Skip to main content

Apakah Barus di Tapanuli?

Mungkin ini adalah pertanyaan yang aneh. Semua orang tahu bahwa Barus itu terletak di Tapanuli Tengah, untuk apa lagi dipertanyakan. Tetapi untuk keperluan sejarah, terutama sejarah Islam, pertanyaan ini adalah pertanyaan yang esensial.

Pentingnya Lokasi Barus

Barus adalah daerah pertama yang dimasuki Islam di Nusantara, di Jaziratul Jawi.Barus adalah daerah pertama yang dikenal dalam perdagangan internasional, terutama dengan Kerajaan tua di Timur Tengah, Mesir. Barus adalah awal peradaban Indonesia.

Peninggalan Barus Tapanuli

Barus yang terletak di Tapanuli Tengah memiliki beberapa peninggalan, di antaranya :
  1. Makam Papan Tinggi
  2. Makam Mahligai
  3. Prasasti Lobu Tua

Makam Papan Tinggi Barus

Makam Papan Tinggi adalah kompleks makam di puncak bukit yang memiliki 700 anak tangga. Di sini bermakam Syekh Mahmud, penyebar Islam dari Hadramaut Yaman.

Makam Mahligai

Makam ini merupakan pemakaman Syekh Rukunuddin, penyebar Islam yang disebutkan wafat malam 13 Safar, tahun 48 H. Di sini juga ditemukan makam murid-muridnya yakni Syekh Ushuluddin, Syekh Zainal Abidin Ilyas, Syekh Ilyas, Syekh Imam Khotib Mu’azzamsyah Biktiba’I, Syekh Syamsuddin, Tuanku Ambar, Tuan Kepala Ujung, Tuan Sirampak, Tuan Tembang, Tuanku Batu Badan, Tuanku Kayu Manang dan Tuanku Makhdum.

Fakta Sejarah Barus Tapanuli

Penelitian sejarah menunjukkan bahwa klaim masuknya Islam pada abad permulaan di Barus ternyata berlawanan dengan fakta sejarah. Makam yang dikatakan dari abad 7 M, ternyata dari bukti karbon berasal dari abad 14 atau 15 M. Prasasti Lobu Tua yang berangka 1010 Saka atau 1088 M, membuktikan bahwa Barus/Lobu Tua masih dalam pengaruh Hindu. Prasasti ini diterjemahkan :
1-4. Sekarang, pada tahun 1010 Saka, bulan Masi 5-11. Kami, Yang Ke Lima Ratus dari Seribu Arah (Disai-Ayirattu- Ainnurruvar atau Serikat Dagang Ayyavole, dikenal di semua negara dan arah, telah bertemu di Valpuram di Varocu (Barus) alias Matankari (Batang Hari)-vallava-teci-uyyakkonta-pattinam 12-17. Memutuskan yang berikut untuk "anak(-anak) lelaki kami" Nakara-senapati Nattucettiyar, Patinen-bhumi-teci-appar dan mavettu: 18-22. [Setiap ... dari] kapalnya, Nakhoda kapal dan kevi akan membayar pajak ancu-tunt-ayam dalam bentuk emas berdasarkan harga kasturi dan [kemudian saja] akan berjalan di atas bentangan kain.23-26. Maka, kami Yang Ke Lima Ratus dari Seribu Arah, dikenal di semua arah dan di semua delapan belas negara telah menyuruh mengukir dan menancapkan batu ini. Jangan lupa sikap baik hati: sikap baik hati sendiri yang merupakan teman baik.

Lokasi Barus yang sebenarnya

Sumber-sumber sejarah Katholik menyebutkan bahwa di Barus telah ada Gereja Nestorian, tetapi hingga saat ini puing-puing gereja tersebut tidak pernah ditemukan. Berarti ada kemungkinan Barus yang dimaksud dalam catatan sejarah tersebut bukanlah Barus Tapanuli.

Teluk antara Barus dan Lamuri

Catatan sejarah Arab menyebutkan adanya teluk antara Barus dan Lamuri ada sebuah teluk yang disebut Teluk Lulubilank yang ada orang Kanibal berekor. Referensi tentang kanibalisme ini dipergunakan terus oleh orang Eropa, mulai dari Portugis hingga para penginjil di belakang hari. Ini menunjukkan bahwa Teluk Tapanuli terletak antara Barus dan Lamuri, artinya Barus berada di selatan dari teluk ini.

Naskah Sejarah Tuanku Batu Badan

Naskah Sejarah Tuanku Batu Badan atau Sultan Ibrahimsyah Pasaribu menunjukkan bahwa Barus dibuka bersamaan dengan berdirinya Dinasti Sisingamangaraja di Toba yakni pada awal-awal Kesultanan Aceh, saat Portugis menancapkan kuku di pesisir barat Sumatera dan Semenanjung Malaka yakni abad 16 M. Dari catatan tersebut, diketahui bahwa nama Barus diberikan oleh Sultan Ibrahimsyah yang pindah dari Barus lama di Tarusan yang dihancurkan Portugis. Sebagaimana di Barus Tapanuli ada Barus dan Pancur, di Barus lama juga ada Barus dan Pancur. Artinya, Barus dan Pancur di Tapanuli, pindahan dari Barus dan Pancur di Tarusan atau Barus di Batanghari (sebagaimana prasasti Lobu Tua).

Comments

Popular posts from this blog

Marga Sitorus

Marga Sitorus menelurkan orang-orang yang hebat di antaranya Dr. Raja Sutan D.L. Sitorus (pengusaha sekaligus pendiri Partai Peduli Rakyat Nasional) dan H. Khairuddinsyah Sitorus,SE (Bupati Labuhan Batu Utara). Secara etnografis, marga Sitorus merupakan marga Batak. Bagaimana riwayat Marga Sitorus ini?

Marga Pulungan

Pada prinsipnya ada empat marga di tanah Mandailing. Di antara keempat marga tersebut, marga Pulungan merupakan marga yang pertama mendiami tanah Mandailing, disusul Rangkuti, Lubis dan Nasution.Beberapa kelompok marga lain, yakni Batubara dan Rambe datang lebih belakangan.

Gotra dan Saudara

Sebelum masuknya Islam di Indonesia, masyarakat Sumatera merupakan penganut Hindu yang taat. Salah satu ajaran Hindu yang mengakar yang hari ini masih dilestarikan melalaui suku atau marga. Pernikahan sagotra yang ditabukan agama Hindu, masih dilestarikan dalam bentuk larangan kawin sesuku atau kawin semarga.

Antara Minangkabau dan Melayu

* Sebuah Hipotesis Etnografis * Masyarakat yang mendiami perbatasan Riau dengan Sumatera Barat memiliki budaya yang hampir sama dengan masyarakat Sumatera Barat. Bahasa yang digunakan sama-sama berujung ‘o, ek, eh dan sebagainya yang kalau diperbandingkan persamaan antara bahasa Melayu mereka dengan bahasa Melayu Riau/Johor lebih jauh dibandingkan persamaan dengan bahasa Minangkabau.

Marga Siregar

Suku/marga Siregar merupakan marga yang mendominasi wilayah Angkola, Sipirok dan Padang Lawas. Siregar dipercaya adalah kula Batak varna Ksatria dari JATI CHANDRAWANGSA (Dinasti Bulan) gotra LONTUNG.

Share Like