Monday, August 21, 2017

Marga Siregar

Suku/marga Siregar merupakan marga yang mendominasi wilayah Angkola, Sipirok dan Padang Lawas. Siregar dipercaya adalah kula Batak varna Ksatria dari JATI CHANDRAWANGSA (Dinasti Bulan) gotra LONTUNG.

Menurut Parlindungan

Menurut Parlindungan, pada tahun 1907 telah ada total 107 Raja Suci Pagan Batak, yakni :

  1. Dinasti Sori Mangaraja dari Marga Sagala di Sianjur Sagala Limbong Mulana sebanyak 90 generasi, sampai ditumbangkan Marga Simanulang.
  2. Dinasti Singamangaraja dari Marga Sinambela sebanyak 12 generasi di Bakkara Toba yang berhasil menumbangkan Marga Simanulang yang belum sempat menjadi raja.

Di kampung Sianjur Sagala Limbong Mulana tersebut terjadi dikotomi Suku Bangsa Batak menjadi dua, yakni :

  1. Cabang Guru Tatea Bulan asal dari Dinasti Sori Mangaraja
  2. Cabang Isumbaon asal dari Dinasti Singamangaraja.

Orang-orang di Tanah Batak Selatan yang menganut Islam : Harahap, Lubis dan Siregar merupakan cabang Guru Tatea Bulan.

Orang-orang di Tanah Batak Utara yang menganut Kristen : Simanjuntak, Lumbantobing,Tampubolon, Hutabarat,Panggabean, Siahaan, Pardede, Napitupulu adalah cabang Isumbaon.

Kampung Sianjur Sagala Limbong Mulana dibakar habis marga Simanulang atas perintah Singamangaraja I. Kemudian di situ dibangun Kampung Tara Bunga = Bunga Lotus yang salah ditulis Tanjung Bunga.

Asal mula marga Siregar

Sri Baginda Sori Mangaraja 66 memiliki putra bungsu bernama Martua Raja Doli Sagala.Karena tidak mungkin menjadi raja, dia merebut kampung yang tidak teratur dengan pasukan berkudanya.Kampung itu bernama Lottung di Pulau Samosir, dekat ke Ambarita, dekat ke Tomok, kelihatan seberang air dari Parapat. Martua Raja Doli menduduki kampung itu, menjadikan pria penduduk asli (dari marga Sauliraja) menjadi budak dan membagi-bagikan wanitanya.

Agar orang-orangnya bisa menikah, dibagilah 7 klan yang dianggap bersaudara tetapi faktanya selalu bertengkar, yakni :

  1. Situmorang
  2. Sinaga
  3. Nainggolan
  4. Pandiangan
  5. Simatopang
  6. Aritonang
  7. Siregar

Serta 2 klan yang berstatus anak boru :

  1. Panggabean
  2. Pandan

Itulah istilah Toga Lottung (Lottung Clan Group) Lottung Si Sia Marina, Pitu Anakna, Dua Boruna.

Selama 3 generasi makmur di Lottung, klan bungsung Siregar tetap jadi anak bandel dan dimanja-manjakan oleh klan Simatupang sehingga dibenci oleh 7 klan lainnya.

Buyarnya Toga Lottung

Wabah epidemi terjadi di Samosir. Toga Lottung buyar :

  1. Marga Pandan mengungsi hingga di muara Sungai Bilah dan menjadi orang-orang Melayu.
  2. Marga Nainggolan melintasi bukit hingga menetap antara Pangururan dan Onan Runggu. Sebagian menyeberangi Danau Toba dan menetap di Pahae.
  3. Marga Simatupang dengan solu-solu bermuatan 30 orang pergi ke Toba menetap di Lagubotti.
  4. Marga Pandiangan hampir musnah, berganti nama dan berpecah klan :Gultom, Pakpahan, Harianja, Sitinjak dan banyak lagi klan kecil.
  5. Marga Siregar menyembelih ternak yang ditinggalkan oleh Pandan, Nainggolan dan Simatupang tetapi karena mereka tidak meninggalkan beras mencuri dari Pandiangan.Marga Gultom yang baru terbentuk yang tidak kebagian beras mengadu kepada pimpinan Toga Lottung, marga Situmorang.
  6. Marga Situmorang yang kesulitan akibat wabah melemparkan penghukuman ke marga Sinaga.
  7. Marga Sinaga yang kemudian dibantu Marga Aritonang dan Marga Panggabean menyerbu Marga Siregar yang sedang makan besar yang lari hingga ke air. Marga Simatupang yang masih di atas perahu berbalik dan berdamai dengan Marga Sinaga. Hukuman mati tidak jadi dilaksanakan, tetapi Marga Siregar tidak boleh tinggal di Lottung lagi.Dengan perahu Simatupang, Marga Siregar mendarat di Toba.

Marga Siregar di Toba

Marga Siregar kemudian tinggal di Sigumpar, dekat kampung Marga Simatupang dan menikahi gadis-gadis Simatupang.

Sebagian eksodus ke Muara

Tidak semua marga Siregar bisa berubah sopan. Mereka yang tidak tahan dari pengawasan hula-hulanya, Marga Simatupang akhirnya menyingkir ke Muara yang sangat strategis di atas delta kecil. Di belakangnya tebing-tebing setinggi 40 meter. Di samping Pulau Pardopur.Marga Siregar kemudian menjadi bajak laut bagi penangkap ikan di cekungan selatan dengan pimpinan Raja Porhas (Halilintar) Siregar.

Terganggu, masyarakat Toba dan Samosir Selatan dipimpin Raja Oloan Sorba Dibanua menyerang Muara. Pasukan berkuda dari Dataran Tinggi Humbang, pasukan Bakkara dan Toba menyerbu.Muara dibumihanguskan, Raja Porhas Siregar meminta perang tanding untuk menyelamatkan marganya.Raja Porhas Siregar mati di tangan Raja Oloan Sorba Dibanua, tetapi Marga SIregar tidak diperlakukan semestinya. Mereka tetap diuber-uber. Marga Siregar muara meninggalkan wanita dan anak-anak mendaki tebing tinggi di Muara dan tiba di Dataran Tinggi Humbang di bawah pimpinan Togar Natigor Siregar.Memandang lautan Danau Toba, Togar Natigor Siregar bersumpah “Kembali ke Muara, membasmi habis Raja Oloan Sorba Dibanua dan seluruh turunannya”

Sisingamangara yang merupakan keturunan Raja Oloan Sorba Dibanua di Bakkara/Toba tidak diakui Siregar/Sipirok. Jatengger Siregar akhirnya tahun 1819 memancung Sisingamangaraja X di Bakkara membonceng pasukan Paderi.

Siregar di Humbang

Di Dataran Humbang, marga Siregar mendirikan dua kampung : Peatolong dan Baringin. Marga Siregar kampung baringin mendukung sumpah Togar Natigor Siregar, Marga Siregar kampung Peatolong memilih tunduk kepada Raja Oloan Sorba Dibanua.

Dataran Humbang tandus karena telah dibakar habis Marga Lubis. Siregar kampung Baringin hidup kelaparan hanya makan silalat (daun singkong yang ternyata paling tinggi mengandung protein), sementara Siregar kampung Peatolong lebih makmur karena dimaafkan klan Sorba Dibanua dan berhubungan kembali dengan marga Simatupang.Hingga hari mereka sudah 30 generasi di sana.

Siregar Baringin menyerbu Silindung

Setelah 7 generasi, SIregar Baringin memasuki lembah Silindung terdekat yang ternyata dihuni Klan Siopat Pusaran. Di bawah pimpinan Raja Parongsang-ongsang saharbangan (Tuan Besar dengan Rahang Besar) Siregar yang katanya mangalombat babiat (menunggang macan), menggunakan onggang (rangkong) untuk pengintaian udara melakukan serbuan. Pasukan berkuda Lumban Tobing di bawah pimpinan Raja Sahurlang Lumban Tobing berhasil memukul mundur. 2 generasi bertahan lapar lagi di Baringin.

3 generasi kemudian, Siregar Baringin di bawah pimpinan Raja Onggang Siregar menyerbu Lembah Pahae. Tetapi Marga Sitompul dibawah pimpinan Raja Mananti Sitompul berhasil memukul mundur. Sambung lagi 3 generasi di Baringin.

Karena pertengkaran air, pasukan berkuda Sihombing di bawah pimpinan Raja Andalu Sihombing menyerbu Kampung Baringin. Siregar Peatolong berjanji kepada Marga Sihombing tidak akan memberi bantuan. Kampung Baringin Siregar akhirnya bumi hangus. Oleh raja Andalu, kampung Baringin disebut Lobu Siregar (Kubang Babi Siregar).18 generasi kemudian, Siregar membalasnya. Raja Sangkot Siregar berusaha menyelamatkan marganya dengan perang tanding yang diterima oleh Raja Andalu Sihombing. Raja Sangkot Siregar tewas. Raja Andalu Sihombing menghargai tradisi. DIkawal marga SIhombing/Hutasoit, marga Siregar berangkat ke tenggara sambil membawa jenazah Raja Sangkot Siregar. Di Pangaribuan dilepas dari pengawalan dengan penghinaan, “Awas jangan kelihatan lagi.”

Marga Siregar Pangaribuan

Di Pangaribuan, adik muda remaja Raja Sangkot Siregar dinobatkan di alam terbuka sebagai pemimpin baru.Setelah menguburkan jenazah abangnya, dibukalah kampung Pinarung. Pada saat menanam singkong, datanglah pasukan berkuda Gultom di bawah pimpinan Raja Garoga Gultom dari kampung Batunadua/Pangaribuan. Dengan mencabut pedang, Raja Garogar menyatakan memaafkan affair Lottung asalkan marga Siregar tidak berbuat onar dan jika mau tertib mereka bersedia menolong.Marga Gultom Batumanumpak dan Batunadua banyak membantu. Dengan bantuan Marga Gultom dan Pakpahan, marga Siregar di Pinarung akhirnya berkembang sehingga diorganisasi kembali :

  1. Siregar Salak, sulung.
  2. Siregar Dongoran.
  3. Siregar Ritonga
  4. Siregar Baumi
  5. Siregar Pahu
  6. Siregar Ri
  7. Siregar Sormin
  8. Siregar Siagian, bungsu.

Setelah memotong 7 kerbau, Raja Parlindungan Siregar menyatakan hanya 1 Siregar yang boleh tinggal di Pinarung (karena lahan sudah tidak cukup). Berdasarkan keputusan Raja Parlindungan, Siregar Sormin yang tinggal di Pinarung karena mereka yang paling hubungannya di Pangaribuan karena hula-hula dari Pakpahan dan boru dari marga Gultom.

Penyebaran Siregar Pinarung

7 klan Siregar Pinarung lainnya menyebar :

  1. Siregar Siagian dengan pimpinan Raja Parlindungan Siregar sendiri ke Batang Toru tetapi 3 hari kemudian dia hanyut di Sungai Batang Toru yang banjir.Mereka eksis di Marancar Batang Toru dan Huraba Batang Toru.
  2. Siregar Dongoran ke Padang Lawas. Sebagian ke Rantauprapat dan menjadi Melayu.
  3. Siregar Ritonga ke Simangambat dan Padang Lawas.
  4. Siregar Ri, Siregar Pahu dan Siregar Baumi memutuskan pindah sendiri-sendiri (tanpa kelompok). Ada yang sampai ke Tukka/Barus, Bonandolok/Sibolga dan ke Bangkinang/Kampar. Tetapi hampir punah, karena tidak sekuat orang Minangkabau menghadapi tantangan hidup.
  5. Siregar Salak ke Sipirok.

Siregar Silo Simalungun

Siregar Silo Simalungun bukan pecahan Pinarung atau Muara, tetapi dari Sigumpar Toba yang langsung merantau ke Simalungun.

Siregar Sipirok

Tanah Sipirok adalah bekas bakaran Marga Lubis yang kemudian dihuni oleh Marga Harahap, di antara kampung-kampungnya Hanopan, Hasang, Bungabondar, Pagaran Dolok, Sibadoar. Mereka jumlahnya sedikit.

Siregar Salak di bawah pimpinan Ompu Paltiraja Siregar mengultimatum untuk tunduk atau darahnya diminum. Di Sipirok kemudian didirkan Kampung Rantai Omas di tepi Aek Saguti.

Siregar di Sipirok kemudian berkembang. Oleh Ompu Paltiraja dibagi 3 kerajaan, yakni :

  1. Kerajaan Parausorat (termasuk di dalamnya Sialagundi) dipimpin paman mudanya, Ompu Raja Sayurmatua.
  2. Kerajaan Baringintumburjati (termasuk di dalamnya Bungabondar) dipimpin saudaranya Ompu Raja Parlindungan.
  3. Kerajaan Sipirok Godang dipimpin anaknya Raja Pandebosi gelar Ompu Ni Hatunggal.

Hubungan keluar oleh Kerajaan Parausorat.

Pada saat itu Batunadua berperang dengan Losungbatu dalam memperebutkan kampung SImapilapil dengan wasit Raja Hutalimbaru, yang malahan dikeroyok keduanya.

Dolok Pamelean

Bukit kecil di tengah Luat Sipirok oleh Ompu Paltiraja diberikan nama Dolok Pamelean (bukit pengorbanan) jadi Pusuk Buhit Siregar Salak. Di atasnya ditanam Pohon Beringin yang dinamai Bona Ni Asar (pohon hukum dan ketertiban). Ompu Paltiraja menjadi Datu Nahurnuk (kedua dari Datu Nabolon).Kemudian diadakan Upacara Gajah Lumpat, pengorbanan 1 orang manusia setiap tahun untuk menghormati Debata Mulajadi Nabolon.Calon dipilih oleh 3 raja yang sangat sukarela karena arwahnya dipercaya akan langsung ke Banua Ginjang tidak perlu kembali ke Banua Tonga tidak perlu ke tano gariang Luat Sipirok. Pemuda yang jadi calon dihiasi daun-daunan, 7 hari 7 malam dipuja dan dirajakan, disembah oleh ketiga raja. Pemuda itu memeluk Batu Linggam yang tegak lurus di bawah pohon waringin Bona Ni Asar.Saat memeluk itu, dari belakang ditusuk dengan Hunjur Panaluan (Tombak Pusaka) menembus jantung, membasahi tanah di bawah Bona Ni Asar agar melimpah-limpah panen. Jenazah dinaikkan ke atas gajah yang dicat putih/merah/hitam kemudian diarak keliling Luat Sipirok.Jalan Gajah mesti berbelok-belok. Selama arak-arakan gajah tersebut, banyak korban yang mati terinjak-injak.

Sesudah wafat Ompu Paltiraja, Ompu Raja Sayumatua mengusulkan mengganti gajah hidup dengan gajah-gajahan dari kayu yang disebut Roto Gajah Lumpat.

Upacara Gajah Lumpat baru terhapus 1816 oleh Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao.

Dolok Pamelean serupa dengan Bukit Sigompulon di Silindung. Pohon waringin ini kemudian ditebang oleh Tuanku Rao, dijadikan kayu bakar prajurit berkudanya.Puncaknya dikurangi 2/3 menjadi markas Tuanku Rao (1816 – 1818), Kolonel Elout (1834 – 1836).

Jejak Hindu

Salah satu unsur penting dalam agama Hindu adalah masalah perkauman. Manusia dibagi atas varna dan jati. Setiap kula (suku/marga) telah diwariskan pekerjaan-pekerjaan yang cocok dengan karakteristik keturunannya yang kemudian disebut varna. Varna menurut legenda adalah warna manusia langit pada saat leluhur diciptakan, yakni mereka untuk brahmana yang diciptakan siang dan hitam untuk sudra yang diciptakan malam.

Manusia diciptakan atas 2 jati. Manusia adalah keturunan MANU yang diselamatkan dalam bentuk ikan ketika terjadi banjir besar. MANU adalah anak DEWA SURYA yang memiliki 10 anak, di antaranya yang terpenting adalah ISHWAKU yang menikahi putri Bodhi menurunkan SURYAWANGSA (Dinasti Matahari) dan ILLA yang dinikahi CANDRA putra BODHI menurunkan CANDRAWANGSA (Dinasti Bulan).

Ilustrasinya : SURYAWANGSA –> ISHWAKU + PUTRI BODHI –> MANU –> DEWA SURYA.

CANDRAWANGSA –> CANDRA  + ILLA PUTRI MANU PUTRI DEWA SURYA. –> BODHI.

Manusia harus menikah satu jati dan satu varna tetapi dilarang satu gotra. Gotra adalah leluhur legendaris yang bersilsilah ke salah satu CANDRA atau SURYA. Hanya sang leluhur ISHWAKU dan ILLA saja yang boleh kawin dengan keturunan BODHI.Kula (marga) yang segotra dianggap satu saudara dan perkawinanannya dianggap incest.

Agar memenuhi ketentuan tersebut, diciptakanlah wangsa-wangsa AGNIWANGSA (Keturunan Dewa Api), NAGAWANGSA(Keturunan Dewa Naga) dan INDRAWANGSA (Keturunan DEWA INDRA).

Pohon Beringin

Bodhi sebagai ayah dari CANDRA mendapatkan kekeramatan karena bertapa di bawah Pohon Bodhi, pohon jenis ara-araan yang di Indonesia yang paling populer adalah KAYU ARA (KAYU ARO) dan POHON BERINGIN. Pohon Beringin merupakan pohon yang paling mudah didapat dan dijadikan tamsil kepemimpinan, Daun yang rimbun untuk bernaung, dahan yang kuat tempat bergantung, Urat yang lebar tempat bersila, batang yang besar tempat bersandar.Pada masyarakat Minangkabau dan Melayu, tamsilan Pohon Beringin tersebut masih dibacakan sebagai kiasan kepemimpinan. Pada masyarakat Batak marga Siregar pra Islam, pohon beringin adalah Bona Ni Asar.

No comments: