Thursday, August 03, 2017

Antara Minangkabau dan Melayu

* Sebuah Hipotesis Etnografis *

Masyarakat yang mendiami perbatasan Riau dengan Sumatera Barat memiliki budaya yang hampir sama dengan masyarakat Sumatera Barat. Bahasa yang digunakan sama-sama berujung ‘o, ek, eh dan sebagainya yang kalau diperbandingkan persamaan antara bahasa Melayu mereka dengan bahasa Melayu Riau/Johor lebih jauh dibandingkan persamaan dengan bahasa Minangkabau.

Selain itu, adat istiadat mereka pun lebih banyak kesamaan dengan adat istiadat Minangkabau daripada dengan Riau Lingga.

Berdasarkan dua fakta itu sajalah, wajarlah kalau ada yang mengatakan bahwa masyarakat Melayu yang ada di perbatasan Riau Sumatera Barat itu adalah bagian dari masyarakat Minangkabau. Tetapi, klaim itu ditolak tegas oleh mereka. Orang-orang Kuantan dan Kampar misalnya mengatakan dengan tegas bahwa mereka adalah Melayu, bukan Minangkabau.

 

Klaim siapa yang benar?

 

Siapa Melayu?

Suku Melayu adalah suku dari kaum bangsawan penguasa wilayah-wilayah di sepanjang pesisir Sumatera, Semenanjung Melaka dan Kalimantan. Suku ini merupakan keturunan dari maharaja besar Keling (India Selatan) yang menaklukkan Asia Tenggara. Secara mitos dikatakan bahwa mereka keluar dari kawah Gunung Emas (gunung yang dari jauh lerengnya berwarna kuning keemasan yakni Gunung Merapi/Dempo di Lahat Sumatera Selatan) yang merupakan anak dari titisan Dewa dari langit yang menikahi Dewi Bumi. Meloncat keluar dari kawah hingga tiba di puncak Gunung Merapi Mahameru. Menuruni puncak tersebut hingga tiba di Bukit Siguntang, turun hingga tiba di Palembang (lembang = lembah) dari Bukit tersebut hingga dirajakan di padang yang ada di lembang tersebut yang disebut Padang Penjaringan. Kampung tersebut merupakan Kampung istimewa karena dipagari oleh gunung-gunung (Merapi dan Dempo) sehingga disebut dipagari alam (Pagar Alam). Di kampung itu ulu Sungai Melayu. Dari sungai tersebut, mereka menyusuri Sungai Lematang hingga tiba ke Muara Tatang yang di tengahnya terdapat Pulau Kemarau, tempat kampung Siguntang-guntang yang dulunya dinamai Sriwijaya. Dari muara, berpencarlah kaum Melayu ini ke Pagaruyung, Bintan Singapura dan Tanjungpura.

 

Suku Melayu sebagai kaum bangsawan masih terbatas pada kaum-kaum kerajaan di istana raja Pagaruyung (Melayu Kampung Dalam), Ampek Angkek Agam, Sungai Pagu, Lunang, Indrapura, Air Bangis sebagainya.

 

Tetapi di luar Pagaruyung, suku Melayu tidak terbatas pada kaum bangsawan saja. Hal ini bermula ketika Raja Kecil Besar Malaka masuk islamlah dan dinobatkan menjadi Sultan Muhammad Syah. Raja ini mengumumkan bahwa siapa yang masuk Islam menjadi kaumnya (Melayu), sebaliknya kaum raja yang tidak masuk Islam keluar dari kaumnya (Melayu). Sejak itulah, Islam menjadi identik dengan Melayu. Masuk Islam berarti Masuk Melayu. Dengan kebesaran Melaka, maka menyebarlah revolusi kaidah etnografis tadi ke daerah jajahan Malaka, dan berlanjut kepada daerah-daerah jajahan kerajaan-kerajaan yang menganggap diri penerus Malaka.

 

Melayu bukan lagi kaum genetis, tetapi merupakan etnis berbasis budaya dengan prinsip-prinsip :

  • beragama Islam
  • menguasai bahasa Melayu
  • memiliki ciri-ciri budaya Melayu.

Ciri-ciri budaya Melayu tersebut adalah :

  1. Sirih-sirih, ini diartikan dengan sabar merendahkan diri dan sengaja memuliakan orang pemberani dan penawar.
  2. Kapur-kapur, diartikan menyatakan hati bersih terhadap sesuatu yang dihadapi , tapi jika perlu dapat pula marah dan melukai, tahan dilebur untuk tujuan yang baik.
  3. Gambir-gambir, diartikan sebagai keuletandan penguatan sesuatu.
  4. Pinang-pinang, diartikan sebagai turunan yang baik yang bersedia berbuat sesuatu dengan hati yang terbuka dengan segala kesungguhan.
  5. Tembakan-tembakan, diartikan sebagai orang Melayu itu rela berkorban.

 

Dari redefinisi Melayu tersebut, Melayu kemudian tidak terbatas kepada kaum raja-raja asal Siguntang, tetapi meluas ke rakyat Jelata beragama Islam di kemudian Melaka kemudian meluas pula pada semua yang masuk Islam pada kerajaan-kerajaan di pesisir Laut Melayu (Selat Malaka, perairan Riau Lingga, perairan Pulau Tujuh).

 

Melayu telah berkembang dari suku (klan), menjadi etnis, bangsa dan bahkan kemudian ras.

 

Oleh karenanya, orang Rao, Rokan, Kampar, Haru, Kuantan, Batang Hari, Asahan, Indrapura dan sebagainya meskipun berkaitan keturunan, adat dan bahasa dengan Minangkabau, maka mereka pun berhak menjadi Melayu.

 

Siapa Minangkabau?

Minangkabau berasal dari kata menang kerbau. Sebuah peristiwa historis yang terjadi sehabis Majapahit mengalahkan Pasai, Singapura, Tanjungpura dan negeri-negeri lainnya di Nusantara. Pagaruyung menjadi satu-satunya kerajaan yang belum takluk. Dan untuk penaklukan terakhir ini, Majapahit memiliki ambisi jangka panjang, yakni persaingan antara Jawa dan Melayu yang telah berlangsung berabad-abad dimenangkan secara abadi oleh Majapahit. Kekuatan senjata bersifat relatif, tetapi kekuatan budaya bersifat permanen.

 

Orang-orang Melayu (Malaka) di belakang hari mengakui dan menghormati Pasai sebagai pusat agama Islam. Meski Malaka lebih kuat dari persenjataan dan lebih makmur dari kekayaan, Pasai tetap dihormati sebagai negeri kaum ulama dan cerdik pandai.

 

Demikian pula orang-orang Melayu masa itu, Pagaruyung, Singapura dan Tanjungpura menganggap mereka lebih unggul dari Majapahit karena merupakan turunan dari penakluk Asia Selatan dan Asia Tenggara sementara Majapahit karena turunan dari penakluk lokal yang tidak pernah berkuasa abadi dan bahkan penguasaan dari klan bangsawan Melayu lebih eksis. 

 

Secara ekonomi, wangsa Melayu lebih berjaya dalam membina pusat ekonomi. Mereka berhasil membangun bandar-bandar yang menjadi pusat perdagangan di Asia Tenggara.

 

Walhasil, kemenangan adu kerbau menjadi sangat penting bagi Majapahit. Tetapi lagi-lagi, Majapahit menelan kekalahan. Mereka harus terima perjanjian bahwa sejak saat itu, raja-raja Jawa harus berpakaian cara perempuan.

 

Kemenangan tersebut sangat berarti bagi Pagaruyung, bahwa meskipun wilayah mereka hanya tinggal sedikit yakni Tigaluhak (Agam, Tanah Datar, Limapuluh), Sijunjung, Kuantan, Barus (Solok) dan Pariaman, tetapi mereka mampu mengungguli Majapahit. Oleh karenanya, mereka selalu membanggakan diri sebagai orang yang memenangi kerbau (Minangkabau).

 

Orang Minangkabau saat itu masih bertahan dengan kepercayaan Hindunya, sementara daerah sekelilingnya telah Melayu. Rao, Rokan, Kampar, Haru, Airbangis, Natar, Batahan di utara, Indrapura, Jambi, Palembang, Tigalaras, Sangir, Batanghari di selatan, Indragiri, Tungkal di timur. Syekh Burhanuddin dari Ulakan kemudian berhasil menemukan adaptasi formula syariat Islam ke dalam adat Minangkabau sehingga kemudian Minangkabau memiliki identitas yang sama dengan Melayu. Jika di Melayu, Melayu adalah Islam, maka di Minangkabau, maka Minangkabau juga berarti Islam.

 

Minangkabau dalam Alam Melayu

Bagaimanapun, dalam pergaulan internasional masa-masa itu, keidentikan Melayu dengan Islam juga diakui oleh orang Pagaruyung. Bagaimana pun, dalam pergaulan internasional, Minangkabau merupakan bagian dari Melayu. Tetapi di dalam lingkungan alam Melayu sendiri di Sumatera, Minangkabau kemudian merupakan etnis yang istimewa. Dalam alam Melayu Sumatera, Melayu dapat didefinisikan sebagai Melayu yang non Minangkabau.

 

Minangkabau dan propinsi Sumatera Barat

Perpecahan Melayu dan Minangkabau di Sumatera menjadi tajam setelah kegagalan PRRI. Masyarakat Melayu di Riau dan Jambi mempertegas kemelayuan mereka sehingga kemudian Minangkabau adalah identik sebagai masyarakat Sumatera Barat. Maka orang Rao, Air Bangis, Hulu Kampar, Indrapura, Tigalaras, Hulu Batang Hari adalah Minang, orang Kuantan adalah Melayu walaupun dari segi perbandingan bahasa, bahasa Kuantan lebih dekat ke bahasa Minang daripada bahasa Rao atau pun bahasa Kotobaru Tigalaras.

No comments: