Sunday, August 13, 2017

Suku Tambak

Tambak merupakan suku di Sumatera Utara. Suku ini konon adalah pemilik ulayat di Kotapinang dan bagian Padang Lawas yang berbatasan dengan Kotapinang. Suku ini merupakan salah satu dari dua suku Kotapinang yang dijumpai oleh Batara Sinombah.Selain itu, juga terdapat di Simalungun dan Karo.Di Simalungun masuk ke dalam marga Purba (Purba Tambak), di Karo Tarigan (Tarigan Tambak). Secara etnografis, suku Tambak masuk dalam tiga sukubangsa yakni Melayu, Karo dan Simalungun.

Kaitan Tambak Kotapinang dan Tambak Simalungun dan Karo

Hubungan antara Tambak Simalungun (Purba Tambak) dan Tambak Karo (Tarigan Tambak) dapat terlihat nyata dengan bukti-bukti yang lebih nyata dan rasional, tetapi hubungan dengan Tambak Kotapinang tidak terkonfirmasi baik dari sumber Kotapinang maupun dari sumber Simalungun/Karo. Salah satu pengaitan adalah spekulasi yang dibuat berdasarkan Silsilah Raja Batak.

Asal Usul Nama Tambak

Arti kata Tambak di Simalungun dan Karo sangat jelas diketahui karena banyaknya pengungkapan terutama dari sumber-sumber Simalungun. Suku Tambak di Simalungun dan Karo berasal dari Negeri Tambak Bawang yang berarti Pemandian di Rawa-Rawa. Pemandian tersebut masih tinggal sampai sekarang dan dianggap sebagai pemandian keramat.

Sebaliknya suku Tambak di Kotapinang masih belum banyak dilakukan ekspos, oleh karenanya banyak timbul spekulasi. Jika Tambak berasal dari Batak maka makna Tambak di Barumun berarti makam. Berarti Suku Tambak berasal dari suatu tempat yang memiliki kuburan kuno yang dikeramatkan atau dari kaum dalam istana yang ikut dikuburkan beserta penguburan raja sebagaimana tradisi pra-Islam..

Tambak Barumun

Secara umum ada empat spekulasi, yakni :

  1. Suku Tambak adalah merupakan Suku/kaum Melayu Panai/Haru yang mendiami daerah Sumatera Timur khususnya daerah Haru yang masih diperdebatkan. Pasca kematian Sultan Ibrahim, wakil Aceh yang tewas dalam penyerangan Portugis di Malaka, masyarakat Haru terbagi atas dua kelompok, yakni Kelompok Johor dan Kelompok Aceh. Tambak dan Dasopang adalah nama untuk dua kelompok tersebut.
  2. Suku Tambak bersama-sama Dasopang merupakan marga dari masyarakat Batak Kuno yang mendiami kawasan sekitar ulu Barumun/ulu Bilah.
  3. Suku Tambak adalah marga Tamba seperti yang dikenal orang Batak saat ini.
  4. Suku Tambak adalah perubahan nama dari Suku Jambak Minangkabau.

Tambak Simalungun

Keberadaan Tambak Simalungun (Purba Tambak) terkait dengan Kerajaan Silou Kerajaan ini dulunya memiliki wilayah yang luas yakni sealiran Sungai Silau yang bermuara ke Tanjung Balai, menguasai wilayah-wilayah yang saat ini terbagi-bagi ke dalam wilayah Simalungun dan Deli Serdang.

Menurut Pinto, ada dua kerajaan besar di pesisir Timur selatan Aceh, yakni Haru dan Battas. Battas dikatakan beribukota di Panai, dengan penduduk Batak. Kerajaan ini memiliki hubungan dengan Brunei, sehingga ketika terjadi serangan Aceh, Battas dibantu oleh Minangkabau, Indragiri, Jambi, Palembang dan Brunei.Para sejarahwan mengabaikan kerajaan ini, karena namanya yang sama dengan Panai di Labuhan sehingga mempersamakan kerajaan ini dengan Haru yang menurut Pinto diserbu setelah Battas dikalahkan Aceh.

Sumber Silau sendiri ada mengait-ngaitkan hubungan dengan Pagaruyung, peperangan dua kali di Aceh salah satunya akibat patung Gajah Putih yang masih ada di Simalungun dan tentang pengungsian ke Haru setelah penaklukan oleh Aceh.

Sebelum menjadi Raja Silau, dinasti ini mulanya hanyalah Penghulu Tambak Bawang.

Tambak Karo

Tambak di Karo juga terkait dengan Tambak Bawang. Tarigan Tambak di Sukanaluh merupakan keturunan dari Penghulu Tambak Bawang yang menikahi puteri Sembiring.

Riwayat Tambak Karo/Simalungun

Suku Tambak di Simalungun termasuk dalam marga Purba yang memiliki kerajaan :

  1. Panai (Purba Dasuha)
  2. Silau (Purba Tambak)
  3. Purba (Purba Pakpak)
  4. Silimakuta (Purba Girsang)

Ada beberapa riwayat tentang Marga Purba di Simalungun. Ada versi yang menceritakan bahwa berasal dari Gayo Alas. Mulanya hanya satu saja, yakni Purba Tambak, kemudian pecah  Purba Sidasuha, Sigumonrong, Sidagambir, Sidadolog, Tondang, Tambunsaribu, Silangit, Tanjung, Siboro dan Girsang. Belakangan Girsang tidak mengaku Purba lagi. Belakangan, asal usul marga Purba ada yang dikatakan dari Toba. Tambak, Sidasuha, Sidadolog dan Sidagambir satu kata mengaku keturunan dari Silou membentuk Hasadaon Purba Tamsidalogam (Tambak, Sidasuha, Sidadolog dan Sidagambir).

Menurut Drs.Herman Purba Tambak,MA, asal usul Suku Tambak Simalungun disebutkan berasal dari Banua Tamiang. Sewaktu Banua diserang, kelima putranya menyelamatkan diri, Dua orang ke tanah Gayo, yang tiga menyusuri Sungai Wampu. Di tengah perjalanan mereka berpisah, dua orang ke Samosir dan yang satu ke Simalungun. Putera Panglima ini mempersunting puteri Raja Nagur marga Damanik dan melahirkan lima putera, Raja Perah Tua, Raja Julu, Raja Sihala Tanjung, Paranjang Sigumondrong dan Raja Gori Silangit. Raja Julu menikahi puteri Karo Sukanaluh bermarga Sembiring membangun perkampungan di tempat yang banyak rawa-rawanya dinamai Tambak Bawang. Raja Julu memiliki 5 orang putera, Oppung Nengel, seorang putra yang dikeramatkan (tidak disebutkan namanya), Tuan Jigou (Na Horsik), Siboru Hasaktian (pemilik pemandian keramat Tambak Bawang) sementara si bungsu pergi ke Sukanalu menurunkan Tarigan Tambak di Sukanalu. Oppung Nengel merupakan leluhur Tarigan Tambak di Tambak Bawang dan Bawang meneruskan ayahnya sebagai Pangulu Tambak Bawang.

Tuan Jigou yang memiliki keahlian berburu dan memancing sehingga digelari Pangultop-ultop suatu hari mengejar burung hingga tiba di Jandi Mauli dekat Silou Buntu ibukota Silou yang masa itu diperintah marga Damanik keturunan Nagur. Dia kemudian menikahi putri raja tersebut dan menurunkan Tuan Sindarlela. Puteranya ini bertemu dengan Puteri Hijau di aliran Sungai Patani dekat pohon tualang di sekitar Deli Tua sehingga digelar Purba Tambak Tualang. Tuan Jigou juga menikahi puteri dari Banua.

Menurut Tuan Bandar Alam Purba Tambak,raja Dolog Silau, leluhurnya dari Pagaruyung berkelana melalui Natal hingga ke Singkil, dari sini menyusuri sungai Renun hingga tiba ke Hataran Simalungun.

Menurut Partingkian Bandar Hanopan peninggalan Kerajaan Dolog Silau, Puteri Hijau mendesak Sultan Aceh agar melegitimasi saudaranya Sindar Lela menjadi raja di Kerajaan Silou berpusat di Silou Buntu Kecamatan Raya.  .

No comments: