaruyung setelah perang Padri, yakni di Lubuk Jambi.
  • Melayu Petalangan adalah masyarakat Melayu yang merupakan penduduk Kerajaan Kampar (Pelalawan) sebelum ditaklukkan oleh Siak
  • Melayu Singingi adalah masyarakat Melayu pecahan dari Kampar Kiri yang kemudian mendapatkan pengaruh dari Pagaruyung terutama setelah pecahnya Perang Padri sebagai salah satu tempat pelarian bangsawan Pagaruyung
  • Melayu Kampar Kiri adalah masyarakat Melayu bekas wilayah kekhalifahan Kuntu dan Kerajaan Gunung Sailan. Berpisah dari Pagaruyung sekitar abad 13 M karena bergabung dengan Kerajaan Haru dan akhirnya menjadi wilayah mandiri setelah Rokan bergabung dengan Malaka.
  • Melayu Kampar Kanan adalah masyarakat Melayu eks Andiko 44 yang telah berpisah dengan Pagaruyung pada masuknya Islam di Nusantara karena bergabung dengan Haru menjadi wilayah mandiri setelah masuknya Rokan ke Malaka dan berpisahnya Kampar Kiri yang membentuk kekhalifahan Kuntu
  • Melayu Tapung merupakan pecahan masyarakat Melayu Kampar Kanan yang membentuk budaya berbeda karena dikuasai oleh Kesultanan Siak
  • Melayu Rokan merupakan pecahan masyarakat Melayu Kampar yang kemudian dipengaruhi Rao yang membentuk Kerajaan Rokan, berafiliasi ke Haru, kemudian ke Malaka, kemudian ke Pagaruyung dan kemudian mandiri
  • Melayu Tambusai merupakan pecahan masyarakat Melayu Rokan yang melakukan pendekatan budaya dengan Melayu Kotapinang dan Panai dan etnis Mandailing
  • Melayu Rokan Hilir merupakan bagian masyarakat Rokan yang dikuasai oleh Kesultanan Siak
  • Melayu Siak Pelalawan terbentuk dari Melayu Gasib kemudian dipengaruhi campuran budaya Johor, Bintan dan Pagaruyung
  • Melayu Bengkalis Bukit Batu terbentuk dari komunitas perantau Minang pendukung Siak dengan budaya campuran Johor dan Bintan
  • Melayu Meranti merupakan masyarakat Melayu yang paling dekat dengan masyarakat Kepulauan karena hampir murni berasal dari masyarakat Bintan yang hijrah mengikuti Raja Kecil Siak

Comments

Popular posts from this blog

Marga Sitorus

Marga Sitorus menelurkan orang-orang yang hebat di antaranya Dr. Raja Sutan D.L. Sitorus (pengusaha sekaligus pendiri Partai Peduli Rakyat Nasional) dan H. Khairuddinsyah Sitorus,SE (Bupati Labuhan Batu Utara). Secara etnografis, marga Sitorus merupakan marga Batak. Bagaimana riwayat Marga Sitorus ini?

Marga Siregar

Suku/marga Siregar merupakan marga yang mendominasi wilayah Angkola, Sipirok dan Padang Lawas. Siregar dipercaya adalah kula Batak varna Ksatria dari JATI CHANDRAWANGSA (Dinasti Bulan) gotra LONTUNG.

Marga Pulungan

Pada prinsipnya ada empat marga di tanah Mandailing. Di antara keempat marga tersebut, marga Pulungan merupakan marga yang pertama mendiami tanah Mandailing, disusul Rangkuti, Lubis dan Nasution.Beberapa kelompok marga lain, yakni Batubara dan Rambe datang lebih belakangan.

Kerajaan Batas

Pada saat Portugis menguasai Malaka, ada dua kerajaan yang beribukota Pane, yakni Aru dan Batas. Kerajaan Batas tidak pernah terpublikasi, keduanya selalu dikaitkan dengan Aru.

Share Like