Sunday, August 06, 2017

Antara Mandailing dan Batak

*Sebuah hipotesis etnografis*

Suku bangsa Mandailing merupakan suku bangsa yang mendiami kawasan segitiga perbatasan Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Riau.

Bahasa Mandailing

Bahasa Mandailing merupakan cabang dari rumpun bahasa Mandailing – Angkola yang disebut juga Rumpun Tapanuli Selatan yang merupakan sub rumpun dari Rumpun Tapanuli (bersama-sama bahasa Tapanuli Utara : Toba, Silindung, Samosir, Humbang) yang cabang dari rumpun Batak Selatan (bersama bahasa Simalungun).

Tanah Mandailing

Kawasan Mandailing yang didiami oleh Suku Bangsa Mandailing terbagi atas 2 (dua) bagian, yakni :

  1. Mandailing Godang dan Patang Natal
  2. Mandailing Ulu dan Pakantan

Pada masa Baginda Mangareja Enda, Mandailing Godang dibagi 2, yakni :

  1. Mandailing Julu, merupakan wilayah untuk Sutan Kumala sang yang dipertuan.
  2. Mandailing Jae, merupakan wilayah yang tinggal untuk Baginda Mangareja Enda.

Akibat Perang Padang Garugur empat raja Mandailing lari :

  1. Sutan Perampuan ke Haiti Tambusai.
  2. Raja Iro Rongit Sigongonan ke Haiti Tambusai
  3. Raja Gumanti Porang ke Sontang Rao (Tuanku Laras Sontang)
  4. Raja Sordang Nagori ke Cubadak Rao.
  5. Sutan Mandeda ke Hutabargot.
  6. Maharaja Tinaja di Mompang.

Adat Mandailing

Suku Mandailing merupakan suku yang unik di Sumatera, karena menganut adat manjujur dan adat sumando.

  1. Adat manjujur (patrilineal) merupakan adat yang umum digunakan oleh Suku Mandailing.
  2. Adat sumando (matrilineal) merupakan adat yang dipakai Suku Mandailing yang mendiami Rao, yakni di Nagari Cubadak dan Nagari Sontang.

Hubungan Mandailing dengan Batak

Setelah Traktat London, 1824, Natal hingga Sibolga diserahkan Inggris kepada Belanda. Mulanya wilayah ini dimasukkan ke Karesidenan Minangkabau. C.Th.Elout selaku Komisaris Jenderal memisahkan wilayah Natal dan sekitarnya dari Karesidenan Minangkabau. Pada mulanya nama karesidenan tersebut diusulkan Karesidenan Batak, tetapi orang-orang Mandailing berkeberatan sehingga akhirnya digunakan nama Karesidenan Tapanuli.

Hubungan Mandailing dengan Batak Islam

Orang Mandailing menyatakan mereka bukanlah Batak Muslim. Masalah ini timbul berkaitan dengan tanah pekuburan Mandailing di Sungai Mati Medan. Orang Mandailing menolak hak penguburan bagi orang Muslim yang mengaku Batak. Persoalan ini tidak mampu diselesaikan pemerintah Belanda sehingga diajukan ke Mahkamah Syariah Deli, yang memutuskan pemakaman tersebut hanyalah untuk orang Mandailing. Perkara tersebut kemudian dijadikan dalil bahwa Batak dan Mandailing adalah bangsa yang berbeda.

Tokoh pelopor koran Indonesia, Dja Endar Moeda, dalam tulisannya Tambo Radja-Radja Mandailing menuliskan bahwa semenjak keradjaan Baginda Mangradja Enda dan Sang Jang di Pertoean, sampai sekarang, termasjhoerlah tanah Mandailing sampai kemana mana, hingga orang Batak, jang pergi merantau kemana mana menjeboetkan jang ia orang Mandailing djoea, sebab pada negeri lain lain, orang beloem kenal.

Mandailing sebagai Sub-etnis Batak

Pada masa Dja Endar Moeda, Mandailing lebih dikenal daripada Batak. Saat ini, di Indonesia kenyataannya malah sebaliknya. Banyak orang Indonesia yang tidak kenal dengan Mandailing. Di antara yang kenal pun memiliki persepsi yang salah, yakni :

  1. Seluruh Batak Muslim adalah Mandailing.
  2. Seluruh penduduk Tapanuli Selatan adalah Mandailing.

Semenjak Orde Baru, dalam rangka memerangi ideologi-ideologi kepartaian dan dalam rangka memenangkan Golkar, Soeharto menggalakkan paguyuban-paguyuban kedaerahan. Di samping untung dari segi finansial memiliki bantuan-bantuan seperti rumah adat, pembinaan kebudayaan, paguyuban-paguyuban kedaerahan juga merupakan pintu untuk merebut posisi di pemerintahan. Semakin besar populasinya, semakin tinggi nilai paguyubannya. Maka hiduplah organisasi seperti Kerukunan Rakyat Indonesia Sulawesi Selatan (KRISS), Ikatan Keluarga Minang dan sebagainya.

Ikatan Keluarga Batak merupakan salah satu paguyuban daerah yang menonjol. Paguyuban ini berdasarkan kabupaten-kabupaten non Melayu – Nias di Sumatera Utara pra reformasi yakni : Karo (Tanah Karo), Pakpak (Dairi), Simalungun (Simalungun), Toba (Tapanuli Utara) dan Angkola Mandailing (Tapanuli Selatan).

Dalam paguyuban tersebut, Mandailing adalah subetnis dari Batak.

> Etnografis Sumatera

No comments: