Saturday, August 12, 2017

Pulau Kampai

* Sebuah hipotesis geografis *

Pulau Kampai merupakan sebuah pulau yang terletak di Teluk Aru, Kecamatan Pangkalan Susu Kabupaten Langkat Sumatera Utara. Saat ini terkenal sebagai penghasil terasi.

Pulau Sembilan

Pulau Sembilan berjarak 45 menit penyeberangan dengan kapal laut dari Pangkalan Susu. Pesisir pantai berpasir putih.Pulau Sembilan dahulunya merupakan kawasan pertambangan minyak Pertamina. Keindahan Pulau Sembilan saat ini tergerus karena 370 hektar lahan dijadikan perkebunan kelapa sawit. Pulau Sembilan dan Pulau Kampai letaknya secara geografis berdekatan.

Pantai Berawe

Destinasi wisata di pulau Kampai adalah Pantai Berawe yang terkenal dengan hamparan pasir putihnya serta Kuburan Keramat Panjang dan Kuburan Sang Pendekar Biola.

Penghasil Lada

Sebelum Indonesia merdeka, Pulau Kampai terkenal sebagai salah satu daerah penghasil lada.

Kuburan Pendekar Biola

Pendekar Biola menurut legenda adalah Salam yang meninggalkan kampung halamannya di Serawak karena kekasihnya Rukiah menikah dengan abangnya Amran yang merantau hingga ke Medan Labuhan Belawan dan memadu kasih dengan Salmah gadis kembang Labuhan saat itu. Dalam pernikahan Salmah dan Tambi yang menjerat Haji Kasim ayah Salmah dengan utang, ia memainkan biolanya dengan lagu Kau adalah Mas Merahku. Salmah pingsan mendengarkan lagu tersebut. Patah hati, Salam menjadi nelayan di Pangkalan Brandan. Di pesisir Teluk Aru, Salam bertemu dengan Salmah yang untuk membebaskan ayahnya. Salam berhasil membebaskan ayah Salmah dari penyamun yang bernama Pendekar Senayan. Salam, Salmah dan mertuanya kemudian menetap di Pulau Kampai. Akibat cacar, pasutri yang tidak memiliki keturunan ini, sepuluh tahun kemudian meninggal. Salam, Jumat pagi 05.00 dan Salamah jam 06.00 tahun 1820.Di atas kubur mereka ditanam bunga tanjung sebagai simbolik hubungan Semenanjung Malaysia, Medan Labuhan dan Pulau Kampai.

Kuburan Datuk Panjang

Menurut Datuk Panglima Kelana Wangsa Prof.Drs.H.Muhammad Idrus, Datuk Panjang adalah Syekh Mansyur yang dimakamkan di Pulau Kampai pada tahun 1843. Ia adalah ulama yang datang pada masa Panglima Nyak Makam menjadi wakil Aceh wilayah Sumatera Timur menggantikan Panglima Hasyim Banta Muda yang menikahi puteri Sultan Musa Langkat Tengku Supang. Nyak Makam adalah yang dipancung Belanda pada usia renta di depan anak isterinya dan kepalanya dibawa ke Belanda.

Versi lain, Teuku Keramat Panjang adalah Teuku Sulthan Muhammad yang tiba di Pulau Kampai pada usia 13 tahun, dan menikahi Siti Bahara Silalahi yang berumur 14 tahun, putri pedagang kayu arang dan beras asal Kabanjahe. Teuku Keramat Panjang hidup sebagai pedagang emas, kain dan eksportir kayu bakau ke Jepang. Pada masa itu, kulit kayu bakau merupakan bahan pembuat kain.Tahun meninggal beliau adalah abad 17 M. Batu karang di makamnya  berasal dari “Glee Geulungku” Aceh Utara, (nama salah satu daerah Aceh), tepatnya di Kecamatan Pandrah (sekarang Aceh Jeumpa).

Peninggalan-peninggalan sejarah

Nama Pulau Kampai disebut John Anderson dalam ekspedisi Sumatera Timurnya 1823. Pulau Kampai diduga adalah Kompe yang menjadi sasaran pengiriman pasukan sebanyak 2.000 Prajurit dalam misi Kerajaan Tang pada tahun 662 AD pada masa Kaisar Hsin Tang Shu.

Kampai juga diduga adalah Chien-pi atau Kien-pi menurut catatan Chau-ju-kua (Chu-fan-chi) tahun 1225.

Artefak yang ditemukan di Kampai seperti keramik, manik-manik (beads), gemstones, glass, bricks and stone. Keramik-keramik yang ditemukan di Kampai berasal dari Tiongkok dengan karakteristik green glazed Lung Chuan (celadon) yang diimport pada akhir dinasti Sung, Yuan dan awal dinasti Ming.

Dari tulisan arkeolog McKinnon, nama Kampai atau Kompe diperkirakan berasal dari nama tumbuhan dalam bahasa Melayu yakni Kumpai atau rumput kumpai.

No comments: