Skip to main content

Marga Rangkuti

Marga Rangkuti termasuk marga Mandailing yang lebih sedikit dibandingkan marga-marga Mandailing lainnya seperti Lubis dan Nasution. Padahal, mereka bersama-sama marga Pulungan lebih dulu satu abad daripada Marga Lubis dan dua abada daripada Marga Nasution.Bersama-sama Marga Pulungan, merekalah pendiri kerajaan pertama di Tanah Mandailing.


Etimologi

Asal usul nama Rangkuti yang pasti belum dipastikan. Dalam hal ini ada dua kemungkinan asal usul nama Rangkuti, yakni dari Etimologi Rakyat dan Etimologi Bahasa.

Etimologi Rakyat

Asal usul nama Rangkuti yang populer di tengah masyarakat adalah berasal dari dua kata, yakni "rang" dan "kuti", yakni orang yang ditakuti, karena Rangkuti dipercaya sebagai seorang dukun sakti yang mampu menaklukkan harimau.

Etimologi Bahasa

Kata rangkuti pada dasarnya analog dengan kata mangkuto dalam bahasa minang, yakni bila kata mangkuto berasal dari kata mahkota, rangkuti diperkirakan berasal dari rahkuti atau ra kuti.
Ra merupakan kata sandang penghormatan sama seperti sang dan dang, yang pada masa Hindu misalnya digunakan untuk nama Tuhan (Hyang) seperti Sanghyang, Danghyang atau Rahyang.

Penggunaan kata sandang Ra yang populer adalah pada Dharmaputra Majapahit yang bertujuh yakni Ra Semi (pemberontak pertama), Ra Kuti (pemberontak kedua), Ra Tanca (pemberontak ketiga), Ra Wedeng, Ra Yuyu, Ra Banyak dan Ra Pangsa (semuanya tewas bersama Ra Kuti). Ra Tanca misalnya adalah ahli pengobatan istana.

Sementara itu Kuti diperkirakan berasal dari bahasa Pali yang berarti Kediaman Pendeta atau padepokan. Artinya Ra Kuti adalah seorang pemuka keagamaan tertinggi.

Silsilah dan Riwayat Marga Rangkuti

Marga Rangkuti dipercaya merupakan keturunan dari Datu Janggut Marpayung Aji putra Patuan Pakombang. Silsilahnya :

  • 1. Raja Paruhum di Ulu Pane mempunyai anak bernama:
  • 1.1. Sutan Pane adalah Raja di Ulu Pane mempunyai anak bernama:
  • 1.1.1.Puti Sangkak Bulan Panti Rao.
  • 1.1.2. Marajo Kurinci ke Kurinci Jambi.
  • 1.1.3. Mangaraja Sutan Pane ke Runding, mempunyai 4 orang putra, yaitu :
  • 1.1.3.1. Sutan Parapat ke Danau Si Sombul.
  • 1.1.3.2. Patuan Patiduri ke Sigantang Toru.
  • 1.1.3.3. Patuan Nakombang, mempunyai tiga orang putra :
  • 1.1.3.3.1. Mangaraja Umpe Dibata, mempunyai tiga orang putra :
  • 1.1.3.3.1.1. Datu Tinggi ke Muara Batahan.
  • 1.1.3.3.1.2. Si Robu Julu ke Parik, Pasaman.
  • 1.1.3.3.1.3. Datu Singa Dua ke Rao, Pasaman.
  • 1.1.3.3.2. Raja Datu Marpayung Aji ke Huta Lobu, pendiri kerajaan Mandalasena, mempunyai dua orang putra :
  • 1.1.3.3.2.1. Marsuncang Aji ke Tano Rimba, Pamuse.
  • 1.1.3.3.2.2. Datu Mangada di Siantona, mempunyai satu orang putra :
  • 1.1.3.3.2.2.1. Datu Janggut Marpayung Aji di Mandalasena, mempunyai empat orang putra :
  • 1.1.3.3.2.2.1.1. Mangaraja Umpe Dibata di Huta Lobu Mandalasena, mempunyai sembilan putra :
  • 1.1.3.3.2.2.1.1.1. Mangaraja Sutan Pane di Mandalasena.
  • 1.1.3.3.2.2.1.1.2. Mangaraja Olang Putih ke Tamiang Dolok (marga Parinduri).
  • 1.1.3.3.2.2.1.1.3. Tunggal Nabolon ke Tarlola Hutanamale, Andel.
  • 1.1.3.3.2.2.1.1.4. Mangaraja Tagor ke Ranto Parapat.
  • 1.1.3.3.2.2.1.1.5. Datu Nabirong ke Laru Dolok.
  • 1.1.3.3.2.2.1.1.6. Datu Sungkunan ke Rao-Rao Tambangan.
  • 1.1.3.3.2.2.1.1.7. Datu Partomuan Ni Aji ke Ranto Natas.
  • 1.1.3.3.2.2.1.1.8. Mangaraja Diari Soambaton ke Sitombak Ranto Parapat.
  • 1.1.3.3.2.2.1.1.9. Raja Gading Soruaron raja pertama Banjar Batu (Maga).
  • 1.1.3.3.2.2.1.2. Sutan Garang ke Pasaman.
  • 1.1.3.3.2.2.1.3. Si Aji Rang Mandopo ke Manggopo.
  • 1.1.3.3.2.2.1.4. Datu Habi ke Banua Tambangan.
  • 1.1.3.3.3. Namora Umpe Siantona, mempunyai dua orang putra :
  • 1.1.3.3.3.1. Sutan Raja Diari, mempunyai satu orang putra :
  • 1.1.3.3.3.1.1. Namora Siantona, mempunyai seorang putra :
  • 1.1.3.3.3.1.1.1. Jaguminjang.
  • 1.1.3.3.3.2. Datu Marsuncang di langit.
  • 1.1.3.4. Sutan Nalobi ke Tor Sigantang.

Riwayat Marga


Hingga akhir Milenium Pertama Masehi, Daratan di pesisir Teluk Lulubilang yang dikenal sekarang sebagai Teluk Tapanuli tidak berani didekati manusia, karena dikisahkan dihuni oleh sejenis kera yang memakan manusia, serta beberapa makhluk ganas lainnya. Kerajaan Colalah yang diketahui membuka wilayah ini, sebagai rintisan jalur dari Panai, Malayu Tua ke Kadaram melalui Padang Lawas, Tambusai dan akhirnya Rokan. Para pedagang Cola dari Serikat Dagang Ayyavolle kemudian mendirikan Lobu Tua sebagai tempat peristirahatan dari Lamuri ke Panai/Barus.

Pada saat itu diketahuilah bahwa ternyata tanah Pasaman, Mandailing, Angkola, Padang Lawas, Ulu Rokan dan Ulu Barumun ternyata tidak betul-betul kosong. Telah ada manusia bertubuh kecil dan keriting, yakni orang Negrito yang disebut orang Leco dan etnis bermata sipit dari Sungai Mali (Irawaddy). Orang Leco akhirnya hijrah dari kawasan ini, berkemungkinan bercampur dengan orang Mentawai atau migrasi ke pantai Sumatera Timur. Sementara orang Mali secara berangsur-angsur terserap ke dalam masyarakat Mandailing/Melayu.

Gonjang ganjing politik pada awal milenium kedua Masehi di bagian barat Sumatera Tengah berakhir dengan kemenangan penguasa lokal asal Palembang, Sang Sapurba yang kemudian mendirikan Kerajaan Pagaruyung dengan akibat sisa-sisa bangsawan Cola beserta pengikut setia mundur ke Danau Toba dan kemudian terisolir dari jalur perdagangan.

Namun kemudian Pagaruyung menghadapi masuknya pengaruh agama Islam, yang masuk ke Negeri Pancur Batang Barus di Barat dan Pinangawan Negeri Haru di Timur. Batang Barus merupakan sungai yang bersumber sama dengan Batang Hari yakni Gunung Talang, sehingga kemudian pengaruh Islam pun sampai ke Ulu Panai (Pane). Orang-orang Pane (Panai) yang kukuh mempertahankan agama Hindu berserakan, di antaranya mudik ke cabang kiri Batang Hari yakni Kerinci, menghiliri Batang Hari hingga tiba di Kalimantan (Datu Puti, Datuk Mangkayo dan 8 Datuk lainnya) dan Filipina (pulau Panay) serta mencari DAS baru ke utara (Orang-orang ini memang kurang cocok dengan Pagaruyung yang pegunungan sementara mereka cenderung tinggal di kawasan DAS Barus Batanghari dan pesisir). Dengan berjalan kaki dari Ulu Pane ke Tabek Patah Pariaman akhirnya mereka sampai di Panti Rao dan menemukan Batang Kampar.
Tetapi berjumpa dengan Datuk Singo Mandenden, yang mengaku pemilik ulayat Kampar. Mereka berjalan lagi hingga menemui hulu Rokan, kembali berhadapan dengan pemilik ulayat Datuk Singo Mandeku. Akhirnya, rombongan yang dipimpin oleh Puti Sangkak Bulan menetap di Panti sementara Mangaraja Sutan Pane melanjutkan perjalanan hingga ke samping ke tepian Batang Gadis.

Pada waktu itu, daerah Barumun dan Mandailing dikuasai oleh turunan Namora Pande Bosi, yakni :

  1. Namora Pande Bosi dan keturunannya di Kotanopan, (Marga Lubis)
  2. Sutan Aru di Pinangawan (Kesultanan Haru).
  3. Sutan Pulungan di Hutabargot, Batang Gadis.
  4. Rajo Songek Baung di Bonio Tinggi (suami Putri Sangkak Bulan).
  5. Kerajaan Pijorkoling, Angkola Jae (Harahap).

Mangaraja Sutan Pane kemudian melakukan perundingan dengan Sutan Pulungan, yang kemudian sepakat untuk sama-sama membangun Batang Gadis dengan kedudukan kerajaan berseberangan sungai, yakni Sutan Pulungan di Hutabargot dan Sutan Pane di Runding.

Orang-orang Panai yang kemudian di daerah Rao Mandailing disebut orang Lubu (saat ini hanya disebut untuk mereka yang belum terserap ke dalam masyarakat Muslim Melayu/Mandailing), putrinya cantik-cantik ini mengundang datangnya pinangan dari bangsawan eks-Cola (Negeri Atas Angin) yang menurut mereka bermuka kasar. Ada berbagai cara penolakan, seperti melempar mas kawin oleh Puti Nan Jogi, atau lari oleh Puti Sangkak Bulan (kembali ke Panai, kemudian Palembang, Singapura hingga tertangkap di Haru). Tetapi.pada akhirnya terjadi jugalah perkawinan campuran antara Orang-Orang Lubu (eks Panai) dengan keturunan Namora Pande Bosi. Sejak itu, dimulailah adat istiadat Markoum Marsikolkot atau Dalihan Natolu di Tanah Mandailing.

Kemudian datanglah orang-orang Pagaruyung ke daerah tersebut yakni Hulubalang Ampar Mananti- Sitimbakoruma-Silasiak Jantan dan Angin Bapole, yang mendirikan Kerajaan Panyabungan (Nasution Dolok, Nasution Tonga dan Nasution Tombang). Karena didorong oleh visi yang sama yakni mempertahankan agama Hindu yang terancam, mereka mulanya diterima dengan baik, bahkan Sibaroar kemudian menjadi panglima Kerajaan Pulungan. Tetapi, Sibaroar yang mengaku turunan Pagaruyung  (catatan saudaranya Batara Sinomba yang juga mengaku turunan Pagarurung juga berhasil mengambil alih Kesultanan Haru), kemudian mengambil alih kekuasaan dari marga Pulungan dan Rangkuti yang kemudian marga tersebut bertambah besar dengan masuknya pengikut Sutan Perempuan dari Kerajaan Padang Gelugur yang juga kemudian ditaklukkan keturunan Sibaroar (Nasution Tanagodang, Nasution Tanggahambeng, Nasution Borotan, Nasution Lancat, Nasution Joring, Nasution Manggis, dan Nasution Simangintir).

Dengan pertambahan tersebut, Nasution menjadi marga terbesar di Tanah Mandailing sementara marga terbesar sebelumnya Lubis menjadi di urutan kedua. Sementara Pulungan dan Rangkuti menjadi marga yang kecil.

Setelah masuknya Islam ke Tanah Mandailing, terutama didorong oleh pengungsian gelombang baru Barus Batanghari (setelah hancurnya Kesultanan Barus Tarusan oleh Portugis yang mendorong berdirinya Kesultanan Air Bangis (juga mengambil puteri keturunan Namora Pande Bosi dari Kotanopan), Natal dan Barus Tapanuli) maka marga Rangkuti bersama marga-marga lainnya di Mandailing pada akhirnya memutuskan menganut agama Islam. 

Comments

Share Like