Wednesday, August 16, 2017

Marga Lubis

Marga Lubis merupakan salah satu dari empat marga terbesar di eks kabupaten Tapanuli Selatan. Ada spekulasi bahwa Siregar adalah murni eksodus Batak, sementara 3 marga besar dan sejumlah marga kecil lainnya berasal dari suku asli, yakni Lubis dari suku Lubu, Harahap dari suku Ulu dan Nasution dari campuran orang-orang pesisir berbahasa Minangkabau dialek pesisir. Pendapat lain, Lubis adalah kula batak varna Ksatria dari Jati CHANDRAWANGSA (Dinasti Bulan) gotra Borbor. Bagaimana riwayat penyebaran etnografis Marga Lubis?.

Menurut Tambo Mandailing

Tambo Mandailing versi Ja Endar Muda, menyebutkan bahwa Marga Lubis didirikan oleh Datuk Namora Pandai Bosi. Beliau adalah anak dari Raden Patah yang ditinggalkan di Muara Singkuang setelah kalah mengadu kerbau dengan raja Pagaruyung. Raden Patah adalah anak dari nakhoda di Jawa yang bernama Si Angin Bugis yang berasal dari Pulau Sulu yang menikahi wanita Jawa dan memiliki hobi menyabung ayam. Dari kata Si Angin Bugis inilah asal nama Marga Lubis.

Namora Pandai Bosi mudik ke hulu sampai ke Siondop. Di situ sudah ada raja bernama Ranggar Laut, keturunan Tuan Tongga Magek Jabang dari Pariaman. Ranggar Laut inilah yang keturunannya Siondop dan Surumatinggi Angkola.Namora Pande Bosi singgah di Partihaman dekat Losung Batu menjadi dukun yang sangat dihormati.

Setelah menyembuhkan raja Pijor Koling, Namora Pande Bosi meminta selimut yang lebar yakni tanah itulah Lubu Sitardas dekat Tolang.Di situ terkenallah ia sebagai tukang besi dan banyak membuat keris yang menjadi pusaka keturunannya dan keris-keris pusaka orang lain.

Sewaktu Namora Pande Bosi menyumpit burung di Ayuara, bertemu dengan perempuan Lubu yang mengambil burung-burung hasil sumpitannya. Perempuan itu ditangkapnya yang kemudian membawa ke rumah bapaknya. Kawinlah Namora Pande Bosi dengan perempuan Lubu itu. Sesudah perempuan itu hamil, Namora Pande Bosi pulang ke kampungnya.Anak Namora Pande Bosi itu kembar, yakni Si Baitang dan Si Langkitang. Setelah berumur 16 tahun, mereka mencari bapaknya, bekerja sebagai tukang besi di Lubu Sitardas.Istri tua Namora Pande Bosi cemburu.Kedua anak itu dikatainya anak bincacak, anak bincacau, anak singiang-ngiang rimbo, anak dapek di tepi bandar. Maka minta izinlah mereka kepada bapaknya. Namora Pandai Bosi membekali tanduk kerbau dan sumpit yang telah diisi emas.Keduanya kemudian berladang di luar kampung.

Sewaktu Namora Pande Bosi meninggal, mereka membawa kerbau, tetapi tidak diizinkan masuk kampung oleh istri Namora Pande Bosi. Mereka pun memotongnya di luar kampung.Diikat pada sebatang kayu bangsa petai yang pucuknya dihantakkan ke tanah. Sampai sekarang kayu itu tumbuh menghadap ke bawah disebut rampa simanunggaling. Setelah itu mereka menjalankan wasiat bapaknya, mencari muara batang air yang bertentangan. Bersualah di Kota Nopan, kampungnya dinamai si Nengu.

Si Baitang tinggal di Nengu, keturunannya kuria Si Ngengu, Tambangan dan Surumatinggi.Si Langkitang ke mudik, keturunannya kuria Tamiang, Manambin, Pakantan Lambah dan Pakantan Bukit.

Menurut Mangaraja Onggang Parlindungan

Di antara empat marga besar, Lubis, Siregar dan Harahap adalah marga asli orang Batak. Marga Lubis berasal dari pantai selatan Danau Toba tepatnya dekat Balige dan di Uluan dekat Narumonda. Sebagian kecil orang-orang Marga Lubis mulai meninggalkan tempat itu pada abad 5 M.Mereka adalah kelompok pembakar hutan. Pembakaran hutan menjadi kesenangan mereka, karena selain tanah bercampur abu subur, juga didapatkan daging-daging terbakar hangus. Karena membalas membersihkan gulma, yang biasanya mulai tumbuh pada tahun ketiga, mereka memilih membakar hutan selanjutnya. Demikianlah mereka bergerak dari Humbang, Pahae, Sipirok dan Angkola.

Setelah 15 generasi mereka tiba di Mandailing Selatan.Penduduk awal Mandailing, Angkola dan Sipirok adalah orang Lubu.Mereka adalah orang Dravidic dari Bukit Satpuri India Selatan sebelah barat. Karena terdesak invasi Aria, mereka migrasi ke Nusantara. Itulah yang menjadi orang-orang Kubu, Sakai, Semang, Andaman, Nikobar dan banyak lagi. Mereka telah mendarat di Muara Batang Toru sebelum nenek moyang orang Batak mendarat di muara Batang Sorkam.

Orang-orang Lubis menghalau orang-orang Lubu.Orang-orang Lubu tidak berdaya. Tetapi setelah 15 generasi, Lubis yang tiba di Muara Sipongi berhadapan dengan Minangkabau yang datang dari kaki gunung kembar Merapi Singgalang.Langkah Lubis mentok, ke barat berhadapan dengan laut, ke timur berhadapan dengan Harahap yang sudah 2 generasi tiba di hulu-hulu sungai antara Rokan dan Asahan.Kembali ke utara tidak mungkin. Di DAS Batang Gadis akan berhadap dengan campuran yang kemudian menjadi Marga Nasution dengan elemen Bugisnya yang siap melemparkan Lubis ke api.

Mentok, Lubis memutuskan untuk menetap dan belajar bertani. Mencabuti alang-alang di ladang, menggali selokan-selokan untuk mengaliri sawah.

Musnahnya Lubis Toba

Menurut Mangaraja Onggang Parlindungan, sesungguhnya Marga Lubis di Toba masih lebih banyak daripada di selatan.Marga Lubis Toba musnah pada tahun 1818 pada saat Perang Padri.

No comments: