Skip to main content

Namora Pande Bosi

Dipercayai turun temurun, nenek moyang orang Mandailing bermarga Lubis adalah Namora Pande Bosi merupakan seorang Bugis yang aslinya bernama Daeng Malela.

Bukti Tertulis Namora Pande Bosi

Bukti tertulis tentang Namora Pande Bosi adalah tulisan pada Patung Lokanatha yang diambil Belanda dari Raja Gunung Tua Padang Lawas. Tulisan beraksara Kawi tersebut diterjemahkan oleh Brandes :
Dirgahayu Tahun Caka 946 bulan Caitra hari ke-3, bertepatan hari Jumat, dewasa itulah Surya, pandai besi, selesai mengukir Batara Lokanatha ini

Hubungan dengan Chola

Beberapa pertanyaan perlu diajukan mengenai hubungan Surya sang Pandai Besi dengan kerajaan Chola sebagai berikut :
  1. Tahun 946 Caka atau 1024 M adalah tahun Rajendra Chola menaklukkan Kadaram,Pannai, Melayu Tua, Lamuri dan kerajaan-kerajaan Asia Tenggara lainnya
  2. Surya menurut mitologi Suryawangsa, wangsa keluarga Chola, merupakan ayah Manu, ayah dari Ikhsvaku yang menurunkan wangsa-wangsa Suryawangsa

Riwayat Namora Pande Bosi menurut Orang Mandailing

Semula beliau bernama Daeng Malela, bergelar Angin Bugis, seorang pengembara Bugis yang tiba di Sigalangan dengan membawa seekor ayam jago. Dia disambut baik oleh raja Sigalangan saat itu yang bermarga Dalimunthe. Daeng Malela berjasa membuat senjata yang membawa kemenangan bagi sang raja sehingga kemudian diberi gelar Namora Pande Bosi artinya Pandai Besi yang mulia dan dinikahkan dengan puterinya Nan Tuan Layan Boyan, seorang perempuan yang sangat pemalu sehingga digelar Boru Dalimunte Naparila artinya puteri Dalimunte yang pemalu. Dari pernikahan tersebut, didapat dua putra yakni Sutan Borayun dan Sutan Bugis.

Suatu ketika, Nan Tuan Layan Boyan meminta Namora Pande Bosi membawa burung yang ditembak di atas air. Pergilah Namora Pane Bosi ke hutan Ayuhara menyumpit burung. Tetapi, burung sumpitannya diambil seorang gadis Lubu yang sangat cantik, Dayang Surto Alus Bonang Nabontar, putri Datuk Bondaro Hunopan Padang Bolak.Dari pernikahan tersebut, didapat dua orang anak yakni Si Langkitang dan Si Baitang.

Namora Pande Bosi meninggalkan istri kedua dan anak-anaknya tersebut dengan meninggalkan tanduk kerbau yang dipotong pada waktu perkawinannya yang diukir sendiri oleh Namora Pande Bosi yang akan dipergunakan sebagai tanda pengenal jika ingin menjumpainya di waktu dewasa.

Tetapi saat anaknya menjumpai ayahnya di Lubu Sitardas, Hatongga tersebut, mereka justru dikata-katai, anak bincacak, anak bincacau, anak singiang-ngiang rimbo, anak dapek di tepi bandar.Keduanya kemudian berladang di luar kampung.

Setelah Namora Pande Bosi meninggal, kedua anaknya menjalankan amanat ayahnya untuk membuka kampung, di Muara Patontang dan Muara Partomuan. Si Langkitang tinggal di Muara Patontang yakni muara dua sungai yang bertentangan di Aek Batang Gadis, yaitu Aek Singengu dan Aek Singangir.Kampung itu kemudian dinamakan Kotanopan, senama dengan kampung asal ibunya Hutanopan.

Baitang melanjutkan perjalanan ke hulu hingga sampai di Muara Partomuan, pertemuan Aek Batang Gadis dengan Aek Batang Pungkut.

Keturunan Namora Pande Bosi

Namora Pande Bosi memiliki keturunan di Tanah Mandailing Raya sebagai berikut :
  1. Lubis Singengu , keturunan Si Langkitang di Kotanopan
  2. Lubis Singasoro, keturunan Si Baitang di Pakantan
  3. Harahap, keturunan Sutan Bugis di Angkola
  4. Hutasuhut, keturunan Sutan Borayun di Angkola

Peran dalam Pembentukan Dalian Na Tolu

Hubungan antara Marga Rangkuti dengan Marga Pulungan terancam retak akibat penolakan dinikahi putri-putri Marga Rangkuti yang melarikan diri dan dikabarkan hilang, yakni Puti Nan Jogi. Dalam kenyataannya, Putri ini menjadi permaisuri Namora Raya Raja Dandani dari Ayuara Sampean Roburan Tua Lubis Muara Patontang Singengu. Sejak itulah dimulai adat Markoum Marsisolkot atau Dalian Na Tolu.Beberapa sumber menyebut Namora Raya Raja Dandani ini sama dengan leluhurnya yakni Namora Pande Bosi.

Mertua Kerajaan Air Bangis

Akibat kemelut di Kesultanan Indrapura 1600-1700, sekelompok orang dipimpin Urang Kayo Lanai Bisai migrasi ke Teluk Air Bangis, memudiki sungai dan bertemu dengan rombongan Naruhum dari Padang Lawas yang merupakan seorang Natoras cerdik pandai penasehat raja.Mereka membentuk pemukiman di Koto Labu dengan pimpinan Urang Kayo Lanang Bisai dibantu Datuk Bandaharo dan Datuk Magek Tigarang.Dari usulan Naruhum, dipilihlah putri Namora Pande Bosi dari Kotanopan yang kemudian diberi nama Puti Reno Bulan.

Comments

Popular posts from this blog

Marga Sitorus

Marga Sitorus menelurkan orang-orang yang hebat di antaranya Dr. Raja Sutan D.L. Sitorus (pengusaha sekaligus pendiri Partai Peduli Rakyat Nasional) dan H. Khairuddinsyah Sitorus,SE (Bupati Labuhan Batu Utara). Secara etnografis, marga Sitorus merupakan marga Batak. Bagaimana riwayat Marga Sitorus ini?

Marga Siregar

Suku/marga Siregar merupakan marga yang mendominasi wilayah Angkola, Sipirok dan Padang Lawas. Siregar dipercaya adalah kula Batak varna Ksatria dari JATI CHANDRAWANGSA (Dinasti Bulan) gotra LONTUNG.

Marga Pulungan

Pada prinsipnya ada empat marga di tanah Mandailing. Di antara keempat marga tersebut, marga Pulungan merupakan marga yang pertama mendiami tanah Mandailing, disusul Rangkuti, Lubis dan Nasution.Beberapa kelompok marga lain, yakni Batubara dan Rambe datang lebih belakangan.

Kerajaan Batas

Pada saat Portugis menguasai Malaka, ada dua kerajaan yang beribukota Pane, yakni Aru dan Batas. Kerajaan Batas tidak pernah terpublikasi, keduanya selalu dikaitkan dengan Aru.

Share Like